JELANG LIBUR PUASA DAN IDUL FITRI


KM. Krens. Lotim. Bulan Ramdhan tinggal beberapa hari lagi, namun suasana lebaran sudah terlihat dimana – mana. Ada yang memasang gerbang disetiap sudut desa maupun dusun bahkan setiap RT ada gapura yang menandai lebaran tiba.

Dalam suatu penjelasannya, KH. Quraisy Shihab menyatakan bahwa kata lebaran dasarnya adalah “lebar”. Kata lebar menunjukkan arti bahwa sesuatu itu tidak lagi sempit, tidak terkekang, tidak terikat, tidak terbebani, bebas dan lain sebagainya. Oleh karena itu, kata kejadian lebaran merujuk pada suatu makna bahwa manusia sudah terlepas dari beban yang melingkupi dirinya, manusia terbebas dari keterikatannya. Makna-makna ini dapat bermakna dalam konteks positif maupun negatif.

Di Ponpes Birrul Walidain NW Rensing misalnya, menghadapi libur lebaran dan idul fitri setiap sekolah/ madrasah sudah mengadakan pesantren kilat dengan bimbingan guru masing – masing dengan materi yang berbeda pula. Harapan yang ingin dicapai tentunya mengacu pada hikmah puasa dan idul fitri.

Di MA Birrul Walidain diberikan oleh Ustadz. H. Bakar Hamzah, S. Ag ( Kepala Madrasah ), beliau menyampaikan antara lain : ” Ibadah puasa pada bulan Ramadhan telah melatih kita untuk menjadi muslim yang bertakwa. Takwa dalam konteks fisik maupun fisik, secara tekstual maupun kontekstual. Takwa yang mengembalikan kita pada fitrah kita sebagai manusia dan makhluk ciptaan Allah. Dengan puasa kita me-”reset” kondisi fisik dan psikis kita agar tetap sesuai dengan jalan yang telah digariskan oleh Allah swt. Bahkan puasa mengembalikan kita pada pemahaman bahwa antara teks (nash) dengan konteks tidaklah berlawanan sehingga ketakwaan kita tidak kehilangan konteks, yaitu menumbuhkan kesadaran personal dan kesadaran sosial

Sementara itu H. Masban Usman, S. Ag ( Wakil Kepala Madrasah Urusan Humas menyampaikan : ” Seringkali dalam hidup kita hanya mementingkan diri sendiri dan merugikan orang lain, kita lebih memperhatikan orang lain, mencemooh orang lain, sementara kita tidak pernah memperhatikan diri sendiri. Keegoisan demi keegoisan telah membutakan mata hati kita untuk melihat kebenaran. Kita dibutakan oleh kebesaran diri kita, kepandaian kita, kekayaan kita, merasa unggul di hadapan orang lain. Dengan segala kelebihan itu, kita menjadi angkuh, bahkan untuk menerima kebenaran yang diungkapkan oleh orang yang lebih rendah dari kita.

Mudah – mudahan menghadapi lebaran tahun ini kita bisa menjadi orang tergolong muttaqin.

Mari kita hormati hari yang fitri ini dengan saling berbagi maaf dan berbagi kebahagiaan. Kebahagiaan bukan saja karena kita telah menyelesaikan puasa selama satu bulan, tetapi juga karena kesadaran dan kesabaran kita untuk memulai lagi kehidupan untuk menjadi lebih baik hingga kita bertemu kembali dengan Ramadhan tahun depan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

(MA).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s