TGB SABET GELAR TOKOH PERUBAHAN 2010


TGH.Dr.M.Zainul Majdi,MA (Gubernur NTB)

Republika kembali memilih pribadi-pribadi yang telah meniupkan angin perubahan pada bangsa ini. Dari ratusan nama yang diusulkan oleh para stakeholder Republika, kami memilih tujuh orang sebagai Tokoh Perubahan Republika 2010. Mereka adalah Asma Nadia, Joko Widodo, Jusuf Kalla, Soelaiman Budi Sunarto, Ustaz Fadhlan, Zainul Majdi, dan Zulkifli Hasan. Apa yang telah mereka lakukan sehingga terpilih menjadi Tokoh Perubahan Republika? Selama sepekan ini, kami akan menurun kan kisah perjuangan mereka dalam melakukan perubahan.

Lahir dan besar di kalangan pesantren telah membawa M Zainul Majdi kaya akan ilmu agama Islam. Setelah menjalani sekolah dasar umum di Mataram, Nusa Tenggara Barat, selama enam tahun, dia kemudian menghabiskan masa studinya dengan mempelajari ilmu agama mulai dari tingkat dasar di Lombok, sampai master di Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir.

Berbekal dengan ilmu agama yang dikantonginya, pada 1997, dia memutuskan menjadi mubaligh, berdakwah dari kampung ke kampung seusai menyelesaikan studi S-1 di al-Azhar. Tak heran bila kemudian gelar tuan guru melekat padanya. Tuan guru adalah gelar yang diberikan oleh masyarakat Lombok kepada seseorang yang memiliki ilmu agama tinggi, yakni ulama.

Oleh karena usianya masih muda, tambahan kata bajang (dari bahasa Sasak) pun melekat pada dirinya sehingga menjadi tuan guru bajang. Dunia dakwah bukan hal yang asing bagi Zainul. Kakeknya, Tuan Guru Haji Zainuddin Abdul Madjid, adalah ulama besar dan pendiri Nahdlatul Wathan yang merupakan organisasi sosial keagamaan dan pendidikan berpengaruh luas di Pulau Lombok dan Sumbawa.

Sebagai tokoh agama sekaligus tokoh masyarakat, kakeknya menjadi anggota Konstituante mewakili NTB dari unsur Masyumi. Adalah Yusril Ihza Mahendra, pendiri dan mantan ketua umum Partai Bulan Bintang (PBB), yang mengajaknya untuk juga berkiprah di politik. ”Kakekmu adalah tokoh Masyumi dan beliau anggota Konstituante. Jadi, ayo kau juga bergabung dengan kami untuk menjadi wakil rakyat di DPR,” kata Zainul, mengingat kembali ucapan Yusril yang kemudian diikutinya dan mengantarnya ke kursi DPR periode 2004-2009.

PBB adalah partai yang berdiri di era reformasi dan mengklaim sebagai partainya warga Masyumi. Kursi dewan hanya didudukinya selama empat tahun. Sebelum habis masa keanggotaannya di parlemen, Zainul mengikuti kontestasi pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung gubernur NTB pada Juli 2008. Ia berpasangan dengan Badrul Munir, mantan birokrat di NTB.

Keduanya diusung oleh PBB dan PKS. Mereka akhirnya mendapat dukungan suara rakyat terbanyak dibandingkan ketiga pasangan calon lainnya. Rabu, 17 September 2008, menjadi lembaran baru dalam hidup Zainul yang resmi dilantik menjadi gubernur NTB periode 2008-2013.

“Proses pemikiran saya sebelum memastikan maju dalam pencalonan kurang lebih enam bulan. Pada tiga bulan pertama saya bertanya kepada tokoh-tokoh agama dan masyarakat NTB. Lalu, pada tiga bulan berikutnya saya tanya lagi kepada mereka apakah memang pencalonan saya ini benar-benar datang dari aspirasi masyarakat. Setelah mendapat jawabannya maka saya bismillah maju,” ucap Zainul.

Meski telah menjadi gubernur, kegiatan dakwah tetap dijalankannya. Hari libur di akhir pekan hampir selalu diisi oleh Zainul untuk berceramah di pengajian-pengajian. “Latar belakang saya kan ustaz, jadi ya harus tetap berceramah di luar tugas sehari-hari. Hal ini saya syukuri, karena inilah kesempatan saya untuk berkomunikasi langsung dengan masyarakat. Sisi baiknya seperti itu, membantu pelaksanaan tugas sebagai gubernur,” jelasnya.

Tentu saja sedikit sekali waktu yang tersisa buat keluarga. Itu tak hanya dirasakan olehnya, tapi juga oleh anak-anaknya. Sampai-sampai Zahwa dan Zahra, dua anak perempuannya, memintanya untuk berjanji tidak lagi menjadi gubernur setelah masa jabatan habis. “Ini tanda anak-anak juga merasakan waktu ayahnya dengan mereka semakin berkurang,” kata Zainul.

Namun, Zainul juga tak mau anak-anaknya kehilangan masa-masa bahagia bersama ayahnya. Setiap ada kesempatan di rumah, dia selalu mengajak shalat berjamaah. “Saya juga meminta anak-anak menceritakan apa-apa saja kejadian yang mereka alami di sekolah. Juga mengulang bacaan-bacaan Alquran,” ujarnya.

Untuk mendekatkan diri dengan keluarga, istri, dan keempat anaknya, Zainul punya kebiasaan khusus yakni tidur bersama. “Kita tidur satu kamar bareng-bareng. Kita pasang kasur di bawah dan tidur ramai-ramai hehehe …” ungkap penggemar olahraga pingpong dan futsal ini.

Perjalanan karier Zainul, mulai dari tuan guru hingga menjadi gubernur diakuinya banyak terinspirasi dari sosok kakeknya yang merupakan tokoh masyarakat NTB. “Beliau itu tak pernah berhenti mengajar sampai wafatnya di usia ke-102 tahun. Ini juga yang menginspirasi saya terjun ke dunia pendidikan dan dakwah,” katanya.

Zainul juga terkesan dengan prinsip pengajaran dari kakeknya yang disebutnya sebagai filosofi matahari: menyinari sekaligus menggerakkan. Menyinari dimaknai memberi pencerahan kepada orang lain, sementara menggerakkan adalah membuat orang lain terdorong untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat.

Selain itu, lanjut Zainul, keterkesanannya pada sosok sang kakek adalah prinsip pengajarannya yang menekankan keislaman sekaligus kebangsaan. “Bagi beliau, keduanya bagai dua sisi mata uang. Nahdlatul Wathan yang didirikannya memperjuangkan agama dan juga bangsa. Tak ada dikotomi.”

“Dan tentu saja peran ayah dan ibu saya (HM Djalaluddin SH dan Hj Siti Rauhun Zainuddin Abdul Madjid) secara langsung sangat besar. Di mata saya, ayah adalah seorang birokrat yang menempatkan jabatan pada dirinya sebagai lahan pengabdian. Insya Allah menjadi pedoman buat saya,” kata Zainul. “Sedangkan umi adalah seorang perempuan yang daya juangnya luar biasa,” lanjut anak ke-3 dari enam bersaudara ini.

Dalam keluarga besarnya, Zainul tidak sendirian berkarier hingga menjadi pejabat publik. Kakak tertuanya, Hj Siti Rochmi, adalah ketua DPRD Lombok Timur. Sedangkan kakak nomor duanya, M Syamsul Lutfi, adalah wakil Bupati Lombok Timur (2008-2013). “Dialah (Syamsul) yang menurut saya punya talenta politik,” kata Zainul.

Dua setengah tahun memimpin NTB, Zainul banyak memberikan prestasi. Angka kemiskinan berkurang 2,36 persen atau rata-rata 1,2 persen per tahun. Sebagai perbandingan, penurunan angka kemiskinan nasional masih di bawah satu persen setahun. “Untuk bisa turun hingga dua persen setahun memang masih berat, tapi kita mengarah ke sana,” kata lulusan S1 hingga S3 Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir, ini.

Dalam pemerintahannya yang baru setengah periode, Tuan Guru Bajang (TGB) sapaan akrab zainul juga berhasil mengangkat pertumbuhan ekonomi NTB yang di atas rata-rata nasional per tahunnya yakni 11,3 persen (nasional enam persen). Tingkat pengangguran juga bisa ditekan di bawah rata-rata nasional yakni 5,6 persen (nasional 6,7 persen).

Atas pencapaian-pencapaian itu, beberapa penghargaan diterimanya. “Penghargaan itu diberikan kepada saya sebagai ex officio gubernur. Bukan karena kapasitas pribadi, tapi masyarakat NTB secara kolektif,” ujarnya merendah.

Masih banyak memang pekerjaan rumah bagi Zainul, terutama dalam mengentaskan angka kemiskinan di daerahnya. Namun, dia yakin itu bisa dituntaskannya secara perlahan. “Saya optimistis dengan NTB ke depannya,” ujar Zainul. Maka pantaslah apa yang menjadi usahanya selama ini mengentaskan kemiskinan di NTB mendapat apresiasi dari  Republika sebagai tokoh Perubahan untuk tingkat nasional.

Sumber : www.koran.republika.co.id

NR

One thought on “TGB SABET GELAR TOKOH PERUBAHAN 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s