Melihat Usaha “Pahlawan Pangan” Membasmi Hama Padi ( dari baygon hingga solar)


KM.Krens. Lotim, Sabtu, 26 Maret 2011

Perjuangan para petani atau “Pahlawan Pangan” dalam memperjuangkan ketahanan pangan di negeri  ini sangatlah besar terutama petani padi, menghadapi berbagai cobaan baik cobaan dari alam sendiri seperti perubahan iklim yang kian belum jelas berakhir, hama menyerang, harga anjlok, harga pupuk melambung, biaya  produksi mahal dan sebagainya. Meskipun demikian cobaannya, para pahlawan ini tidak mau putus harap sekali gagal terus dicoba untuk kedua atau ketiga kalinya.

Moto “Era et labora” yang berari Berusaha dan Berdo’a dan semangat padang pasir “man jadda wajada” yang berarti “siapa yang bersungguh sungguh pasti dapat” setidaknya itulah yang menjadi spirit bekerja tanpa mengenal putus asa atau berhenti bekerja, semangat para petani di Lombok Timur khusunya yang ada Desa Rensing berjuang memberantas hama padi mereka, yaitu Penyakit tungro dan penyakit kerdil rumput keduanya menimbulkan dampak pada padi menjadi kerdil dan kuning, penyakit tungro disebabkan oleh dua jenis virus yaitu “Rice Tungro Bacilliform Virus” (RTBV) dan “Rice Tungro Spherical Virus” (RTSV). Penyakit ini disebabkan oleh wereng hijau (Nephotettix virescens) sebagai paktor utamanya.

Pada masa tanam kedua ini para “pahlawan pangan” yang menjadi gelar petani ini hanya trial and error atau  masa coba-coba menanam padi siapa tahu rejeki lagi aji mumpung namun apa yang terjadi, setelah mengeluarkan banyak biaya dari penggarapan tanah, penanaman, pemupukan, penyemprotan hanya berbuah hasil “KUNING” kalau dulu  padi menguning itu sudah pasti masa panen akan tiba namun kini bukan itu yang terjadi padi menguning bukan berarti panen tapi GAGAL panen. “ Biaya banyak tak masalah asal usaha tak kalah” kata Ali petani muda ini optimis bahwa hama padinya akan mati karena berbagai usaha sudah ia lakukan.

Anehnya padi saat ini mulai berumur 3 minggu hingga 1 bulan sudah mulai terjangkiti penyakit ini. Berbagai upaya telah dilakukan oleh para petani dalam mengatasi dan membasmi hama padinya mulai dari memilih jenis pupuk, pada awalnya banyak petani tidak berani menggunakan pupuk yang memiliki kadar nitrogen tinggi sehingga beralih menggunakan pupuk lain yang memiliki kadar nitrogen rendah karena ada anggapan pupuklah yang juga menjadi salah satu penyebab timbulnya hama tersebut, jadi tak heran kalau ada petani padinya sudah berumur hampir dua bulan belum berani menaburkan pupuk pada padinya karena takut setelah diberi pupuk langsung kuning tapi dia hanya memakai cara alami dengan menaburkan kotoran tahi sapi.

Saleh petani asal Rensing Bat mengatakan kalau dia menggunakan racun nyamuk batangan ’baygon’ dalam 1 tangki, minimal 2 batang yang ditumbuk untuk dipakai nyemprot agar virus hama tersebut mati seperti nyamuk mati berguguran. Halil, petani yang satu ini menggunakan putasium untuk disemprotkan ke padi, ada juga petani yang memakai bahan bakar minyak yaitu solar di tumpahkan saat mengairi sawahnya.

Berbeda lagi dengan petani H. Bakar dari 1,5 hektar areal sawah yang ia tanami nyaris tidak ada yang luput dari serangan hama ganas ini meski sudah berumur sejak beumur 2 minggu, iapun pasrah setelah melakukan pemupukan ataupun penyemprotan. Akhirnya ia memutuskan untuk merusaknya dan membajak kembali sawahnya dan di tanami kembali dengan ketan, varietas ketan pelita adalah jenis padi yang tergolong tahan penyakit kuning. Meski varietas ketan usianya agak lama 4 bulan namun tidak menghalangi niatnya  untuk menanam padi lagi.

Memang petani saat ini sedang menghadapi cobaan luar biasa namun petani di dusun Rensing Bat tak pernah mau berhenti berusaha apalagi jenuh dalam merawat padi kebanggaan mereka. Meski sudah terjangkiti hama “kuning” namun petani di dusun ini terus berusaha dengan melakukan penyemprotan berulang kali hingga 7-10 kali sejak tanam, para petani sedang menguji kelebihan atau keunggulan insektisida maupun pestisida. Ada petani harus rela membeli insektisida bermerek amistar top dan alika ke kecamatan jerowaru 10 kilo meter di wilayah selatan. ada juga yang lagi trend sekarang yaitu Virtako yang katanya sangat manjur untuk penyakit kuning harga per botol kecilnya Rp. 100.000 rupiah. Walau mahal petani tak mau membiarkan si kuning melahap padi mereka dengan sewenang-wenang.

Kini para petani di dusun ini hanya menanti padinya berharap dari sisa-sisa santapan si kuning, setelah banyak cara yang dilakukan untuk mengendalikan penyakit kuning ini, ada yang sembuh ada juga yang kronis, namun petani hanya berharap kepada Allah sang pencipta mahluk dapat berpihak padanya. Dan dengan hasil padi yang didapat bisa menambah stock persediaan padi sebagai bahan makanan selama satu tahun ke depan.

Dan akhirnya saya ingin, anda ingin tapi sesungguhnya Allah lah yang maha menghendaki segalanya.   (nr_dien)

3 thoughts on “Melihat Usaha “Pahlawan Pangan” Membasmi Hama Padi ( dari baygon hingga solar)

  1. musim-musim ini keluargaku selalu mengeluh karena sebuah pengyakit yang disebabkan virus yang membuat semua tanaman padi menguning sebelum waktunya…. udah panen gagal modal gak balik….
    malang sekali orang tua saya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s