SENIMAN TAMAN BUDAYA MATARAM BACA PUISI DI ATAS POHON BERINGIN


KM. Krens. Lotim ( Ahad, 20/3/2011)

Berpuisi : Winsa Prayitno (seniman Taman Budaya Mataram) saat membaca puisi diatas pohon beringin (18/3)

Hari Jum’at (malam sabtu,18/3)  lalu sekitar pukul 19.30 wita bertempat di komplek Yayasan Pondok Pesantren Birrul Walidain NW Rensing Kec. Sakra Barat Lombok Timur berlangsung acara malam pentas hiburan baca puisi dan musikalisasi puisi sebagai salah satu lokasi road show 14 hari baca puisi yang di gagas oleh Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PB NW) Pancor. Dalam kesempatan tersebut tampil sebagai pembaca puisi pertama adalah DR.Fauzan M. Pd, Pria kelahiran Lombok Utara yang menjabat sebagai Wakil Sekjen PB NW Pancor  ini memang sejak jadi mahasiswa dulu sudah tertarik di dunia seni terbukti Puisi berjudul Lautan Jilbab mampu menghipnotis penonton.

Isi puisnya yang mengandung nasehat religi dan gaya pambaca puisi yang menarik membuat penonton hening dan terpukau melihat aksi sang doctor ini. Setelah doctor Fauzan lalu kemudian tampil Bambang Sugianto, Seniman Taman Ismail Marzuki Jakarta, yang berpuisi mengisahkan tentang Mak (ibuku) dan Tuhan Saya, aksi seniman ibukota ini memang lain maklum levelnya udah tergolong seniman internasioanl karena sudah tampil membaca puisi di luar negeri dan tentu memiliki segudang pengalaman. Aksinya membuat penoton terpana dengan aksi dan isi puisi yang di bacakan nampak kesedihan diraut wajah penonton seakan ikut merenungi apa yang di bacakan oleh mas bambang. Giliran ketiga yang tampil adalah seorang pelajar putra seorang doctor yaitu Doktor Fauzan, yang kini sedang belajar di MAK Hamzanwadi Pancor kelas X ia bernama Muhammad Ikhsan Ramadhan, meski ia masih tergolong usia anak-anak, namun dengan aksinya membuat santriwati ponpes hususnya histeris maklum penampilannya gagah, aksi membaca puisinya menarik perhatian penonton lebih-lebih judul puisi yang ia bacakan adalah Tsunami.

Malam semakin larut pertunjukan semakin hangat dan seru setelah tampilnya selingan music yang di pandu oleh sang ahli biola M. Batua Amir. Laki-laki asal Plores yang kini tinggal di Selong ini memang selalu tampil dalam event-event besar Nahdlatul Wathan sehingga penonton tambah gairah dan rasa ngantuk pun sirna dalam seketika.

“Sebelum pembaca puisi terahir yang tak kalah hebatnya, marilah kita sambut  Meliana Hardianti pembaca puisi yang merupakan santri di MTs Birrul Walidain NW Rensing ini”  kata Abdu Rabbi Rasul Sayyaf Ali yang bertindak selaku Mastery of Ceremony (MC), seketika riuh tepuk tangan meriah dari penonton…. Siswi yang akrab dipanggil Lia ini memang suka menulis dan membaca puisi, ia tampil diatas panggung dengan memuaskan meski jarang baca puisi di panggung besar dan banyak penonton.

Setelah tampilnya Lia, pembaca puisi berikutnya adalah Winsa Prayitno seorang seniman senior Taman Budaya Mataram ia dinobatkan sebagai pembaca puisi pamungkas. Seniman yang satu ini namanya memang sudah tidak asing bagi seniman-seniman atau pencinta seni dan sastra di Nusa Tenggara Barat. Winsa demikian nama panggilannya telah malang melintang di dunia seni cukup lama dan sering melakukan edukasi pembacaan puisi ke sejumlah sekolah-sekolah. Penampilannya sederhana, pekerja keras dan seni tata panggungnya lumayan hebat, dua buah puisi yang dibawakan yaitu Damai dan politik cukup mengundang tawa dan goyang para penonton maklum ia satu-satunya tampil di halaman tidak diatas panggung. Ketika membaca puisi yang kedua berjudul Politik, Winsa yang malam itu memakai pakaian serba putih seakan menyindir kepada tokoh bangsa ini atas penderitaan rakyat dan sikap para pemimpin bangsa ini yang lupa kepada rakyatnya setelah naik ke kursi panasnya. Ditengah-tengah pembacaan puisi, ia langsung mendekati pohon beringin yang kebetulan berada dihalaman depan penggung lantas ia naik dan membaca puisi di atasnya. Aksinya sang seniman senior  ini disamping lucu juga cara membaca puisi juga tergolong unik terlihat dari gaya-gayanya yang menyedot perhatian ratusan penonton yang hadir menyaksikan malam itu. Aksi Winsa ini membuat para penonton bertepuk tangan dan sorak sorai kemudian mereka (penonton) berkumpul mengelilingi pohon beringin. Sesekali sebagian wajah Winsa tertutup oleh rambutnya yang panjang ketika disorot oleh lampu panggung. “benar-benar aksi yang spektakuler dan tidak pernah saya lihat sebelumnya aksi seorang pembaca puisi diatas pohon kayu seperti ini” ungkap salah seorang penonton. Acara pentas seni baca puisi ini berahir sekitar pukul 22.15 Wita. (nr_dien)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s