KONVERSI MINYAK TANAH KE BATU BARA TIDAK TUNTAS


Tungku open di belakang kantor Camat sakra Barat

KM. Krens. Lotim. Melihat perkembangan minyak dunia yang semakin hari semakin tidak menjanjikan,   maka pemerintah Indonesia mempunyai program yaitu meniadakan subsidi minyak tanah kepada masyarakat khususnya pengopen tembakau. Dan sebelum diberlakukannya program ini pemerintah Provinsi mengumpulkan seluruh perusahaan tembakau yang ada bersama Kelompok Kerja ( Pokja ) yang berasal dari LSM dan masyarakat masing-masing kecamatan se- Nusa Tenggara Barat 1 ( satu ) orang untuk mengontrol Konversi tersebut.  Program ini di anggap positif oleh pemerintah karena melihat kondisi  masyarakat yang saat ini sangat terbebani.

Lalu program ini ditanggapi beragam oleh masyarakat, ada yang bilang kalau batu bara akan membuat polusi udara dan setiap orang akan mengalami sesak napas dengan asap yang tebal. Dan bahkan ada juga yang lebih serius mengatakan, saya tidak akan beralih ke batu bara walaupun harga minyak tiga kali lipat dari harga sekarang. Walau berbagai tanggapan dari masyarakat, pemerintah melaksanakan program itu dan menyalurkannya kepada pengguna diseluruh kabupaten/ kota  dan tidak ketinggalan diwilayah kecamatan Sakra Barat sebagai pemasok minyak tanah yang begitu besar di Kabupaten Lombok Timur.

Perbedaan pendapat juga terjadi antara pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten mengenai bentuk subsidi yang akan diberikan kepada masyarakat. Pemerintah provinsi mau memberikan dalam bentuk uang sehingga akan sangat bermanfaat bagi pengguna, tetapi lain lagi dengan pemerintah kabupaten, tidak bisa efektif kalau subsidi itu dalam bentuk uang, lebih baik diberikan dalam bentuk barang saja. Alasan yang kuat sehingga diberikan dalam bentuk barang adalah ketika penerima tidak menggunakan uangnya untuk membeli bahan konversi dan akan menggunakannya ke yang lain misalnya membeli kayu atau minyak sebagai bahan pengopenan.

Tungku dan perangkat lain sudah di drop ke masing – masing kecamatan, namun sampai saat ini tungku tersebut tidak habis di salurkan. Contoh saja di Kecmatan Sakra barat yang sampai saat ini tungku tersebut masing terbengkalai di belakang kantor dengan tidak terawat lagi. Akankah program berharga seperti ini dibiarkan begitu saja tanpa ada perhatian sedikitpun dari pihak terkait?.  Apa yang menyebabkan ini bisa terjadi?.

Mastuhuruddin, salah seorang yang sudah direkrut sebagai pokja yang berasal dari kecamatan Sakra dan ikut mengontrol konversi ini menyatakan: “ pokja yang sudah dibentuk hanya fiktif saja, tidak pernah ditindak lanjuti, hanya ya di depan pak Gubernur, namun setelah bubar maka bubar bersama pokjanya”

(MA).

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s