JANGAN BIARKAN ANAK JADI PEMALU !


Masalah dan solusi

KM. Krens.LotimRasa malu merupakan gejala psikologis yang sering muncul dalam diri individu bersifat naluriah dan alamiah artinya sudah merupakan aspek perilaku manusia yang bersifat bawaan dan senantiasa melekat dengan perikehidupan manusia. Dengan rasa malu manusia dapat mencapai tujuannya, tetapi dengan rasa malu juga menjadi hambatan dan masalah dalam prilakunya. Pada hakekatnya malu merupakan reaksi emosional manusia apabila ia merasa kekurangan atau ketidaksesuaian keadaan diri dan prilaku dengan lingkungannya.

Pada saat orang malu akan timbul berbagai reaksi baik yang bersifat positif maupun reaksi jelek atau negative. Reaksi positif orang malu akan berusaha mengatasinya dengan cara-cara yang benar dan memberikan kepuasan tapi kalau reaksi negative orang malu akan mengisolasi diri, selalu menyalahkan diri dan orang lain, bersikap serba salah bahkan bersikap diluar batas kewajaran.

Ada beberapa paktor yang menyebabkan anak menjadi pemalu :

  1. Kekeliruan persepsi baik terhadap diri dan lingkungan, misalnya dia menganggap dirinya sial sementara orang lain telah sukses.
  2. Perkembangan yang kurang matang, penampilannya tidak sesuai dengan tahapan perkembangannya misal si anak sudah dewasa namun masih bersikap seperti anak kecil
  3. Penilaian parsial, menilai diri sendiri dari satu aspek saja. Tidak pernah menilai kemapuan diri secara utuh.
  4. Keterbatasan kompetensi sosial, keterbatasan dalam melakukan sosialisasi maupun interaksi dengan orang lain misalnya kurang mampu bergaul dan berkomunikasi dengan orang lain.
  5. Pendidikan keluarga yang kurang menunjang, Orang tua jarang melakukan komunikasi, tidak pernah memberikan kasih sayang pada anaknya sehingga anak merasa sendiri dan ditinggal keluarga,perlakuan yang kurang baik serta tidak adanya keteladan dari orang tua.
  6. Lingkungan yang kurang kondusif, terjadi persaingan dan kesenjangan social yang tinggi, serta pergeseran nilai dan norma menyebabkan anak kurang berinteraksi dengan lingkungan sekitar akibatnya anak lebih banyak mengurung diri.

Sebagai orang tua melihat anak tumbuh dengan rasa malu dan menjadi pemalu dalam keluarga, sekolah maupun lingkungan akan menjadi beban tersendiri, dan tidak sedikit orang tua merasa kebingungan menghadapi sang buah hati yang sangan pemalu dalam berinteraksi dengan orang lain. Jangankan menghadapi orang asing, untuk bermain dengan teman-teman sebaya saja dia bisa saja merasa enggan.

Mengahadapi kenyataan tersebut sebagai orang tua jangan pernah beranggapan malu sebagai masalah penghambat perkembangan anak, karena sebagian besar anak  pemalu pada akhirnya dapat terbiasa dengan lingkungannya. Tetapi yang terpenting adalah, bagaimana orang tua memberikan cukup stimulasi demi menumbuhkan kepercayaan diri pada anak pemalu tersebut.

Orang tua sebaiknya jangan pernah memberikan julukan pemalu pada anak tersebut, entah sebutan tersebut sebatas julukan atau sebentuk excuse atas sikapnya yang pemalu. Dengan memberikan sebutan pemalu, sebenarnya anak pemalu tersebut tidak berfikir bahwa dia pemalu, tetapi jika  terus-menerus disebut demikian, pada saatnya nanti dia akan berfikiran bahwa ada yang salah pada dirinya dengan sebutan demikian, jadi sebaiknya sebagai orang tua lebih baik mengatakan “agak lama baginya untuk dapat bersosialisasi di lingkungan baru” ketimbang menyebutnya pemalu.

Sifat malu yang menyebabkan anak menjadi pemalu bukanlah  merupakan abnormalitas. Yang sering menjadi persoalan justru akibat dari pemalu itu sendiri. Misalnya, ketika anak kita berada di rumah teman/tetangga, dan ingin buang air kecil tetapi malu minta izin ke kamar mandi, sehingga menahan keinginan buang air, dan akhirnya malah mengompol.  Pemalu juga dapat menjadi masalah, jika sifat ini menyebabkan potensi anak menjadi tidak tergali dan tidak berkembang secara optimal. Lingkungan memegang peranan penting terhadap pembentukan sifat pemalu ini.  Mestinya orang tua menerima sifat pemalu anak apa adanya tanpa mempermasalahkannya. Dorong anak untuk berani keluar  dan menghadapi dunia luar dengan percaya diri, sehingga ia merasa kompeten, dan berkembang sesuai dengan potensi yang ada di dalam dirinya. Mendorong seorang anak pemalu untuk berani menghadapi dunia luar tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba, tetapi harus dilakukan secara bertahap.

Lantas, langkah apa yang mesti diambil agar anak lebih terbuka dan percaya diri? Simak sejumlah saran yang diungkapkan oleh beberapa pakar berikut ini:

1. Kontak mata (Eyes contact)

Kontak mata adalah yang paling penting di dalam sebuah komunikasi, dengan kontak mata maka pesan akan lebih efektif tersampaikan pada lawan bicara, dan tentu saja pesan tersebut lebih meyakinkan ketimbang saat berbicara tanpa ada kontak mata. Nah ajarkan si kecil untuk berbicara sambil ada kontak mata, jangan paksa dia, namun gunakan cara yang halus.

Jika si kecil masih merasa kurang percaya diri, katakan padanya untuk melihat hidung si lawan bicara. Setidaknya trik ini akan mengelabui lawan bicara dan seolah-olah sedang menatap matanya. “Adik, ingat kan cerita soal pinokio? kalau dia bohong maka hidungnya akan memanjang. Makanya kalau adik lagi ngomong sama orang lain adik nggak boleh nunduk, kalau adik nunduk gimana dong bisa lihat hidungnya makin panjang atau nggak?”
Ketika berbicara dengan anak, minta ia selalu untuk menatap mata Anda. Dengan memaksa dan menerapkannya setiap waktu, lambat laun anak akan terbiasa melakukan kontak mata dengan lawan bicara.

Jika anak tidak merasa nyaman menatap tepat di mata lawan bicara, ajarkan ia untuk menatap puncak hidung di antara kedua mata orang di hadapannya. Dengan praktik berulang kali, anak tidak akan memerlukan teknik ini lagi dan lebih percaya diri untuk menatap langsung mata lawan bicaranya.

2. Melatih percakapan (Take and Give Conversation)

Buat daftar berisi kalimat pembuka percakapan yang mudah digunakan anak untuk bercakap-cakap dengan berbagai kelompok orang, misalnya orang yang telah dikenalnya, orang dewasa yang belum pernah ditemuinya, teman lama yang jarang dijumpainya, anak baru di sekolah, atau anak yang sering bermain dengannya di taman bermain.

Setelah itu, ajak anak berlatih menggunakan kalimat-kalimat tersebut sampai merasa terbiasa dan nyaman mengucapkannya. Salah satu trik yang dapat digunakan adalah mempraktikkan perbincangan via telepon dengan pendengar suportif di ujung lain. Dengan demikian, anak tidak akan merasa setertekan seperti jika melakukan pembicaraan tatap muka.

3. Berlatih sosialisasi (meet and greet)

Siapkan anak untuk menghadiri acara sosial yang akan segera diselenggarakan dengan menjelaskan latar, ekspektasi, serta para hadirin yang kira-kira datang ke acara itu. Kemudian, bantu anak berlatih bagaimana cara bertemu orang lain, tata krama di meja makan, keterampilan dasar berbicara, dan bagaimana cara mengucapkan salam perpisahan dengan anggun.

sebaiknya orang tua secara rutin mengajak anak berkunjung kerumah teman, tetangga, kerabat, dan bermain disana. Kunjungan sebaiknya dilakukan pada teman-teman yang berbeda. Selain secara rutin berkunjung, sebaiknya juga mengundang anak-anak tetangga atau teman-teman sekolah untuk bermain di rumah

4. Lawan berlatih (Role playing)

Philip Zimbardo, yang terkenal sebagai pakar mengatasi rasa malu, merekomendasikan untuk memasangkan anak pemalu dengan anak yang lebih muda darinya untuk berlatih dalam periode singkat. Ciptakan kesempatan bagi anak untuk bermain dengan anak lain yang lebih muda darinya, misalnya adik, sepupu, anak tetangga, atau salah satu anak kenalanAnda.

Atau lakukan role-playing bersama anak. Misalnya, anak belum tentu berani berbicara pada pelayan toko, sekalipun didampingi orang tuanya. Maka, ketika berada dirumah, orang tua dan anak bisa bermain peran seolah-olah sedang berada ditoko dan anak pura-pura berbicara dengan pelayan. Role-playing dapat dilakukan pada berbagai situasi, berpura-pura di toko, berpura-pura di sekolah, berpura-pura ada di panggung, dan lainnya

Jika anak yang pemalu berusia remaja, coba menyuruhnya mengasuh anak kecil untuk mempraktikkan keahlian bersosialisasi yang enggan dipraktikkannya dengan anak-anak seusianya.

5. Satu lawan satu

Dr. Fred Frankel, seorang psikolog dan pembentuk Program Pelatihan Kemampuan Bersosialisasi UCLA, menyarankan permainan satu lawan satu sebagai cara terbaik bagi anak untuk membangun rasa percaya diri.

Dorong anak mengundang seorang temannya untuk bermain bersama selama beberapa jam hingga saling mengenal dan mempraktikkan keahlian berteman. Sediakan makanan kecil sebagai camilan dan cegah interupsi sedapat mungkin dari aktivitas mereka. Jangan izinkan anak menyalakan televisi selama sesi bermain tersebut.

6. Jadilah Contoh Yang Baik

Jadilah contoh buat anak, jangan hanya mendorong anak untuk percaya diri, tetapi tunjukkan pada anak bahwa Anda orang tua yang percaya diri. Anak biasanya mengamati dan belajar dari perilaku orang tuanya sendiri. Apapun usaha yang dilakukan, tetaplah dampingi anak jangan langsung dilepaskan sendiri. Anak mulai bisa dibiarkan melakukan seorang diri, jika rasa percaya dirinya sudah berkembang.

7. Penuh Kesabaran

Tak ada hal lain yang lebih penting ketimbang kesabaran Anda sebagai seorang ibu. Anak adalah adonan yang mudah rapuh, sehingga kita harus dengan hati-hati membentuknya menjadi kue yang cantik. Kesabaran adalah satu-satunya bumbu yang harus Anda miliki dalam menghadapi mereka. Tanpa kesabaran, Anda tak akan berhasil membentuk sebuah kue cantik.

Demikian, apapun yang orang tua lakukan menghadapi dan mengatasi masalah anak yang memiliki sifat pemalu, tentu janganlah dilepas sendirian begitu saja, janganlah ia terus dibiarkan dengan keadaan sifat pemalunya itu, bimbinglah ia menjadi anak yang penuh percaya diri dan selalu memberikan  motivasi. Karena sesungguhnya anak apabila orang tua peduli dan memberikan kasih sayang insya allah ia akan bangkit dan tumbuh manjadi anak yang sempurna. Wallahu a’lam bissawab. (nuruddin)

Sumber :

Muhammad Surya, “Bina keluarga” aneka ilmu

http://www.mediaindonesia.com

http://metrotvnews.com

http://konsultasi.wordpress.com

http://bundaathira.multiply.com

http://poetra-indonesia.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s