JEJAK SANG PEJUANG


Drs. Syamsuddin Makmun, QH.

KM. Krens Lotim. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” (Bung Karno).

Drs. Syamsuddin Makmun, QH. adalah seorang pejuang yang patut ditauladani oleh setiap kita.  Mengapa tidak, dia adalah dalah tokoh yang pantang menyerah dalam hidupnya.

Awalnya Pak Syamsuddin, kurang berkenan menceritakan jejak langkahnya, karena merasa apa yang dia abdikan untuk negara tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka-mereka bisa menjadi hebat, beliau merasa hanya seorang abdi sukarela. tapi dengan sedikit rayuan bahwa ini akan menjadi cerita untuk anak cucu nantinya beliau dengan keterbatasannya berkenan menceritak sedikit dari pengalaman pribadinya.

Motivasi beliau untuk mendarmabaktikan jiwanya pada Republik dan Kemerdekaan ini, dimulai saat pendidikan di Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Mataram  menjadi seorang guru di madrasah sambil kuliah. Dengan keterbatasan ekonomi orang tua dan keluarga membuatnya hanya sampai di jenjang S1. Setelah menyelesaikan pendidikan, beliau tidak mempunyai pendidikan yang tetap dan beliau diberitahu akan ada program da’i transmigrasi ke Sulawesi pada tahun 1993, maka beliaupun berangkat bersama beberapa orang teman dari NTB.

Program da’i transmigrasi ini diprogramkan oleh Majelis Ulama Indonesia bekerjasama dengan Departemen Transmigrasi RI. Bersama beberap temannya ditempat di daerah terpencil yang tidak bisa saling mengetahui informasi masing – masing disebabkan jarang ada transportasi ke tempat tersebut.

Layaknya sang pejuang kemerdekaan yang tidak pernah ada henti tanpa perjuangan. Setiap hari dihadapkan dengan masalah – masalah, tidak hanya masalah yang berkaitan dengan agama yang tugas pokoknya, tetapi juga masalah secara umum.

Dari sinilah timbul rasa nasionalis beliau bangkit dan rasa bangga sebagai bangsa untuk bisa merdeka. Merdeka dalam arti tidak selalu mengharap bantuan dari orang lain, tetapi perlu ada kegigihan dari diri kita untuk mendapatkan sesuap nasi.

Pengabdiannya sebagai da’i transmigrasi ditekuni selama 3 tahun ( 1991 – 1993 ) kemudian pulang ke Lombok meninggalkan lahan pekarangnya kurang lebih 6 ha yang ditanami buah-buahan yang siap panen. Rupanya sekembalinya itu tidak lagi diberikan ijin oleh keluarga karena jarak yang terlalu jauh sehingga keluarga memutuskan harus tinggal di Lombok.

Kemudian pada tahun 2000 berangkat lagi ke Pulau Batam dengan beberapa teman yang siap mendampingi beliau menjadi da’i melalui program PMB ( Persatuan Muballigh Batam ) atas prakarsa Majelis Ulama Indonesia, Departemen Agama dan PMB sendiri  disamping sebagai penghulu penyuluh agama ditempat itu.

Kendalanya selama berada di Batam, beliau selalu mengatakan tidak sebanding pendapatan dengan penghasilan yang kita terima. Karena di rumah meninggalkan anak dan isteri yang membutuhkan makan dan minum, maka beliaupun  hanya bertahan selama 1 ( satu ) tahun dari tahun 2000-2001.

Sekembalinya dari Batam, beliau dipercaya menjadi pengasuh Panti Asuhan Birrul Walidain yang sudah berjalan seiring dengan berdirinya Pondok Pesantren tahun 2000 silam.

Perjalanan hari demi hari di Panti asuhan membuatnya agak betah bersama anak yatim piatu ditempat itu. Saat ini anak asuh di panti berjumlah 64 orang dengan 5 orang pengasuh termasuk beliau sendiri.

(MA)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s