BENCI


Cerita ini tidak bermula dari percikan api romantisme, yang berkobar dalam pekat merah asmara.

Cerita ini tidak bermula dari sayup tangisan luka, sendu dan beku, ungu dalam bayang alip yang tegak lurus.

Cerita ini tidak bermula dari perpisahan  pilu dua kekasih yang saling mencinta atau membenci.

Cerita ini juga tak bermula ketika nada harus dimulai dari do re mi end title sang kitaro dan diakhiri dengan sol sol do sang implora.

Tapi ku awali cerita ini dengan mengatakan bahwa aku membenci kamu.

Aku membenci kamu.

Tiada yang paling aku benci di dunia ini.

Selain kamu

Dan biarkan aku menulis, sebab hurup demi hurup akan menjawab segala ceritaku. Bacalah dengan melihat titik dan koma, sebab aku takut kau tak akan melihat di mana letak tekanan kalimatku yang jingga dalam narasi pendek yang aku gambarkan sebagai deskripsi  tua wajah luka Teressa dan  Asia. Sebab Magha dan Sakka adalah sama, sama dalam wacana membangun jalan menuju kelapangan Sorga sentosa. Tapi demikianlah raja yang bermata melihat sebagai orang buta yang aku takutkan kau contek pula sebagai pengganti karma-karma cintamu yang hitam berlumpur  dosa.

Sesungguhnya aku ingin berkata lagi sayang, agar sempurna duka Durga, agar tercapai Moksa, setelah perlakuanmu yang kasar durjana, setelah ejekanmu yang merendahkan penuh cerca, setelah pandanganmu yang lekat menghina bagai mata Rahwana menembus merah Ajna dewi Shinta, kuingat semua tak satu terlupa, sebab aku telah terlanjur menderita dalam sentries Ego, Bravo dan Romeo.

Dan tiada kusesali sedikitpun, biarkan rintik menjadi saksi bagi kerasnya bongkah-bongkah  putih yang terhampar dalam pelukan antartika yang pucat pasi ketika delapan belas pinguin berbaris tersedu sesenggukan.

Terlalu sombong pastinya dirimu jika aku berkata kau adalah segalanya, atau semuanya adalah kepura-puraan belaka bagiku untuk berkata kalau aku membencimu padahal aku merindukanmu. Tapi aku tak mungkin salah akan kalimat yang aku eja dengan perlahan dan kurenungi, kalau betul bahwa aku membencimu.

Sebab aku tak ingin juga mengakhiri cerita ini dengan mengatakan kalau aku ternyata mencintaimu. Itu adalah sebuah kemustahilan yang tak mungkin aku lakukan selagi di awal cerita aku berkata bahwa aku membencimu dan di kemudiannya aku tak konsisten dengan berkata bahwa aku mencintaimu.

Inilah awalnya cerita, inilah awalnya cerita, dan kau tutuplah matamu erat dan lihat dengan segala kejelasan akan segala makna yang aku tunjukkan satu persatu samar dalam  setiap awal, tengah dan akhir kata yang aku rangkai berliku tiada lurus membentuk untaian kalimat  rancu biru tak berkesudahan yang panjangnya delapan yojana agar kau mengerti kalau cerita ini semata hanya untuk menunjukkan betapa aku membenci kamu. Betapa aku membenci kamu. Dan agar kau berpikir mengapa Nian aku membenci kamu bahkan sampai di ketiga masa, melewati Peta dan Asura, Syurga dan Nirwana, Jhana dan Nibbana.

Suatu hari di masa laluku, hadirlah seorang gadis berkulit putih, bibirnya tipis, bahunya terbelah, matanya bening, suaranya mendayu sitar, bagiku ia adalah gadis yang telah lama aku cari-cari. Dan sepertinya memang dialah ciri-ciri menantu yang diidam-idamkan ayah dan bundaku.

Suatu hari di masa laluku, hadirlah seorang gadis berkulit putih, bibirnya tipis, bahunya terbelah, matanya bening, suaranya mendayu sitar, bagiku ia adalah gadis yang telah lama aku cari-cari. Dan sepertinya memang dialah ciri-ciri menantu yang diidam-idamkan ayah dan bundaku.

Aku mengenalnya sebagai gadis manis yang nakal, pintar menggoda,  dan itu pula yang selalu membuatku marah setiap kali mengingatnya, karena aku telah terlanjur mengira dia mencintaku sebab godaanya yang  terus menerus setiap hari, setiap waktu. Dengan sms-sms (Short Message Service) romantis yang mengalir tak hingga seperti aliran Gangga dan Yamuna.

“Nm kk cp, kok kk ganteng cih”.

Itulah sms pertama yang aku terima dari dia, dan sampai sekarang masih tersimpan walau telah berulang kali aku ingin menghapusnya. Membuat aku begitu berbunga-bunga, seolah-olah itu adalah sms yang paling aku tunggu-tunggu dari setahun yang lalu, dan dengan terburu-buru aku menjawab,

“nmk Samsul, adk?

Dan ia menjawab.

“a Nia. A blm px pcr lho…….” (x  dibaca “nya” dalam bahasa sms, pen.)

“Oya.. blm p blm ?

“Px c, tp gak cnt, hbsx dia maksa kmrn”.

“blg za lo sk. Bener kaaaan”?

Begitulah sms mengawali perkenalanku dengan Nia,  seorang  mahasiswa sebuah perguruan tinggi terkemuka di kota kami. Dan boleh dibilang ini menjadi sebuah asal muasal cerita yang pelik dan rumit dalam hidupku, sebabnya dalam hati ini telah ada nama lain yang bertahta lebih dahulu. Tapi adalah sebuah kepastian jika setiap raja pasti akan turun tahta, demikian juga Nia telah dengan segera menurunkan posisi seorang yang meraja dalam hatiku, mencampakkannya jauh ke penghujung ingatan yang membuat aku dengan segera melupakannya, bagai hujan sehari yang menghapus debu setahun.

Pagi itu, ketika aku bangun pada pukul 05.15, seperti biasa aku segera pergi mengambil wudhu, kemudian melakukan solat shubuh, berdoa, kemudian memeriksa buku-buku yang harus aku bawa untuk kuliah nanti, setelah aku rasa semuanya beres, maka segera kuperiksa Hpku (hand phone), di situ aku menemukan dua buah sms, yang pertama berasal dari Irma (pacar aku yang sebenarnya saat itu), yang kedua berasal dari Nia. SMS pertama berbunyi.

“Bgn say, udah subuh, solat dl”. – Irma – 05:00

SMS kedua berbunyi:

“A ign tdr tp a g bs. Krn a mggtm trs (mengingatmu, pen.)”. –Nia—02:27.

Setelah aku membaca kedua sms itu, maka aku putuskan untuk membalas sms Nia.

“Nia, beneran km gak bs tidur?”

“Bener, sungguh, kl blh, ak pgn ktm pd jm 09.00 di bwh phn akasia belakang gedung B, di tmn blkg”.

“OK”. Jawabku. Dan pagi itu penjelasan-penjelasan dosen begitu membosankan bagiku, terasa lama waktu berlalu, aku ingin segera ketemu gadis manis yang selalu jadi rebutan di kampus kami itu. Dan akhirnya waktu yang ditunggu tiba juga.

“Apa kabar”!

“Baik, tapi aku masih sedikit ngantuk, habisnya tadi malam bergadang ampe pagi”.

“Bergadang ngapain?”

“Adda ajjja”. Jawabnya.

Kulihat sebaris giginya yang putih dibalut bibir manisnya yang merah delima, seperti ada sesuatu yang begitu menarik di bibir itu sehingga memaksu aku secara tak sengaja untuk terus melihat pesona itu.

“Kenapa memandangku begitu”, tanyanya.

“Maaf, ga ada kok, aku Cuma kagum melihat bibir indahmu”.

“Lelaki suka memuji, tapi pujian terbaik adalah pujian yang tidak dibuat-buat, pujian yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam”.

“Aku memujimu karena kamu memang pantas mendapatkannya”. Dan kembali senyum itu mengembang demi aku selesai mengucapkan kata itu, dan aku melihat ada kilatan-kilatan api dalam tatapan matanya yang kecoklat-coklatan.

“Makasi, O ya, sebenarnya aku Cuma pingin ngajak side (panggilan untuk orang yang lebih tua dalam bahasa sasak, pen) pergi ke internet, entar malam habis magrib, soalnya aku punya tugas dan harus dikumpulin lusa, dan aku gak bisa internet, mau kan?” Tanyanya.

“Pasti mau dong, masa nolak ajakan cewek cantik”.

“Gak ada yang cemburu nih?”

“Pasti ada sih, tapi biarin aja, emangnya aku udah kawin apa.” Kataku kepadanya dengan suara yang sengaja dibikin sedikit lebih merdu biar dianya cepat kelepek-kelepek.

Tiba-tiba saja disambarnya tanganku, dan dipegangnya jemariku lembut.

“Jangan ke GR an ya, aku Cuma pengen lihat kukumu, boleh aku potongin? Habisnya panjang-panjang niii, masa cowok ganteng kukunya panjang”, celotehnya semakin mendekatiku.

Duh… hatiku berdegup kencang, darahku serasa naik ke kepalaku, sebab aku mencium wangi lembut farpumnya yang baunya begitu khas, dan aku belum pernah mencium wangi seperti itu sebelumnya.

“Boleh”. Dan seperti kerbau dicocok hidungnya kuturuti keinginannya, kubiarkan dia memotong kukuku satu persatu, dan setiap sentuhan tangannya memberikan sensasi dan fantasy tersendiri bagiku.

Tangan itu begitu lembut dan seperti mengalirkan energi-energi khusus dalam nadiku, yang membuat napasku semakin berdegup kencang dan keras.

“Tugas apa sih yang mau kita cari itu”.

“Tugas kimia, ada beberapa referensi yang harus aku cari”. Jawabnya sembari terus menerus memegangi tanganku yang sebenarnya kukunya tidak terlalu panjang gitu, yaaa… alasannya aja untuk memotong kukuku, padahal maunya pegang tangan.

Dan kemudian selesailah acara potong memotong kuku itu, ditandai dengan suara merdunya yang bilang.

“Udah selesaaaaaaai”.

“Ooooo. Udah selesai motongnya”.

Aku bertanya sambil memperhatikan bibir indahnya yang sengaja ato gak sengaja telah dia kulum beberapa kali didepanku.

“Udaaah. Nah sekarangkan lebih ganteng dan Macho”.

“Kamu ada-ada aja, kan emang udah ganteng”. Jawabku sambil mengerlingkan sebelah mataku yang sudah cukup profesional, handal  dan terlatih.

“Ih…. Gayanya, siapa tuuuh yang bilang ganteng”, tanyanya dengan nada suara penuh rayuan yang membuat aku semakin tak berdaya.

“Kamu”.

“Aduuuhh, kacian banget, kapan aku bilang ganteng,” Katanya sambil mencubit lengan perkasaku yang tambah perkasa kalo di depan cewek. Dan aku menjawab.

“Tuhh, barusan kamu nyebutnya.” Aku menatapnya dengan tajam.

“Ya sudah, kak Samsul emang ganteng, (tiba tiba ditundukkan wajahnya, seperti ada sejuta penyesalan dimatanya, dan dengan suara lebih perlahan dilanjutkannya.) sayang ada pacarnya”.

“Nia kan juga punya pacar, (Tegasku dengan nada suara yang juga lebih rendah, seperti suara pasangan-pasangan yang sedang berdialog dengan romantis di sinetron-sinetron) jadi fair kan?”

“Ya sudah, (sembari kembali menatap kedua bola  mataku) oya.. udah jam 09.20 nihh.. pasti dosenku udah dateng, aku masuk dulu ya?”

“Ya, pergilah sayang, (Aku berhenti sebentar, sambil melihat reaksi wajahnya yang tiba-tiba memerah sagu) eh  salah ngomong. Nia”.

Dan kubiarkan angin membawanya pergi, dan tanpa aku minta, sederet bonsai, dan sebatang akasia rindang telah menjadi saksi bagi perjumpaan kami yang aku uraikan sejak diawal akan menjadi pertemuan yang begitu rumit, membuyarkan arti tulisanku yang sebenarnya, kalau benar bahwa aku membencinya. Sumpah Bebek. Aku membencinya.

Dan sebelum aku tinggalkan tempat yang indah itu. Kembali sebuah sms masuk di inbox Hpku.

“Aku senang di dekat kakak.”

“Aku juga senang”. Jawabku.

Hari itu seharian aku terus  berpikir, “aku tak boleh jatuh cinta”, kataku dalam hati. Tapi hatiku yang paling dalam sebenarnya berkata:

“Jangan takut jatuh cinta, sebab jika kau takut jatuh cinta, maka kamu akan kehilangan cinta, cinta itu akan pergi, terbang tinggi menjulang, kemudian menghilang, dan seandainya dia tersangkut di puncak rinjani, tentu masih bisa kau daki, tapi cinta tak pernah tersangkut di Rinjani, dan kau pasti akan menyesali, kau pasti akan menyesali…”

Malam itu, langit tak begitu terang, dan begitulah yang aku harapkan (semoga gelap aja gitu), karena cukup jauh juga tempat internet itu dari kosku, sekitar setengah kilo,  dan harus ditempuh jalan kaki, berhubung jalannya melewati gang-gang  sempit dan berliku, jadi no taxy dan juga no bemo dan karena aku nanti akan berjalan dengan cewek idaman, tentu saja ini merupakan kesempatan berlian (bukan kesempatan emas, karena berlian lebih mahal dari emas) yang paling diharap-harapkan, bila perlu jalan sepanjang setengah kilo itu mesti ditempuh selama satu atau dua jam, enjoy aza tentunya kan.

“Gmn, udah hbs mgrb nih, aku tgg di mn?”. Tanya Nia lewat SMS.

“Tgg aja di kosm, biar a yg jmpt ke sn”.

“Ya..  buruaaaaan…” Jawab Nia.

“Sabar, cepat-cepat itu plg g enak, hrs d nkmt donk.” Jawabku sekenanya.

Kemudian dengan semangat membara aku memulai perjalanan ke kosnya, sekitar satu kilo dari kosku (kalo ke kosnya kita harus jalan terus ke selatan, kosku di sebelah utaranya internet, internetnya di tengah-tengah), dan setelah sampai langsung saja ku miscall dari luar.

“kosong delapan satu delapan kosong tiga tujuh lima lima satu tujuh delapan (tanganku memencet keypad handphone tergesa-gesa).

Terdengar nada ringtone Hpnya.

“Halllo”.

“Aku di luar nih, bukain !”

“Ya”. Jawabnya (terlihat pintu terbuka).

”Ayo masuk”. (tampak wajah putih manis dengan sejuta pesona di wajahnya sembari tersenyum manis).

“Gak usah, ayo dah kita pergi, entar keburu malem”.

“Ya daaah, tunggu aku ambil jaket dulu.” Katanya Nia.

Seperti ulasanku sebelumnya, perjalanan rahasia ini sebisa-bisanya harus diperlambat, bila perlu satu ato dua jam, kebayang gak siiiiiih, aku lagi jalan ma gadis yang sempurna banget bagi pandanganku, ya wajahnya, ya bodinya, sedangkan kejiwaannya sedang dalam tahap penjajakan.

“Kita langsung ke Internet ato kita makan dulu di warung jawa II.”

“Eh hampir lupa, iya nih, aku belum makan malam, ayo dah, pingin juga rasanya aku makan lele goreng yang renyaaaah banget…..”. Jawab Nia.

Hanya sekitar sepuluh menit dari kosnya maka sampailah kami di warung jawa II, warung ini merupakan warung terfavorite di wilayah Atletik Gomong Mataram.

”Pesan apa mas?”

“Lele dua.” Kataku pada pelayan.

“Nia minumnya pakai apa?”

“Ikut sama kakak aja dah.”

“Mas, jus apel dua.”

Kemudian aku menarik tangan Nia ke bagian pojok warung. Tampak di depan kami beberapa orang pengunjung yang juga sedang menikmati makan malamnya, ada yang duduk dengan pasangannya, ada juga yang jomblo, dan di tengah-tengah tembok tampak sebuah TV 21 In yang kayaknya menjadi pilihan paling menarik bagi para jombloan yang lagi makan sendiri, sedang yang lain sibuk memperhatikan mulut pasangan masing-masing yang lagi komat kamit baca mantra, eh salah, lagi makan pesanan masing-masing.

“Lo lo lo, kok di samping, di depan donk biar romantis”. Kataku pada Nia.

“Aku gak berani.”

“Kenapa, Takut ma siapa.”

“Aku tak sanggup bertatapan pandang dengan kakak.”

“Ah, aku gak akan melototin kok, tenang aja (“dasar cewek gombal”. Kataku dalam hati walau aku sebenarnya tersanjung juga dengan perkataan itu).

“Beneeeer.”

“Yaaaaaaa.” Maka diambilnya tempat duduk depanku, persis di depanku, sehingga tampak jelas keseluruhan wajahnya yang semakin tampak putih di bawah pantulan cahaya neon yang terang itu. Aku melihat sesuatu di matanya, ada kilatan-kilatan api di sana. Dia menatapku tajam. Tapi adalah salah besar kalau dia mencoba-coba untuk mengukur seberapa mampu aku bisa melawan pandangan matanya (Sejak semester satu dulu aku mempelajari ilmu pandangan matahari, yang harus dilatih dengan cara memandang matahari sejak jam 7 pagi sampai jam 9 pagi, baru kemudian pada sore sejak jam 4 sampai tenggelam matahari). Jelasnya dia pasti kalah besar, dan akan kita buktikan sekarang siapa yang akan gugur dalam perang mata dan degup jantung ini.

Tiba-tiba ditundukkan pandangan matanya (sambil tangannya mengetuk-ngetuk meja dengan lembut), ada sedikit senyum di bibirnya.

“kakak sering makan di sini.”

“Kadang-kadang, tapi biasanya aku ke sini kalau lagi bulan baru.” Jawabku padanya sambil tersenyum juga.

“Aku jarang ke sini, aku lebih suka masak”

“Oyaaaa, adik hobinya makan apa ?”

“Aku paling suka makan Cap Cay.”

“Kalo aku suka makan kerupuk.”

“Waduh, masak sih kerupuk?”

“Bener kok, habisnya itu makanan yang paling murah meriah, malu dong kalo bilang suka roti, entar dikirain sombong lagi, padahal kita kan Cuma anak miskin.”

“Segitunya, biasanya orang kaya itu suka merendah.”

“Lelenya maaaaaaas!” Tiba-tiba pelayan itu datang menghampiri kami.

“Oya.”

“Pelayannya ganteng ya.”

“Gantengan kak Samsul.”

“Masa!”

“Bener (kepalanya sedikit mengangguk seolah meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tak salah ucap), tau gak kak, tadi malam itu aku gak bisa tidur, (matanya menatapku tajam, dan aku tahu bahwa dia memang tak membohongi aku) kok bisa ya aku mikirin kakaaaaak terus, padahal kita kan kenalnya baru kemarin.”

“Mungkin terbalik faktanya, jangan-jangan aku yang gak bisa tidur tadi malam.”

“Emang gitu. Yakiiiiin”? Tanya Nia kepadaku dengan nada yang seolah benar-benar mengharap agar aku mengiyakannya.

“Yakin.”

“Emangnya kamu lihat tampang aku ini seperti tukang bo’ong”.

“Kali aja.. kan biasa lelaki suka mengobral rayuan.”

“Tapi aku kan beda sama mereka, Ok… nanti kita lanjutin ngomongnya, sekarang kita makan lelenya, pasti enak banget, lagian juga masih hanget, yuuuk.”

Acara makan malam itu terasa begitu nikmat, sesering mungkin aku melirik wajahnya, tampak gaya mengunyahnya sangat menarik, bibirnya bergerak pelan, tertutup tanpa banyak pergerakan  ato bunyi-bunyi aneh, tampaknya Nia memang sangat menjaga gaya makannya, dengan sempurna tangannya memegang sendok dan garpu, tampak alami dan tidak dibuat-buat. Dan kemudian pelayan lainnya mengantarkan kami jus apel yang sudah aku  pesan sebelumya. Dan dengan senyum manis diakhirinya acara makan itu dengan menyapaku.

“Aku sudah selesai.”

“Kok cepat sekali, dihabisin dong lelenya.”

“Aku udah kenyang, jawabnya.”

“Ok deh, di minum jusnya, rasanya enak”.

“Lo, kok gak diminum?”

“……(Nia diam tertegun)”.

“Nia gak minum ?”

“Ayo donk kita minum sama-sama.”

Kembali aku meneguk jusku sambil mengajak Nia minum, sehingga jus ku kini hanya tinggal setengahnya saja. Tapi Nia tetap tak bergerak. Diam seribu bahasa.

”Nia gak suka jus apel?”

”……..”

”Ok deh, gak papa, kalo Nia emang gak suka entar diganti pake yang lain. Gimana. Setuju ?”

Nia tetap diam membisu. Hatiku mulai mengkal.

”Gak usah, ini aja”. Kata Nia tiba-tiba.

Aku buru-buru menghabiskan jusku. Hatiku yang begitu antusias sedari tadi kini berubah dag-dig-dug. Ada rasa marah, jengkel, kesal dan sebal. Sebab Nia yang aku kira akan melengkapi bait-bait puisi ini ternyata hanya pembaca setia. Ditolaknya uluran cintaku dalam bisu. Dan dibuatnya aku malu di depan orang banyak di warung itu. Ya. Di depan orang banyak dia menolak ajakanku.

”Tunggu di sini, aku bayar dulu ya”?

”Sebentar, kan saya belum minum”. Kata Nia mengejutkanku. Aku jadi sedikit emosi, aku mengomel dalam hatiku mengatakan kalo Nia ternyata cewek yang plin plan, karena dari tadi aku mempersilahkan tapi tidak juga mau, eh malah setelah aku mau pergi bayar baru dia mau.

”OK deh, aku tunggu”.

Dan diluar dugaanku, tiba-tiba Nia mengambil sedotan dari gelasku. Dan dengan  santai menyedot jusnya. Matanya bersinar menatapku. Dan kembali aku menangkap percikan-percikan api di mata itu.

”Jusnya enak ya.”

”Mau nambah?” Tawarku padanya, dan hatiku tiba-tiba saja mencair kembali, dan aku merasa begitu tersanjung, karena aku mengira dia menolak untuk melengkapi puisi-puisi ini. Tapi ternyata ia buatkan bait dengan bahasa yang indah, yang membuat aku tersanjung dengan diam-diam. Ya aku tersanjung, sebab dia dengan tanpa jijik sedikitpun telah minum jusnya dengan sedotan yang sama denganku. Bahkan bekas sedotanku.

”Cukup”.

”OK deh, aku pergi bayar dulu sebentar”.

”He e, aku tunggu”. Jawab Nia. Dan setelah acara makan itu selesai kamipun melanjutkan perjalanan rahasia kami menuju internet yang dekat di mata tapi jauh di hati. Aku mengatakan internet itu dekat di mata dan jauh di hati adalah karena internet itu memang letaknya tidak terlalu jauh, namun tidak juga aku mengingatnya. Sedang yang terdekat dihati saat itu memang hanya Nia seorang, hanya Nia seorang.

Di wartel aku sengaja memilih tempat duduk yang agak di pojok. Kayaknya romantis banget buat berduaan, soalnya setiap satu komputer dipisahkan dengan papan pemisah, jadi seolah satu komputer punya ruangan sendiri sehingga tidak memungkinkan bagi pengguna lain untuk saling melihat dengan yang lainnya. Jadi di wartel ini Privacy para user sangat terjaga.

”Judul tugasnya apa”?

”Gak ada”.

”Lo, kan tadi pagi katanya ada tugas kimia yang refernsinya belum cukup”.

”Emang ada siiiihh, tapi malees, aku sebenarnya ngajak kakak ke sini karena pingin berduaan aja dengan kakak, sekalian sambil ngajari aku internet, habisnya aku gak bisa internet”.

”Kamu ini, (ku cubit pipinya dengan lembut sambil tersenyum) aku kira beneran mau ajak cari tugas”.

”Emangnya yang mana yang belum bisa internetnya, (aku angkat sedikit wajahku menatap kedua bola matanya) apakah chatting, browsing, emailing, atau apa”?

”Semua pokoknya. Oya, ajari aku cara mencari informasi aja ya.. soalnya itu kan yang paling sering nanti buat cari tugas”.

”Ok, sekarang kita belajar browsing ya”.

”Yap, tapi ajari aku cara pegang mousenya doong, soalnya aku belum bisa sama sekali nih”.

”Ayo….!” (Ku hulurkan tanganku, menggenggam tangannya bisu, Tangan itu terasa hangat, dan rasanya seperti ada jutaan strum yang mengalir dari tangan itu langsung menyerang ke ujung jantungku sehingga mau tidak mau detak jantungku bertambah kencang dan kencang).

”Pertama-tama, kita kelik Shotcut Internet Explorernya, lalu, kita tulis nama web yang mau kita pakai mencari, contohnya www.google.com, kita tunggu sebentar, setelah muncul web sitenya, lalu kita ketik apa informasi yang ingin kita cari di search boxnya”.

”Kakak, sekarang informasi yang mau kita cari sebagai contoh apa ya?”

”Gimana kalo ’puisi cinta’, soalnya aku seneng baca puisi”.

”Ogah, gimana kalau ’trik-trik agar dicintai laki-laki’, Oke?”

”Boleh, emangnya Nia lagi naksir sama siapa”.

”Kan sama kakak”. (sambil menatapku dengan senyum termanisnya)

”Jangan bilang naksir, entar aku juga naksir lo”.

”Naksir aja, biar kakak yang ganteng ini jadi milik Nia”.

”Lo, kan Nia udah punya pacar, Kakak juga udah punya pacar”.

Tiba-tiba wajah Nia memerah, ditundukkan wajahnya.

”Ya dah kalo kakak emang gak mau”.

”Bukan gitu, kakak boleh aja jadi pacar Nia, tapi kan semua harus melalui proses, tidak sim salabim, Nia mengerti kan?”

”Ya, Nia ngerti.”

Begitulah kejadian-kejadian dan kesan-kesan pertama yang mengawali perkenalan ku dengan Nia. Perkenalan yang seharusnya tidak terjadi atau juga harus terjadi. Aku tak mengerti.

Sebab seperti yang aku katakan padamu pada awal ceritaku, bahwasanya aku sangat membenci gadis putih itu, sampai ke tulang sum-sumku. Dan tak mudah untuk melupakannya secepat aku melupakan mimpi-mimpiku bersamanya.

Tapi terus terang aku katakan kepadamu, aku mencoba menulis cerita ini seindah-indahnya, seindah cerita itu sendiri, yang indah pada permulaan, juga indah pada pertengahan, dan indah pula pada akhirnya. Agar kelak, jikalau beruntung, semoga Nia sempat membaca goresan ini, yang aku tulis pada lambaian lembut daun-daun cerita, daun-daun kenangan dan daun-daun rindu yang terus bersemi di semua musim dan waktu.

 

*****

 

Malam itu aku awali menulis diaryku dengan kalimat :

 

Jika kau merindukan aku

Maka bacalah smsku 3 kali

Dan jika kau masih merindukan aku

Bacalah smsku 3 kali lagi

Dan jika kau masih juga merindukan aku

Maka biarlah aku yang akan  sms kamu 3 kali

 

Dan setelah selesai menulis di diaryku, aku memutuskan untuk meng es em es Nia.

”lihatlah langit tua, padanya berjejer bintang-bintang. Dan bulan sendiri tak berkawan”. Demikian bunyi sms yang aku kirim pada Nia. Tak lama kemudian iapun membalas smsku.

”Sudah ditakdirkan bintang berjejer dengan bintang, sayang matahari masih enggan menyapa bulan”.

”Sungguh matahari tiada enggan menyapa bulan, tapi matahari harus datang pada waktu yang tepat, matahari tak menginginkan gerhana”.

”Gerhana telah berlalu, biarlah bulan naik matahari naik”. Balas Nia.

”Jangan, biarkan bulan sendiri, karena kalau ia berkawan, maka ia akan menjadi bintang-bintang”.

”Biarlah ia menjadi bintang-bintang, bulan sudah bosan sendiri”.

”Jangan kau keraskan hatimu, biarlah bulan tetap bulan, biar aku panggilkan matahari menemanimu. Biarlah gerhana, karena gerhana toh tak akan menyentuhmu.”

”Lalu kau biarkan bumi kita jadi korban? Dan menjadikan langit sebagai penebus dosa kita?”

”Tentu tidak, langit tak akan mau mengambil resiko itu, langit tak akan mau menjadi ban sirep, langit tak akan mau menggantikan posisi matahari,  langit tak akan menikahi bumi karena tak ada cerita bumi bersatu dengan langit”.

”Kenapa tidak, memang begitu  kata pujangga lama, tapi pujangga baru mengatakan bahwa langit dan bumi sesungguhnya selalu bersatu, buktinya sekarang langit mencium bumi pada ciuman lembut bibir cakrawala, dan tak seorangpun dapat memisahkannya”. Balas Nia.

”Baiklah, kalau begitu biarkan bulan naik matahari naik, dan biarkan pula langit dan bumi tetap bersatu pada ciuman lembut bibir cakrawala”.

”Sekarang langit dan bumi telah bersatu, dan langitpun telah mengecup bumi pada bibir cakrawala. Kini Bulan telah  naik dan  mataharipun telah naik. Dapatkah bulan meminta maskawinnya?”

”Jika bumi mendapatkan ciuman lembut bibir cakrawala, maka biarlah Bulan mendapatkan pelukan hangat gelap gerhana.”

”Tapi itu belum cukup sebagai maskawinnya”.

”Jika bulan menginginkan maskawin yang terlalu mahal, itu artinya bulan tak tulus mengharapkan mataharinya”.

”Bulan selalu tulus, tapi disamping maskawin, dia juga menginginkan resepsi dengan pesta dansa yang meriah”.

”Bulan akan mendapatkan resepsinya, biar aku undang seluruh anggota keluarga, Merkurius, Venus, Mars, dan semuanya tanpa ketinggalan untuk menari di pesta dansa itu.”

”Resepsi yang meriah bukanlah jaminan bagi bulan, bulan juga meminta bulan madunya”.

”Bulan akan mendapatkan semuanya, Matahari akan membawanya berkeliling ke segenap sudut Bima Sakti. Bahkan jauh sampai di ujung utara, sampai di gugusan bintang-bintang Andromeda.”

”Terima kasih, semoga bulan dan matahari dapat bersatu selamanya, tapi …… sekarang Aswin kembar (Fajar) telah datang, tiba saatnya bagi bulan untuk pamit undur diri”. Balas Nia.

”Terima kasih kembali, Senja juga telah datang, mataharipun hendak mendapatkan mimpinya. Selamat tidur Bulanku….”.

”Selamat tidur matahariku”.

Itulah serangkaian SMS yang menyempurnakan rangkaian-rangkaian cerita ini. Dan hampir semua malam-malam sunyi aku habiskan untuk bersms ria dengan Nia.

Namun terlepas dari semua SMS terdahulu, sebagaimana bayang mengikuti badan, sesungguhnya setelah sms pertama itu berlalu, datang pula sms-sms lain menyusul, seperti ramainya jamur setelah hujan berlalu. Dan sms itu seperti bernyawa mengikuti aku kemana aku pergi, membayangiku ketika aku terlena, dan mengingatkanku ketika aku terlupa.

Inilah, inilah  akan aku babarkan SMS nyata dan menyingkap pula tabir gelap sms rahasia yang telah kami sepakati di malam yang lain.

”Inilah malam sunyi, seandainya aku bisa mendapatkan semuanya!” Bunyi SMSku pada Nia.

”Tidaklah Rama mendapatkan Sita melainkan dengan perjuangan berat mengalahkan Rahwana. Demikian juga Sang Tagatha, harus berperang dengan Mara semalam suntuk untuk mendapatkan Penerangan Sempurna”.

”Tapi akupun telah berjuang, telah kuarungi dua belas samudra, meninggalkan dunia dengan bunga-bunganya. Dan telah aku katakan ini berulang kali. Mengapakah keraguan selalu muncul dalam hatimu”.

”Keraguan tentu selalu ada, seribu jalan membentang, dan apabila ada lebih dari satu jalan, maka keraguan akan selalu bertahta.” Balas Nia

”Tapi bukankah semua jalan mengantarkan kepada satu tujuan.?”

”Jalan selalu mengantarkan kepada tujuan, tapi orang suka memilih jalan yang berbeda”.

”Jadi sekarang kau ingin memilih jalan yang berbeda?”

”Aku tak tak tahu, ini adalah jalan yang sulit, tapi kau tak meyakinkan aku akan kereta yang kita pakai, sehingga keraguan itu muncul dalam hatiku”.

”Sayang, ini adalah kereta Arjuna dengan Krisna sebagai sais, ikutlah denganku. Semoga selamat sampai tujuan”.

”Aku akan ikut denganmu, sedari dahulu aku ingin ikut denganmu. Tapi ku mohon turunkanlah penumpang yang lain itu, karena kereta ini sesungguhnya hanya cukup untuk kita berdua”.

”Jadi itu masalahnya, mengapa tiada kau utarakan sedari dahulu”.

”Nelayan yang pintar adalah nelayan yang bisa melihat bintang, bisa melihat situasi, aku hanya memilih waktu yang tepat untuk mengatakannya.”

”Baik, berikan aku waktu. Tapi kamu juga harus merelakan pengantarmu pulang, karena kereta ini seperti yang kau bilang hanya cukup untuk kita berdua”.

”Baik, aku tunggu keputusanmu di malam anggoro kasih (Malam Selasa Kliwon), datanglah, aku menunggu untukmu.”

”Aku akan datang, karena raja telah lama menunggu kita di pulau, siapkanlah perbekalan, selamat tidur sayang.”

”Selamat tidur juga. Mimpi yang indah”. Balas  Nia

Semalam itu aku tak bisa tidur, karena aku harus mempertimbangkan baik buruk mimpi-mimpi yang sedang aku bangun ini.  Dan sekarang aku harus memutuskan semuanya. Antara memilih Nia dengan Irma. Dan keputusan itu harus segera aku berikan. Nia menungguku di Malam Anggoro Kasih. Dan aku harus datang.

 

*****

 

 

Di malam yang lain, ketika rinduku begitu menggebu pada Nia, maka aku menulis rentetan perasaanku pada diary lusuhku.

Rasa

Ada sebuah rasa

Yang mungkin tiada pernah engkau rasakan

Dan kau tak akan mengerti

Kecuali mendengar yang sama dan melihat yang sama

 

Tiba-tiba saja sesuatu rasa menggigit tulang

Tiba-tiba saja air menggenang dari kelopak mata

Tiba-tiba saja terasa sulit untuk bernapas

Tiba-tiba saja suara menjadi bergetar

 

Dan kemudian rasa itu terus mengalir

Mengisi relung-relung waktu

Dalam lubang-lubang kejora senja

Yang pudar dalam wajah gulita

 

Dan kemudian tersentak-sentak

Badan yang tertiup angin Cemara

Lunglai melayu sendu

Terisak dalam dekapan Rindu

Terpaku

Biru

Ungu

 

Sekali lagi kau tak akan mengerti

Ataupun bila bulan menarik wajahku

Dan aku tengadahkan mukaku

Ku lihat wajah mu beku

engkau mencoba mengelak dalam ragu

Melupakan arti tangisan sunyi

Tangisan rumput dan bunga-bunga bersemi

Yang selalu takzim sujud memuji..

Aku rindu

Aku rindu

Aku rindukan kamu.

 

*****

“Ambil semuanya (keluar dari kamar tidur sambil melemparkan beberapa lembar kertas dan dua buah foto serta dua buah jaket cantik), aku tak membutuhkannya lagi, pergilah, aku muak melihat kakak”. Kata Irma.

”Irma (sambil berdiri), dengarkan aku, dengarkan dulu penjelasanku”.

”Aku tak butuh penjelasan, sudah jelas kakak menghianati cinta aku, semua teman-teman sudah tahu semuanya”.

”Baik kalau begitu maumu, jangan salahkan aku jika kamu menyesal”.

”Aku tak akan menyesal, masih banyak laki-laki lain yang mau sama aku”.

”Daaaar..” (Irma menutup pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam).

”OK… Jangan menyesal Irma, jangan menyesal”. Akupun segera keluar dan menghidupkan motor pinjamanku pergi, tanpa menoleh kebelakang lagi langsung saja aku pulang ke kost dan masuk kamarku kemudian mencari-cari surat-surat Irma, beberapa foto dan kemudian dengan kemarahan yang meledak ledak akupun membakar semuanya.

”Cewek egois, sok cantik,  kamu tak akan mendapatkan aku”. Umpatku sambil membakar semuanya.

”Iwan ! Iwan !” Panggilku pada teman kostku. Tolong belikan CTM 2.

 

****

Besoknya di Kampus aku sempat ditertawain sama teman-teman. ”Diputusin ni ye ….”. Ejek mereka. Awas si Irma itu, dia benar-benar kurang ajar, berani-beraninya dia cerita-cerita ma teman-teman, emangnya cuman dia aja cewek apa…

”Hei Samsul”! Mizan menyapaku.

”Aku denger kamu diputusin ya ma Irma”.

”Gak juga, kita sama-sama putus sih”. Emangnya dia cerita apa     saja ?

”Aku sih kurang jelas, karena aku juga dapat   cerita ma Ian, tapi maaf nih Sul, bukannya aku mau mencampuri urusan pribadi kamu, tapi sebagai teman yang baik, aku bisa kok kamu percaya”.

”Ya.. sini deh kita duduk di bawah ki hujan biar lebih nyaman”. Kataku sambil menggandengnya.

”Aku sih sebenarnya menyayangkan kok kalian itu  bisa putus, padahal kan udah lumayan lama pacarannya, Sayangkan ?

”ya juga sih, tapi aku udah gak tahan ma dia sebab dia terlalu egois”.

”Egois gimana ?”

”Pertama dia mau menang sendiri, kedua dia gak mau diperintah ma aku,  ketiga   dia gak   berani berkorban untuk aku.”

”Bisa diperjelas sedikit?”

”OK, kenapa aku bilang dia mau menang sendiri, dia itu gak pernah mau menghargai pendapat pendapat aku, terus kalau aku perintah untuk hal hal yang sepele aja  dia gak mau, misalnya hanya untuk sekedar masak nasi di kost kalau kebetulan dia datang, itupun aku yang akan bantu tapi ia tetap gak mau dengan alasan nanti kalau udah jadi isteri aja baru dia mau, trus aku sudah kasi dia semua yang dia minta tapi ia gak pernah berani berikan apapun juga ke aku”.

”O jadi gitu, sekarang aku bisa mengerti kenapa kalian putus, aku gak mau berkomentar, tapi yang jelas apapun yang terjadi pasti itulah yang terbaik untuk kalian”.

”Ngomong ngomong kamu udah punya calon pengganti buat Irma?”

”Emang ada sih, tapi masih belum jelas amat. Baru dalam tahap penjajakan.”

”Siapa namanya?”

”Nia, kamu pasti kenal kok kalau udah lihat wajahnya”.

”Ya sudah, aku mau ke kantin dulu, aku mau sarapan”.

 

****

Rasanya begitu lama malam anggoro kasih itu datang, aku menunggu dengan perasaan beerdebar-debar. Sms pun semakin gencar tak henti-henti. Saling puji dan saling sanjung membuat aku terbawa dalam perasaan cinta yang semakin membakar.

Begitu juga dengan Nia, aku merasa bahwa dia juga begitu bersemangat dengan suasana yang sengaja atau tidak sengaja sebenarnya kami dramatisir untuk menjadi berbau  lebih  romantis  dan lebih mesra.

Aku pernah selama beberapa hari hanya melulu tok ingat ma dia, bayangkan, aku gak bisa tidur, gak tenang kerja, gak tenang kuliah, yang ada di mata Cuma dia seorang, sampai sampai aku replek panggil teman dengan nama dia. Dan yang lebih menjengkelkan lagi suatu hari aku pernah dipanggil sampai lima kali tapi aku tetap gak dengar dengar sebab aku terlelap dalam lamunan menghayalkannya. Emang gila yang namanya cinta. Sehari serasa setahun, aku ngerasa sangat tersiksa, makan gak enak, dan aku menjadi lebih sensitif, aku jadi mudah marah hanya karena hal-hal yang sepele, dan yang paling menjengkelkan masa aku nangis setiap subuh saking kangennya ma dia , malu gak siiiiih. Tapi ya, memang itulah yang namanya cinta. Bisa ngebuat seseorang berubah seratus delapan puluh derajat. Dan emang wajar bukaaaan ? Manusia juga lelaki, eh salah…. lelaki juga manusia. Ada saatnya ketika ia harus menjadi seorang pelindung, ada saatnya ketika ia harus menjadi seorang pengayom, ada saatnya ketika ia juga bisa menjadi sosok pahlawan agung, dan ada juga saatnya ketika ia harus menjadi raja yang harus tunduk pada dekapan ratunya, merengek-rengek, dan menangis-nangis ketika datang rasa rindu itu, eh… jadi bela diri nih.. Jadi gak enak….Tapi maklumlah, karena saat cerpen ini aku tulis pikiranku juga masih terbelenggu ma wajah si brengsek Nia, pikiranku terus terpokus pada pigurnya, nah, nah, bayangannya terus datang, lihatlah, waduh…. dia melambai kepadaku, nah, nah,  dengarlah, dia juga memanggilku, ya Tuhaaaan, dia juga menarik tanganku. Adakah kau merasakannya? Aku terlena, lupa akan segala kata yang mesti aku tata, lupa akan segala bait yang mesti aku rakit.

Aaaaaaaaaaaaahhhhhhh. Kenapa aku mesti begini, kemanakah sejuta kata yang telah aku persiapkan tadi, mengapa sepasang mata itu mengikuti terus gerakan tanganku yang menulis pelan pada kertas-kertas lusuh ini. Dan mengapa aku jadi,……..ahhhhhh.

Lupakan kawan, aku hanya terlalu terbawa perasaanku. Aku terlalu mengingatnya. Mengingat mimpi-mimpi yang telah berlalu itu. Dan aku telah salah…… Aku telah salah…..

 

*****

 

”Sayang ? Jadi gak besok malam itu ?”  Aku bertanya pada Nia lewat SMS.

”Ya, aku tunggu abang sayang, aku merindukanmu, nanti kakak akan terkejut kalau ngelihat aku, sekarang aku kurus, bener kok kak”.

”Adik sakit ya?”

”Oh Kakak ganteng, aku sakit, aku sakit gak bisa melupakan kakak, aku gak bisa makan hanya mikirin kakak, aku gak bisa kuliah terus mikirin kakak, aku gak bisa baca, terus mikirin kakak, aku rasanya gak kuat lagi, kakak, datanglah sekarang juga, bawa aku pergi kemana saja, aku gak bisa jauh dari kakak, aku gak bisa”.

”Sabarlah sayang. Tunggulah aku besok malam, jika adik sudah yakin, jika adik sudah bulat niatnya, untuk apa berkata-kata lagi karena cinta bukan kata-kata. Cinta mengerti apa yang tak dikatakan.  Karena cinta memang bukan kata-kata. Tunggulah, kakak akan datang untuk adik, kakak akan datang untuk adik”.

****

”Sul, Irma titip pesan sama aku, dia mau ketemuan katanya entar malam, ia nyuruh kamu ke rumahnya, dan kamu harus datang katanya.” Kata Mizan padaku pagi harinya. Kemudian malam itu aku dengan masih sedikit emosi pergi juga ke rumah Irma, langsung saja aku mengajak Irma bicara panjang lebar untuk menyelesaikan masalah kami.

”Maafkan aku, kemarin itu aku terlalu emosi”. Kata Irma padaku.

”Tidak ada yang perlu dimaafkan”.

”Apa kakak masih marah?”

”Untuk apa aku marah, tapi seperti yang kamu bilang kemarin, bahwa kamu sudah muak dengan aku, jadi sebenarnya tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, kalo kamu sudah muak dengan aku, itu artinya kamu sudah nggak suka ma aku, kalau kamu udah gak suka, itu artinya kamu juga gak cinta, kalo kamu udah gak cinta, ya artinya kita bubaran saja.. bukankah begitu juga kamu cerita ma teman-teman, kalau kita sudah putus?” Dan tiba-tiba saja Irma menunduk, air mata membanjiri wajahnya, dan bibirnya bergetar.

”Aku tak menyangka, secepat itu kakak melupakan janji-janji kita. Bilang saja kalau aku sudah tak cantik lagi”.

”Kamu tetap cantik, kamu masih seperti yang dulu, tapi kamu sudah terlanjur memutuskan hubungan kita secara sepihak. Aku ya Cuma terima saja.”

”Oke, kalo memang kakak bersikeras kita mengakhiri hubungan ini, aku terima, tapi tolong kamu kasi tahu aku kesalahan aku, jika sekarang sudah tak ada kesempatan lagi untuk memperbaikinya, mungkin kelak bisa menjadi pelajaran bagiku”.

”Baiklah, Aku akan hitung kesalahan kamu, biar kamu puas, aku juga puas dan tidak menyalahkan perpisahan ini, yang pertama, kamu tidak taat kepada aku, contohnya aku suruh kamu potong rambut kamu gak mau, yang kedua, kamu bohong tentang wanita yang mendatangimu di kampus dan bilang bahwa wanita itu mengaku pacar aku. ”

”Aku gak bohong!”

”Beranikah kamu Bersumpah bahwa  ibumu akan mati jika kamu bohong?” Nia terdiam dan menunduk.

”Yang ketiga, kalo aku menghitung dari dulu sejak pertama kita berpacaran kira-kira ada delapan kali kamu ngajak aku putus, dan saat itu aku selalu mengalah demi mendapatkan cintamu, tapi sekarang aku sudah tak tahan lagi, kesabaran ada batasnya. Dan aku juga punya harga diri, aku sudah lelah merayu kamu, aku sudah bosan mengemis cintamu.”

”Kak, maafkan aku, berilah aku kesempatan sekali lagi, aku berjanji tak akan mengulanginya”.

”Yang ke empat aku sudah terlalu banyak berkorban untuk cinta kita ini, aku telah mengorbankan waktuku, aku telah mengorbankan pikiran dan perasaanku, tapi sekali-kali kamu tak pernah menghargai perjuangan cintaku, aku sudah terlalu lelah dengan semua ini. Kamu terlalu egois, sekarang berpacaranlah dengan ke egoisanmu itu. Dan seperti yang kamu bilang, kamu sudah muak dengan aku.  Ya… apa boleh buat, perpisahan memang jalan terbaik bagi kita. Ambillah jalanmu sendiri”.

”Baiklah, jika kakak memang sudah bertekad bulat tentang perpisahan ini, dan tak ada jalan kembali lagi bagi aku, aku hanya minta maaf atas semua kesalahanku selama ini”.

”Aku juga minta maaf, mungkin selama ini aku terlalu sok memerintah kamu”. Irma terdiam seribu bahasa, ia mengusap air mata yang mengalir di wajahnya. Terlihat nada penyesalan di wajah itu, tapi aku sudah bertekad bulat untuk mengakhiri saja semuanya. Dan Irma memang sudah terlambat. Karena memang begitulah jiwaku, aku selalu berlemah lembut pada siapapun, untuk awalnya aku selalu mengalah, terus mengalah, dan terus mengalah, tapi jika kesabaranku sudah habis dan aku terlanjur kecewa, maka aku tak akan pernah bisa baik kembali, seperti kaca retak yang tak akan pernah bisa disatukan kembali, sama saja mengharap pasir menjadi beras. Dan itulah satu-satunya watak warisan dari kakekku, yang kemudian turun juga ke semua anak cucunya, termasuk aku.

”Pulanglah”. Kata Irma padaku..Kemudian aku meninggalkan rumah itu, rumah yang begitu sering aku kunjungi, dan aku tahu bahwa aku tak pernah menjejakkan kembali kakiku di rumah itu, tapi aku tak pernah menyesalinya, ya, aku memang tak pernah menyesalinya.

 

 

****

”Nia !  Nia ! Bukain pintu dong !” Kata seseorang dari luar pintu sambil mengetuk-ngetuk pintu.

“Ya.. Sabar dooooong”.  Kata Nia.

“Aduh… temenku ini, habis sakit ya… matanya cekung, pipinya kempes, kok gak ngasi aku kabar sih kalau Nianya udah sakiiit.”.

“Salah tao’ yang bener aku lagi jatuh cinta nih, bayangin, ada cowok super keren, matanya tajaaam banget, dan tatapannya bikin aku damai, kehadirannya di dekatku membuat aku merasa terlindungi, pokoknya cowok itu begitu heboh, dan ini nih akibatnya, aku jadi kurus, kasi resep donk agar aku gak terlalu tenggelam dalam kerinduan tak berujung ini.”

“Aduh aduh…. Kayak apa sih cowok itu, dia temen kampus ato dari mana sih ?”

“Dia temen kampus,  teman setingkat sih”.

”OoooooOo, Nia.. boleh gak ikutan tau lebih banyak  tentang cowok tu, mugkin dengan mengetahuinya aku bisa memberikan sedikit pertimbangan-pertimbangan tentangnya, aku kan sudah banyak pengalaman, mungkin itu berguna bagi kamu..”

”Boleh!”

”Dia punya pacar gak?

”Ya, tapi demi bela-belain perkenalannya dengan aku, dua minggu yang lalu dia mutusin pacarnya itu”.

”Ah masa demi sebuah perkenalan dia rela melepaskan pacarnya, Nia, kamu itu kan belum jelas mau nerima dia apa nggak, masa dia udah berani mutusin pacarnya, hati-hati lo Nia, ini kayaknya ada yang gak bener, biasanya gini nih ciri-ciri playboy cap Digatal”.

”Kok cap Digatal sih”.

”Iya, sekarangkan pakai kabel udah gak  level, semua udah serba Digital, jadi ya cowok Cap Digatal gitchu.”

”Ah masa sih, kayaknya dia tulus mau sama aku”.

”Nia, aku ini udah pengalaman, udah berapa puluh lelaki yang sudah aku pacari, kesimpulanku dari semuanya, ternyata lelaki semuanya buaya”.

”Gak, tapi kayaknya kakakku yang satu ini beda. Dari pandangan matanya aku percaya dia tulus mau ma aku”.

”Nia…. pandangan mata bisa dibuat-buat, mau dibikin kayak tukang hipnotiskah matanya, mau dibikin kayak orang lugu kek, atau kayak mata orang yang tuluuuuuus banget,  aduh lucu banget deh kalau kamu masih percaya sama itu mata”.

”Aku gak tahu sih sebenarnya, tapi aku hanya mengikuti kata hatiku, aku terlalu mencintainya walau memang belum ada komitment di antara kami, dan aku menikmati saat-saat merindukannya, walaupun itu sebenarnya siksaan berat bagi aku, bayangkan Li’, aku gak bisa tidur, aku gak bisa makan, sehari serasa setahun, aku rasanya ingin saja mengantarkan diriku padanya, yang penting aku bisa di dekatnya”.

”Nia, rupanya kamu sudah terhipnotis ma mata tu cowok. Nia dengarlah aku, sesungguhnya cinta datang dari mata, bayangkan seandainya kamu gak pernah melihatnya, kamu pasti gak akan jatuh cinta pada dia, maka aku hanya menyarankan, sebelum kamu jadi tambah kurus, kamu masih punya kesempatan untuk menjauh dari dia, kamu usahakan gak melihat dia terlalu sering, maka lambat laun kamu  akan melupakan dia. Nia, hati itu rapuh, bisa bergerak ketika angin berhembus, aku gak yakin kamu sudah sejauh itu terperangkap dalam dendam cinta sama tu cowok, kamu pasti bisa melupakannya”.

”Li’, aku gak bisa, aku dah terlanjur cinta ma dia”.

”Kamu pasti bisa, bayangkan, matahari yang bersinar terang, seterang apapun sinarnya, kalau kita membelakanginya, maka kita gak akan silau olehnya, begitu juga cinta.”

”Li’, kamu sadar gak sih, apa untungnya bagi kamu untuk menyuruh aku menjauhi tu cowok”.

”Lho.. kok redaksinya lain sih, aku gak bermaksud apa-apa, aku hanya memberi peringatan, karena  aku gak mau temen dekatku jadi korban lelaki mulut buaya, tapi kalau kamu mencintai dia, juga gak salah, aku justru senang lihat temanku bahagia, semoga dia memang lelaki terbaik”.

”Gitu donk, dari tadi ngeledekin orang yang paling aku sayang di dunia ini (suara Nia bergetar), aku mencintai dia walaupun dia belum ngucapin kata itu ma aku, aku bahagia mengenalnya, dan aku menikmati kepedihan karena merindukan dia, aku yakin, dia akan menjadi milikku”.

”Amiiiin, ya dah, semoga kalau kamu jadian, dia bisa jadi bapak dari anak-anakmu kelak….”

”Amiiiiiin”.

”Siapa namanya?” Tanya Lily pada Nia.

”Samsul, mantan pacar si  Irma”.

”Ooooooo, aku kira siapa, rupanya jadi kamu es em es in dia”.

”Jadi doonk..” Terlihat wajah Lily sedikit kecewa, tapi Nia tak pernah tahu akan arti dari semua itu. Juga akan arti kehadiran Lily dalam cerita ini. Dan sampai sekarang aku juga belum sempat untuk menceritakan apa peran si Lily dalam kehidupanku selanjutnya pada Nia, biarlah tangan-tangan rapuhku akan menggores lembar demi lembar cerita ini  untuk menjadi cerita yang utuh dalam kesatuan kalimat-kalimat merah dengan lengkungan-lengkungan gemulai dan lenggok yang indah dari  hurup-hurup jalan yang kutulis dengan rapi seperti semut berbaris di tali-tali jemuran.

 

****

”Assalamu’alaikum”!

”Wa ’alaikum Salam !”

”Duduk kak”.

”Ya”. (Mataku berkeliling melihat beberapa lukisan di dinding kamar itu, kamar kostnya memang lumayan gede, ditambah ada dapur plus toilet di kamar belakang).

”Duduk kak, maaf berantakan”.

”Gak… udah rapi kok….”

Begitulah sederet kata-kata pembuka jumpa kami di malam anggoro kasih itu. Semenit, dua menit, tiga menit dan gak kerasa 7 menit berlalu, tapi kami berdua tetap membisu.

”Kok adik diam aja”. Sapaku. Aku melihat matanya, tapi aku terkejut, yang aku lihat adalah tetesan air mata yang mulai mengalir deras di kedua pipinya, ia mulai menyeka air mata itu dengan jari-jari lentiknya. Ia mencoba tersenyum padaku, tapi air mata itu terus mengalir.

”Adik kenapa, kenapa adik nangis”. (Nia hanya menggelengkan kepalanya.)

”Ngomong dong biar jelas, apa masalahnya?”. Nia tetap membisu, kini ia tak bisa lagi mengangkat mukanya, air mata terus mengalir membasahi pipinya, dan tiba-tiba ia mendekat, kemudian tiba-tiba ia merangkul aku, dibenamkannya wajahnya di dadaku.

”Kakak, maafkan adik, kita memang belum sempat ngomong, tapi adik tahu, sejak pertama kali kita bertatapan mata, bukankah sudah ada perjanjian cinta di antara kita, adik yakin kalau adik gak bertepuk sebelah tangan, adik sayang kakak, adik gak bisa jauh dari kakak”. Tangisnya. Dia semakin erat merangkulku. Aku membiarkannya menenangkan perasaannya. Dan tak terasa hidungku juga mulai mampet, alias mau nangis juga. Dengan suara bergetar, aku menjawab perkataannya.

”Adikku sayang, kakak juga merindukan adik, mungkin kakak lebih lagi dari adik. Terima kasih atas kepercayaan adik itu. Sekarang semuanya sudah jelas. Seperti yang adik  bilang, telah ada perjanjian cinta di antara kita, kakak akan memegang kata itu. kakak mencintai adik”.

”Adik juga”.

Kemudian aku merenggangkan rangkulannya, Dan aku kecup keningnya dengan kecupan sayang. Kemudian kembali aku memeluknya, mataku terpejam, mencoba menikmati kedamaian bersama orang yang selama ini aku mimi-mimpikan.

Tiba-tiba seperti tersadar, dia melepaskan rangkulannya dan duduk disebelahku.

”Maaf kak, kakak jangan tersinggung, adik takut nanti ada orang lewat yang ngeliat kita. Nanti kita dikira ngapa-ngapain”

”Ya”.

Nia menghapus sisa-sisa air matanya.

”Adik yakin dan  siap menjadi kekasih kakak?”

”Ya, adik yakin”.

”Nia, kusir memegang kendali, nahkoda memegang kemudi, dan sepasang kekasih memegang janji. Apa janji adik sama kakak”.

”Adik berjanji akan selalu setia, mencintai, dan menyayangi kakak dengan sepenuh jiwa Adik, tapi adik juga minta, jangan pernah menyia-nyiakan cinta adik, jangan pernah menduakan adik, jika kakak kelak merasa bosan, maka katakan, jangan pergi tanpa berita”.

”Kakak berjanji, kakak juga akan selalu setia sama adik, dan akan menjaga adik semampu kakak, asalkan adik selalu percaya dan selalu yakin dengan kakak, kita akan perjuangkan hubungan ini, semoga sampai tujuan”.

”Amiiiin. Kak, mungkin kakak udah makan, tapi tadi adik sengaja masak banyak yang khusus untuk kakak, biar kakak juga tau bagaimana rasa makanan yang dimasak sama calon isterinya, benar kan kak calon Isteri ?”.

”Ya”. Kataku menganggukkan. Nia kemudian pergi ke dapur, mengambil makanan yang memang sudah disiapkan, ada tahu, tempe bacem, sayur bening dan kerupuk.

”Kakak kan katanya suka ma kerupuk, makanya tadi sengaja beli’in kakak kerupuk, Ayo kak, anggap saja kost sendiri, jangan sungkan.”

”Ya”.

Aku mengiyakan, kemudian dengan santai menikmati makan malam bersama.

Sesungguhnya ini adalah makan malam yang istimewa bagi aku. Karena perkenalan ini sesungguhnya tidak begitu aku mengerti. Karena tiba-tiba saja kami menjadi begitu akrab seolah seperti sepasang kekasih yang sudah bertahun saling kenal mengenal. Aku mencoba memahami jalan pikiran Nia kekasih baruku ini.

Ato mungkin saja jalan pikiran kami sama, sehingga pertemuan ini begitu cepat menjadi akrab. Dan aku berharap kelak hubungan ini akan sampai ke jenjang yang memang menjadi impian semua pasangan kekasih. Sehidup semati. Menjadi suami isteri.

 

*****

 

”Cyg, bgn dnk.. udh pagi..” Bunyi sms nia padaku pada pagi harinya.

”Ya.. kk udh bgn kok.. say.. entar kita ketemu di kampus ya..”

”Ya..Cyg.. dadaaaaahhhh”.

Pagi itu dengan tergesa-gesa aku berjalan menuju kampus.

”Hari ini pasti sangat istimewa, karena aku akan ajak Nia pergi Foto bareng”. Kataku dalam hati.

”Samsul !”

Seseorang memanggilku dari belakang.

”Eh Mizan, gimana kabarnya nih”.

”Justru aku yang nanya, katanya kamu udah jadian ya ma Nia?”

”Begitulah, dan hari ini aku berencana ngajak dia pergi foto bareng.”

”Wah, asyik banget donk, nanti kalau kamu peluk dia di tempat foto jangan lupa niatkan aku ya, soalnya pingin tahu gimana sih rasanya meluk cewek”.

”Dasar pikiran kotor, ya dah, nanti aku niatkan, Oke deh, sampai sini dulu ya, soalnya aku terburu-buru karena udah janjian ma Leo untuk diskusi tentang tugas kami….”.

”Ya… ya.. Eh, bilangin sama Leo kalau ketemu, aku mau pinjam wangnya tiga puluh ribu, gak ada ongkos pulang nih….”

”Ah ellooooo, pinternya jadi tukang sindir… Nih lima puluh ribu, salam sama bapak ibu di rumah”.

”Siiiiip, nanti aku bawain belinjo dua kilo, soalnya lagi musim belinjo di rumah..”.

Begitulah sederet percakapan aku sama Mizan pagi itu, Mizan adalah temen dekatku, biasanya kami selalu bersama-sama, kebetulan kost kami juga berjarak sekita seratus meter. Jadi kalo kebetulan kami ada jam kuliah bareng, pasti pergi dan pulangnya juga bareng, Mizan juga adalah teman senasip sepenanggungan, kami pernah selama satu bulan makan donat saking bokeknya gak ada duit. Ato kami pergi ke pantai ampenan dari ashar sampe jam dua malem, sekedar jalan-jalan ngukur jalan. Ato kami pergi ke perpustakaan daerah sehabis kuliah sampe perpusdanya nutup. Ato  aku ajak si mizan nemenin aku di internet sampai lima atau enam jam. Jadi begitulah, kami sudah begitu saling  kenal antara satu dengan yang  lainnya.

Dan sehabis aku diskusi’in tugas sama Leo, kemudian aku pergi menemui Nia di ruangannya.

”Nia !” Panggilku, beberapa teman nia menoleh, ada yang tersenyum ada juga yang mencibir-cibir bawang.

”Jam berapa pulangnya”?

”Masih sayang, entar jam sebelas habis mata kuliahnya. Tungguin ya ampe abis”.

”Ya daah.. Kalo gitu kakak mau kuliah juga nih, soalnya ada tugas yang mesti dikumpulin.”

”He eee”. Nia mengambil tanganku dan kemudian menggenggamnya mesra, tak berkedip matanya menatap mataku, aku melihat ada sejuta kerinduan yang tak terungkap di sana.

”Nanti aku tunggu di Puskom (Pusat Komputer) aja”.

Dan setelah itu akupun pergi ke ruanganku, tapi kini hatiku menjadi lebih lega, karena rasa rinduku telah sedikit terobati walaupun tadi malam kami juga telah bertemu. Dan pagi itu setelah selesai kuliah aku dengan setia menunggu Nia di Puskom sampai jam sebelas.

”Duh…. abangku yang ganteng.. udah lama nunggunya sayang”. Nia mengambil tanganku kemudian menggenggamnya erat, matanya tak berkedip memandang wajahku. Akupun memandangnya dengan tatapan rindu dan dendam cinta yang membara, seolah ingin menelannya bulat-bulat.

”Gak, barusan aja kok, aku kan habis kuliah juga, suntuk, dosennya membosankan”.

”Suntuk karena dosen atau apa?”

”Bener kok suntuknya karena dosen, tapi yang lebih benar lagi aku berdebar-debar nunggu adeeeeeekk”. Bersinar mata Nia mendengar kata itu, ada sedikit rona merah di wajahnya, Nia tersenyum manis, saaangat manis, dan kelak dikemudian hari senyum inilah yang membuat aku menderita, membuat aku menderita.

”Kakak mau ngajakin aku ke mana sih”?

”Aku mau ngajak Nia pergi foto bareng, agar kalau aku rindu sama Nia yang caem, aku bisa ngobatinya dengan melihat foto itu. Gimana, mau kan say…”

”Gimana ya, maaf deh say, aku lagi gak mood, mungkin nanti di laen waktu aja, gimana”. Mendengar penolakan Nia itu wajahku langsung memerah, dalam hatiku berkata bahwa seandainya Nia betul mencintai aku pasti dia akan menuruti segala keinginanku.

”Sayang, jangan marah gitu donk, pleaseeeee, aku sayang kakak, semua keinginan kakak pasti aku akan turuti, tapi untuk kali ini aku mohon soalnya aku lagi gak moood banget nih”. Nia menggenggam tanganku lebih erat.

”Ya dah gak papa, nanti aku ajak kucingku aja maen foto-fotoan”.

”Kaaakak cepatnya ngambek, please jangan marah donk, yaaaa”. Nia mengangkat tanganku dan mengecupnya mesra.

”Gak, aku gak marah, bener kok, ya udah, kalau gitu, aku langsung anter adek pulang, gimana”.

”Kaaaakaaak, aku tahu kakak marah kok, tuuh, wajahnya masem terus.”

”Gaaaak, beneran kok aku gak marah, ya dah sayang, yuk kita pulang”. Aku menggandeng tangan Nia sambil bercerita A I U sampai di kostnya, aku berusaha menyembunyikan rasa jengkel di hatiku dengan tetap tersenyum semanis-manisnya. Tapi dalam hatiku sebenarnya terasa amat sakit, maklumlah aku sebenarnya termasuk cowok tipe sanguinis, jadi perasaanku sangat halus dan emosiku bisa sangat cepat  berubah.

Begitu banyak kata terucap dari Nia pada siang itu, merayu aku dengan segala kelemah-lembutan, tapi seperti yang aku bilang tadi, seolah Nia hanya membangun rumah di atas pondasi berlumpur, maka sia-sialah perjuangan Nia merayu aku pada siang hari itu karena bagaimanapaun juga hatiku telah terlanjur mengkal, pedih seperti disiram cuka.

Setelah sampai di kostku kuputuskan saja untuk tidur, kepalaku serasa sakit, dan begitu cepatnya aku tertidur sehingga aku tak sempat untuk menyalakan kipas angin di suhu yang begitu panas pada siang hari itu. Memang kebiasaanku kalau aku merasa gak mood maka aku biasanya tidur berhari-hari, bangun hanya makan dan solat, dan setelah perasaanku baik barulah aku beraktivitas lagi.

Jam empat sorenya aku terbangun, dan ketika aku melihat handphoneku ada beberapa misscall yang terdaftar di sana, Nia misscall sampe sembilan kali. Dan ketika aku buka inbox Hpnya ada tiga pesan di sana.

”Kak, entar malam dateng yaaa ?” Sms Nia yang pertama.

”Kak, kok sms Nia nggak di bales sihhh….”. Sms Nia yang ke dua setelah setengah jamnya.

”Kak, please, kakak marah ya… Kakakku sayang, kan Nia udah Minta maaf…, Ya udah, kakak mungkin lagi tidur jadi gak baca sms yayangmu ini, Celamat bobo cayang… Entar malem datang ke kost ya.. Nia tunggu”. Bunyi sms Nia yang ke 3 kalinya 15 menit setelah itu.

Sebenarnya jujur saja dalam hatiku masih ada luka tersisa, namun aku gak boleh terlalu mempermasalahkan masalah yang sedikit, nanti itu bisa saja menjadi bumerang bagiku sendiri, yakni kehilangan Nia, dan aku gak ingin kehilangan gadis yang baru mulai aku cintai ini, bagaimanapun sakit di hatiku, aku harus memaafkannya. Atau Nia punya alasan lain yang lebih kuat sehingga menolak ajakan aku tadi pagi, atau juga karena satu hal lainnya lagi. Dan aku harus memaafkannya. Aku berjanji pada diriku untuk pergi mengunjunginya nanti malam.

 

****

Nia, bukain pintunya sayang, abang ada di luar nih…”

”ya sebentar kakakku”. Tidak berapa lama kemudian pintu kost itu terbuka seperempatnya, kemudian aku masuk dan duduk di sisi barat, sisi yang paling jauh dari pintu dan gak terlihat oleh mata-mata orang yang lewat, biar lebih aman…dan aku mengambil bantal yang terletak di kasur kemudian menaruhnya di punggungku, supaya duduknya jadi lebih empuk seraya aku selonjorkan ke dua kakiku.

”Kakak, senyum yang manis donk, masak masih marah sih…” Nia mengambil tempat duduk di sebelahku kemudian menyandarkannya kepalanya di bahu kiriku.

”Maaf smsnya gak aku bales tadi siang, aku ketiduran ampe jam empat, habisnya capek banget.”

”Ya gak papa, aku sudah mengira kakak lagi tidur, makanya aku bilang di sms itu kalau mungkin kakak lagi tidur.”

Kemudian aku mengambil wajah Nia, dan menghadapkannya ke mukaku, Nia menurut saja dengan tatapan yang begitu menyerah, tapi aku kemudian berkata kepada Nia dengan suara lembut dan sedikit bergetar.

”Bener Nia cinta ma aku?”

”Ya”.

”Bener Nia juga sayang ma aku?”

”Ya”. Jawab Nia.

”Tapi kenapa Nia hanya sekedar foto bareng aja gak mau ma kakak, bagaimanapun wajah Nia saat kita difoto, itulah wajah Nia yang asli, kakak gak suka wajah yang dibalut-balut, seandainya jika hanya gak mood itu yang menjadi alasan Nia, tentu kakak gak bisa menerimanya.”

”Sayang, sebenarnya bukan gak mood itu yang menjadi alasan sebenarnya”.

”lalu apa sayang”.

”Sayang, kamu tahu gak sebuah foto, foto adalah sebuah media untuk mengenang sesuatu yang telah berlalu. Aku hanya tak ingin jika kakak melihat foto aku, kemudian kakak merasa bahwa aku hanya bagian dari sesuatu yang telah jauh, sesuatu yang hanya tinggal kenangan”.

Aku terpana mendengar jawaban Nia, jawaban yang sangat tepat.

”Apalagi?”

”Dan sebenarnya merindukan adalah lebih indah bagi sepasang kekasih, jadi seharusnya kita bisa menikmati penderitaan saat merindukan seseorang. Dan ketika  kita merindukan seseorang, walaupun sebenarnya ia jauh, maka ia menjadi begitu dekat di hati kita, bahkan lebih dekat dari tangan kita sendiri, dan ia menjadi begitu hidup dalam perasaan kita, sehingga kita tahu bahwa ia tak pernah jauh dari kita, apalagi untuk menjadi masa lalu seperti foto. Ya, karena itulah aku memutuskan untuk gak mau foto sama kakak, agar ketika aku merindukan kakak, kemudian kakak hadir dalam ingatanku, memenuhi ruang-ruang yang ada dalam jiwaku.”

Aku tertegun dengan kata-kata yang diucapkan oleh Nia, dan aku menjadi begitu tersanjung dengan itu.

”Sayang, maafkan aku, aku salah, aku mengira adik hanya mempermainkan kakak”. Kemudian aku merangkul Nia, dan membiarkannya beberapa menit dalam dekapanku. Dan Nia berbisik lembut di telingaku.

”Kakak, aku sayang kakak, jangan pernah tinggalkan aku”.

”Kakak berjanji, kakak berjanji sayang.”

 

****

*Sayang…..tiada saat terindah selain saat menatap wajahmu

Yang berbinar dalam gelap malam..

Mengapakah juga kau masih memimpikan rembulan itu

Lihatlah langit telah merah oleh sayap fajar

Mentari akan segera datang memanggil namamu*

 

Waktu terus berjalan, hari berganti, musim berganti, tapi cinta aku dan Nia terus berjalan, kurang lebih setahun waktu telah kami lalui bersama. Aku menjadi lebih mengenal dirinya, dari semua sisi kehidupan. Dan aku bangga memilikinya, walaupun sebenarnya belum sepenuhnya. Artinya akad nikah belumlah terjadi. Jadi sewaktu-waktu bisa juga terjadi Nia meninggalkan aku, atau aku yang meninggalkan dia.

Dalam dunia entertainment, aku adalah pengagum berat Britney Spears,  aku banyak mengoleksi gambar-gambarnya, baik berupa poster-poster  yang dijual di pasar ataupun foto-foto konser britney yang menumpuk di internet. Dan saking beratnya aku ngefans sama si britney, suatu hari aku memodifikasi foto britney ma aku ceritanya lagi duduk berdampingan. Setelah poles sana-poles sini dengan program yang lagi ngetrend saat itu yakni Photo Impact XL, maka jadilah foto itu tampak begitu nyata, seperti aku dan britney kayak difoto bareng aja. Bayangkan aja pencahayaan latarnya begitu sempurna, begitu juga baju kami yang menempel seperti baju yang pas banget. Emang si operatornya juga sih yang jago banget otak atik gambar. Jadi deh foto berduaan itu aku cetak dengan harga melambung, soalnya waktu pengeditannya yang begitu lama, sekitar tiga jam. Setelah itu, seperti azimat aja kayaknya, foto itu aku taruh di dompet, jadi kalo aku buka dompet aku pengen orang lihat foto aku bareng britney lagi berduaan, pasti seru kan. Orang bego kan gak tahu siapa britney, ya kaaannnn.

”Kak, sini dompetnya, aku mau pinjam uang buat pulang besok”. Kata Nia suatu hari, seperti biasa, aku dan Nia tak pernah terlalu saling menghitung, baik uang, makanan, atau apapun juga. Kami selalu berbagi bersama. Bahkan sesuatu yang gak perlu aku ceritain ma pembaca juga aku berbagi. Bener Lhoooo, gak perlu aku ceritain.

”Ini”. Aku memberikan dompetku pada Nia. Dan ketika Nia membuka dompet itu, tiba-tiba ia tampak begitu terkejut, wajahnya memerah. Aku gak menyangka foto itu akan begitu menarik perhatiannya dan bahkan bisa membuat emosinya meledak saat itu juga.

”Kak, kenapa foto si Britney ada di sini, sejak kapan kakak menyimpannya”.

”Sayang, masa adik cemburu sama si Britney, itukan cuma foto mainan aja. Anak kecil juga bakal gak percaya kalau aku pacaran sama britney.

”Aku tahu, tapi bagaimanapun juga kakak gak boleh membagi cinta aku dengan siapapun, baik yang dekat maupun yang jauh, baik yang nyata maupun yang abstrak. Aku juga begitu, selama ini aku menjaga betul kemurnian cinta kita. Sampai-sampai aku dibonceng sama misanku saja gak mau. Takut nanti kakak bakal cemburu.”

”Sayang, ya sudah, kakak sobek aja kalau begitu, maaf kalau yayangku yang cantik ini jadi cemburu.” Kemudian aku menyobek-nyobek foto si britney itu menjadi serpihan-serpihan kecil. Kemudian aku mengambil tempat duduk di kursi yang ada di depan meja rias Nia.

Nia mendekat kemudian memegang bahuku dari belakang.

”Kakak, setiap orang punya impian, dan orang hidup mengejar impian, dan aku gak ingin kakak membuat si britney itu menjadi impian kakak. Kemudian kakak terobsesi dengan si britney itu. Kakak, si Britney itu cantik dan adik jelek. Dan apabila kakak melihat foto itu, maka akan timbullah cinta kakak, dan apabila besoknya kakak melihat foto itu, kemudian bertambah cinta kakak satu, besoknya bertambah lagi cinta kakak satu, demikian seterusnya, sehingga lambat laun akan pudar juga adik yang jelek ini. Adik gak ingin kehilangan kakak, adik sangat mencintai kakak, kakak adalah cahaya kehidupan adik.”

Nia berhenti sebentar menunggu jawabanku sambil memegang bahuku dari belakang. Aku memandang wajah Nia lewat cermin yang ada di depan kami.

”Sayang, aku gak mencintai Britney, aku hanya suka melihat wajahnya yang cantik itu, wajarkan kalau aku ngefans sama dia”.

”Ya, kakak memang boleh saja ngefans sama dia, tapi seperti kataku tadi, seseorang yang kita kagumi itu adalah mimpi, dan mimpi selalu mempengaruhi orang-orang. Orang juga  akan terpengaruh gaya hidupnya, pikirannya, sesuai pikiran dari siapa yang diimpikannya, dan seperti yang adik bilang tadi, orang hidup mengejar mimpi, dan aku gak rela cinta kakak walaupun setetespun akan terbagi buat si britney itu. Kakak mengerti kan?”

”Kakak mengerti, Ok deh, mulai saat ini kakak akan melupakan si britney itu, kakak janji deh…”

Hatiku untuk yang kebeberapa kalinya telah merasa begitu tersanjung, begitu indah cara Nia menanamkan benih cintanya dalam hatiku. Dengan samar dia membawa aku ke dalam perangkap cintanya yang dalam, gelap gulita dan penuh air….    ehhh.. kok jadinya kayak sumur ya.

Tampak wajah Nia di cermin berbinar-binar mendengar kataku, dan entah apa yang terjadi sesudah itu, pastinya, aku tambah cinta dan tambah sayang kepada Nia. Kini aku semakin tahu, bahwa Nia memang sangat mencintai aku dan cinta itu sangat besar sekali, pokoknya besar.. aku gak bisa menceritakannya karena aku memang gak pernah melihat cinta itu dengan nyata di depan mataku. Sumpah. Aku gak pernah melihatnya.

 

*****

 

”Nia, gimana hubungan kamu dengan Samsul?”

”Baik”.  Jawab Nia pada Lily.

”Gimana pendapat kamu tentang Samsul”.

”Dia baik, setia, pengertian, jujur, dan selalu sayang pada aku”.

”Oya, Irma kemaren datang ke kost dan kita sempat ngomong-ngomong, dia cerita banyak tentang samsul, dan beberapa yang aku catat kalo Samsul itu jahat, sombong, mau menang sendiri, egois lagi!”.

”Itu kan kata irma, ingat, mantan itu pasti ngomongnya yang jelek-jelek sama bekas pacarnya”.

”Kalau aku sih sepakat ma Irma, Samsul itu memang play boy orangnya”.

”Lho… kok kamu yang sewot, apa untungnya bagi kamu jelek-jelekin yayang aku”.

”Nia, aku cuma gak mau lihat kamu jadi korban si Samsul itu, lihat sekarang si Irma, setelah semuanya hampir diberikan ama si Samsul, eh Samsulnya ngacir. Siapa yang menjamin kalau Samsul itu bakal gak akan ninggalin kamu ?”

”Siapa juga yang menjamin kalau Samsul juga bakal ninggalin aku ? Udah deh… biarin aku dengan yayangku, jangan mencampuri urusanku!”. Nia mulai sedikit emosi dengan Lily.

Tampa diduga, besoknya ternyata datang lagi si Lily di kost Nia.

”Nia, kamu masih percaya sama si Samsul?”

”Iya, aku sayang sama dia, Samsul itu adalah cahaya hidupku, dia adalah pujaan hatiku, dia adalah pelindungku, dia adalah pahlawanku, dia adalah segala-galanya bagi aku.”

”Maaf Nia, bukan aku bermaksud mencampuri kehidupan kamu. Kemarin si Irma datang ke kostku, dan kembali bercerita tentang si Samsul itu, mungkin sama seperti kamu, dulu sama si Irma si Samsul juga ngomongnya wah, bakal setia sampe mati, bakal mencintai Irma selama-lamanya. Tapi apa, ternyata setelah dia ketemu kamu yang sedikit lebih cantik dari dia, eh besoknya langsung deh si Samsul mutusin Irma, kamu gak takut bakal digituin nanti”.

”Sudah-sudah, cukup Li’, kamu terlalu mencampuri urusanku.”

Kesal juga Nia sama si Lily, dan Nia lama-lama menjadi curiga juga sama si Lily, apakah motif dibalik kelakuan Lily yang terus menjelek-jelekkan samsul di depan Nia? Apakah si Lily cemburu pada Nia, ato jangan-jangan si Lily jatuh cinta sama si Samsul, wah, gawat juga pikir Nia.

Besoknya lagi ternyata datang lagi si Lily sama temennya. Hati Nia benar-benar kesal dan mengkal.

“Mau ngapain lagi Li’, pokoknya aku gak akan terima apapun yang kamu katakan tentang Samsul”.

”Tunggu dulu, tau gak siapa yang ini”.

“Emangnya siapa”.

“Ini dia si Irma, mantan pacar Samsul”.

”Ooooo, sory kak Irma, kirain siapa tadi”.

”Oooo, rupanya ini pacarnya Samsul, cantik juga, pantas matanya Samsul jadi gak berkedip. Sory kalau aku ke sini, aku cuma mau mengingatkan kalau adik harus hati-hati, menjadi wanita itu posisinya sulit. Kita gak boleh menduakan lelaki, tapi lelaki kadang menduakan  kita, jadi berhati-hatilah, aku takut nanti Samsul juga menyia-nyiakan adik, sama seperti aku dulu. Mau tahu gak, dulunya sih Samsul itu begitu cinta sama aku, bahkan ia pernah berjanji untuk selalu setia ma aku sampe kita nikah kelak, tapi apa buktinya, sekali dia berkenalan ma adik, eh, langsung deh dia mutusin aku”.

”Kayaknya redaksinya lain dari yang diceritakan kak Samsul  sama aku, jujur ya, kalau versinya kak Samsul sih dia mutusin kakak karena dia telah terlalu jengkel sama kakak, katanya kakak itu selalu egois dan mau menang sendiri.”

”Nia, kamu bayangin dong, dulu aku dan Samsul kan belum nikah, tapi masa aku udah dia perintah segala macam, diperintah masak, nyuci, setrika dan lain sebagainya. Masak kamu mau?”

”Kak Irma, yang namanya cinta, cinta tak mengenal egois, kalau kita mencintai seseorang, kita harus lebur dengan keegoisan kita itu, kalau kita berkeras hati, maka kita akan kehilangan orang yang kita cintai itu. Dan akankah egois itu bisa mencintai kita, mengayomi kita, membahagiakan kita. Selama ini kayaknya kak Samsul gak pernah terlalu memerintah aku, sekedarnya saja, kalau aku ke kosnya, aku yang masak dia  yang nyuci piring. Kalau aku bikin sayur dia yang mendampingi aku dari samping, justru adalah sebuah kebahagiaan tersendiri selalu melakukan aktivitas bersama apalagi jika bisa melayani orang yang kita cintai. Dan di sini konteknya tidak seperti pembantu, karena kita mengerjakannya untuk keperluan bersama dan bukan untuk pamrih dan upah.”

”Oyaa…Tapi menurut aku kita itu harus bisa menjadi wanita yang punya harga di depan seorang lelaki, karena kalau kita terlalu mengalah, maka kita akan dipermainkan oleh laki-laki”.

”Tapi justru dengan kebersamaan itulah sekarang antara aku dan Samsul semakin menyatu dan tak terpisahkan. Aku menyayanginya, dan dia mencintaiku.”

”Ya sudah, kita sudah sama-sama dewasa, kita bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk, dan yang jelas aku gak akan merebut Samsul dari kamu. Semoga kamu berbahagia dengan Samsul”.

Nia menganggukan kepala kemudian menyajikan ala kadarnya untuk Irma dan Lily.

 

****

”Kakak, tadi Irma dateng ke sini,  dan ngomongin kakak, tapi aku gak terpengaruh. Aku selalu yakin pada cinta kita, dan bahwa kakak akan selalu mencintai aku dan menjaga aku. Ya kan Kak”. Sms Nia padaku sore itu.

”Terserah sama Nia, yang penting aku sudah berbuat yang terbaik untuk hubungan kita”.

”Kak Samsul, aku rindu sama kakak, dateng ya entar malam!”

”Ya, aku juga merindukan adik . Aku akan datang sayang”.

Aku membalas Sms Nia dan bersiap-siap untuk pergi  ke kost Nia malam nantinya.

 

*****

 

 

“Tok tok tok”

Aku mengetuk pintu kost Nia.

“Sebentar…”

“Kakak, sini dong”. Nia mendorongku ke sudut kamar kemudian merangkul bahuku.

”Aku rindu kakak”.

”Aku juga”.

”Gimana kabarnya?”

”Baik, aku Cuma mengkal sama si Lily, udah tiga kali dia ke sini, dan datangnya dengan misi menjelek-jelekkan kak Samsul, aku jadi curiga sama dia, jangan-jangan dia mau sama kakak.”

”Ah, biarin dia mau sama aku, aku kan maunya cuma cama Nia Cayang.Emmmmmmmmmmmmmmah”. Kataku sambil mempererat rangkulanku.

”Aduh, aduh, sesak napas nih”, kata Nia.

”Tolooooooong, tolooooooong, ada orang jahat yang mendekapku nih”, bisik Nia di telingaku yang bikin kami berdua tertawa terpingkal-piangkal.

”Sudah, sudah, ngomong apa sih Irma di sini tadi?”

”Ya, dia cerita macem-macem sama aku, tapi yang jelas aku gak percaya sama apa yang dia katakan. Aku jugakan gak tahu motivasinya bilang gitu kenapa. Mungkin ada maunya juga sih, tapi aku gak terpengaruh.”

”Pinter, jadi yayang aku ya harus begitu, jangan terlalu  terpengaruh ma kata orang. Kita adalah kita. Emangnya kalau kita kesusahan orang laen bakal peduli, emangnya kalau aku rindu orang laen bisa ngobati, gak bisa kaaan..?”

”Bener deh…” Kata Nia padaku. Kemudian dia terdiam… aku menunggu apa lagi yang akan dikatakannya. Wajah menengadah menatap langit-langit kamar. Tapi tak ada bintang di sana, juga tak ada bulan, tak ada juga mega-mega..

”Adik mau ngomong sesuatu?”

”Sebenarnya aku mau ngomongin sesuatu, tapi aku takut kakak akan tersinggung.” (wajah Nia mulai berubah lebih serius)

”Bilang saja, aku gak akan tersinggung kok”.

”Bener kakak gak akan tersinggung dan marah?”

”Bilang aja, ngapain aku marah..”

Aku melirik sambil melihat ke dinding kamar dengan tatapan yang sangat tajam seolah aku akan dapat menembusi dinding tembok yang tebalnya kira-kira 15 cm itu.

”Kak Samsul, aku punya permintaan sama kakak, mau gak kakak mengabulkannya.”

”Jika aku bisa, pasti aku mau”.

”Aku mau kak Samsul memacari si Lily”.  Mendengar kata itu wajahku memerah, dadaku menjadi sesak.

”Apa maksud adik, adik udah gak cinta dan sayang lagi sama kakak?”

”Kakak, jangan berpikiran begitu, seandainya nanti kakak berpacaran ma Lily, aku akan selalu setia ma kakak”.

”Bener, kamu gak akan menyesal”? (dengan suara bergetar dan mata berlinang)

”Aku gak akan menyesal”.(juga dengan air mata berlinang)

”Aku memberikan waktu sama kak Samsul untuk berpacaran ma Lily selama tiga bulan, ku mohon kak, penuhilah permintaanku”.

Mendengar kata-kata itu aku menjadi gak bisa berbicara, dalam hatiku bercampur segala macam rasa.

”Sayang, katakanlah yang sebenarnya, mungkin kamu sudah bosan ma aku. Aku akan tabah menerima apapun juga pilihanmu. Mungkin sudah karmaku setelah aku memutuskan si Irma kemudian kamu yang memutuskan aku sekarang”.

”Tidak, ini tidak ada sangkut pautnya dengan Irma, ku mohon, jadilah pacar Lily tiga bulan saja. Dan aku akan selalu setia sama kakak. Datanglah setelah tiga bulan. Aku akan Menunggu. Dan seandainya kakak datang dalam masa tiga bulan itu, kakak gak akan menjumpai aku. Beneerrr!”.

”Adik yakin?” (dengan suara serak)

”Ya!”. (dengan suara bergetar, wajahnya menunduk, dan ditutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya)

”Aku pergi, dalam masa tiga bulan itu kamu gak perlu bersembunyi. Karena aku gak akan pernah datang”.

”Pergilah”. Nia berlalu meninggalkanku sambil menangis dan masuk ke dapur dan menguncinya dari dalam.”

Dan tiba-tiba saja entah dari mana datangnya emosiku. Aku menjadi begitu terbakar, maka aku mengambil sebuah gelas dan membantingnya dengan sekeras-kerasnya ke tembok….

”Blaaaaaaar”,  gelas itu hancur berkeping-keping. Tapi Nia tetap tak mau keluar dari dapur itu. Aku mendengarnya menangis dengan suara pilu di dalam dapur itu.

”Oke, jangan menyesal sayang, jangan menyesal sayang, aku mencintaimu.”

”Aku juga mencintaimu”, kata Nia dengan suara pilu di balik pintu. Kemudian aku segera saja keluar, kemudian di jalan aku membeli sebungkus CTM dan setelah sampai di Kost kemudian meminum empat biji. Tak lama kemudian aku tertidur lelap. Dalam mimpiku aku melihat seekor burung piaraanku di rumah terbang dari sangkarnya. Tapi ia tak pergi jauh-jauh, hanya bertengger di cabang pohon dekat rumahku, kemudian dia bersiul, maka datanglah seekor burung yang lain, persis seperti bulunya, kemudian burung yang baru datang itu terbang kepadaku, dan bertengger di bahuku. Burung itu bersiul dan menggosok-gosokkan kepalanya di badanku, tampaknya ia mengatakan kepadaku kalau ia tak takut dan ingin bersahabat dengan aku. Selebihnya aku tak ingat lagi apa mimpiku.

Ke esokan harinya aku bangun, di dinding jam sudah menunjukkan pukul delapan. Tapi aku males pergi kuliah, mengingat semuanya kembali, maka air mataku tumpah ruah. Aku tak bersuara, tapi kubiarkan saja air mata deras membasahi pipiku. ”Nia, teganya kau pada aku, apa salahku padamu,” kataku pada diri sendiri.

”Kau akan menyesal Nia, kau akan menyesal Nia.” Kataku dalam hati. Maka segera saja aku ambil sisa CTM di bungkusan tadi malam, dan aku segera tertidur kembali dan bangun malam harinya. Kemudian aku solat dan makan. Aku benar-benar merasa shock, aku gak pernah membayangkan bakal begini jadinya. Ketika cintaku lagi berbunga-bunga, ketika aku merasa bahwa Nia hanya milikku seorang, ternyata aku telah salah, ternyata aku telah salah.

 

*****

 

Seminggu sejak kejadian itu, aku hanya mengurung diri di kamar kostku yang sempit, dan aku tak berniat keluar untuk bercerita kepada dunia. Telah kupikir baik-baik apa kata Nia, dan aku juga ingin mengetahui apa sebenarnya motivasi Nia sehingga memintaku untuk memacari Lily, apakah Nia ingin menguji cintaku, apakah Nia ingin menguji kesetiaanku? Sayang sekali aku gak suka diuji.

Aku pernah menonton sebuah film India, judulnya Mann yang artinya perasaan, cerita ini mengisahkan tentang pertemuan seorang lelaki bernama Deff yang sudah punya tunangan dengan seorang wanita yang bernama  Pria yang juga sudah punya tunangan, mereka bertemu di sebuah kapal pesiar dan kemudian saling jatuh cinta. Kemudian mereka berjanji untuk bertemu sembilan bulan kemudian. Tapi sayang setelah mereka berdua meninggalkan tunangan masing-masing dan pergi ke tempat pertemuan sesuai janji mereka, Pria mengalami kecelakaan di tabrak mobil di perjalanan, sedangkan Deff menunggu sampai pagi harinya di tempat yang sudah mereka sepakati. Tapi sia-sialah penantian Deff, karena Pria bukannya datang melainkan terbaring di rumah sakit dan kakinya harus diamputasi, dan Pria tak ingin memberi tahu Deff tentang kecelakaan yang menimpa dirinya.

Kemudian Deff dengan perasaan yang hancur pergi dari tempat itu. Dan memilih untuk menjadi seorang pelukis, kemudian Deff melukis wajah Pria. Tanpa ia ketahui, lukisan itu secara kebetulan dibeli oleh Pria, tetapi karena pria hanya membawa uang yang sedikit maka konsultan atau manager Deff menolak untuk menjualnya. Kemudian Deff bertanya siapakah yang hendak membeli lukisan itu ? Konsultannya menjawab bahwa yang menawarnya adalah seorang wanita cacat dan miskin. Tapi konsultan itu menambahkan bahwa wanita itu ingin membeli lukisan itu karena lukisan itu katanya adalah lukisan tentang mimpi, persis seperti yang dipikirkan Deff, Dan demi mendengar kata mimpi itu Deff langsung membolehkan lukisan itu dibeli dengan harga berapapun sebab Deff sangat senang karena ternyata ada orang yang mengerti akan arti lukisannya.

Dan suatu hari setelah Deff berjanji untuk meninggalkan masa depannya dan berjanji untuk hidup dengan kenangannya,  bertemulah Dia dengan Pria di sebuah bioskop. Deff mengira kalau Pria sudah menikah, dan saat itu Pria mengaku kalau memang ia sudah menikah dan berusaha menyembunyikan kakinya yang buntung.

Tapi karena Deff ingat bahwa ada titipan neneknya untuk Pria, maka ia kemudian mencari alamat Pria dan akhirnya menemukannya.

”Ada Pria?” Tanya deff pada seorang pembantu rumah tangga.

Kemudian pembantu itu mempersilahkan Deff masuk dan Deff tertegun karena ternyata pria sedang duduk di ruang tamu.

”Halo Pria.”

”Halo Deff”.

”Boleh saya duduk?”

”Silahkan”

”Gimana kabarmu”.

”Aku baik saja, kamu?”

”Aku juga baik-baik”.

”Aku Cuma mau menyampaikan kalau dulu aku tak pernah datang di tempat perjanjian kita itu.” Kata Deff.

”Kamu tak pernah datang?” Pria terkejut.

”Ya..aku tak pernah datang”. Kata Deff berbohong.

”Gimana, bolehkan saya tidak datang?”

”Ya.. tidak apa-apa”. Jawab Pria sambil tersenyum, tapi jelas terlihat kekecewaan  di dalam hatinya. Karena sebenarnya dia sangat mencintai Deff, tapi dia tak ingin mengecewakan Deff sebab kakinya telah buntung.

”Tidak, memang saya tak pernah datang, tapi saya telah menunggu kamu di tempat perjanjian kita sampai besok paginya. Kenapa kamu tidak datang?” Tiba-tiba Deff membentak Pria.

Pria terdiam,…. Kemudian Deff pamit dan menyampaikan titipan neneknya, yakni sepasang gelang kaki, dan ketika ia akan memasangkan gelang kaki itu Pria menolak untuk dipasangkan dan ini membuat Deff curiga. Tiba-tiba Deff mengingat bahwa dulu pernah ada seorang wanita cacat yang datang membeli lukisannya.  Maka Deff segera mencari sendiri lukisan di kamar-kamar rumah itu tanpa ijin Pria dan Deff menemukannya. Deff sangat terkejut dan membawa lukisan itu ke hadapan Pria. Pria menangis tersedu-sedu. Dan Deff kemudian memeriksa apakah yang cacat pada Pria..  Ternyata kini Pria tak punya kaki. Pria menangis tersedu-sedu, Deff juga menangis tersedu-sedu. Mereka berpelukan dan saling terbuka apa adanya.

Dan akhirnya Deff tetap menikahi Pria walaupun pria buntung dan mereka hidup berbahagia sampai kakek kakek dan nenek-nenek, dan sebenarnya merekalah yang  menjadi kakek dan nenekku. Eh.. maaf. Aku salah tulis, bukan mereka kok. Bener….

 

*****

 

Benarkah Nia ingin membuat cerita cinta kami seperti cerita film Mann itu ? Aku gak pernah tahu apa jawabannya.

Sore itu aku putuskan untuk keluar rumah, dan pergi ke Udayana (Taman kota Mataram), sekalian pergi cuci mata. Sumpek terus nangis di kost.. (Kacian Deh aku.. Jadi cowok kok cengeng.. Malu donk, tapi Ups,,, kata orang sih kalau gi jatuh cinta tapi gak  sampai  keluar air matanya itu artinya bo’ongan cintanya. Tak tahulah, jangan mau tahu ya..), dan aku sengaja memilih tempat duduk di bagian yang paling ramai.

Aku duduk beralaskan rumput kering, aku luruskan pandangan mataku, menatap pada pedagang kaki lima yang berjejer di sepanjang jalan Udayana.

Begitu banyak orang, muda-mudi berlalu lalang, dengan berbagai macam gaya mereka bergoyang, eh berjalan. Ada yang berjalan dengan bergandengan tangan, ada juga yang berlari-lari kecil, sayang aku gak bisa menginterfensi gaya mereka berjalan itu. Maklumlah, setiap orang punya kemerdekaan mengenai gaya itu dan pemerintah juga tidak menetapkan peraturan perundangan tertentu mengenai gaya berjalan itu… (Apa untungnya juga ya pemerintah menetapkan gaya berjalan?).

Tiba-tiba aku tersadar, sebenarnya ada yang sedang berdiri mematung di belakang aku, siapa ya…?

”Siapa nih.. yang sedang menjadi pohon di belakangku ?”

”Kak Samsul pura-pura lupa ya.. Ini Lily temennya Nia..”.

”Enggak, aku sengaja kok lupanya, habis, sore begini kayaknya beda deh, kamu jadi lebih cantik gitu.”

”Awas, dilarang ngerayu di tempat umum..”. Kata Lily sambil tersenyum. Aku melihat sederet gigi putihnya dan senyum manis itu begitu memikat. Tapi agak beda sedikit dari Nia, jika Nia kulitnya putih, maka Lily kulitnya agak hitam, supaya enak didengar maka orang akan menyebutnya sik hitam manis. Bibirnya gak tipis seperti bibir Nia, tapi agak sedikit tebal, tapi modelnya cukup sensual. Matanya juga gak bening seperti mata Nia, tapi justru agak kecoklat-coklatan. Sedangkan dagunya tampak lebih menggantung seperti awan di langit kata orang, sedangkan Nia dagunya terbelah dua.

”Nia bilang padaku kalau kalian itu putus, bener begitu?”
”Dia bilang Gitu?”

”Ya”.

”Ya, kami memang udah putus, kurang lebih satu minggu tepatnya, kalau gak salah siang hari sebelum kami putus kamu bareng Irma dateng ke kost Nia. Dan malam itu aku dan Nia bertengkar, kemudian putus deh..”.

”Oya….. maaf deh, tapi bukan maksud aku dan Irma untuk ngehancurin semuanya..”.

”Gak papa, justru itu bagus, aku memang orang yang gak berharga. Dan sekarang aku memang sudah hancur”. Kataku mulai terbata-bata. Tiba-tiba saja hidungku mampet. Dan aku gak ingin Lily melihat kalau mataku niscaya juga sudah berubah.

”Maaf, aku ke sana cuma maen-maen aja, sekali lagi gak ada maksud aku datang untuk menjelek-jelekkan kak Samsul atau yang lainnya.”

”Lupakan, sekarang kamu lihat badan aku, seminggu saja aku sudah kurus. Mungkin bulan depannya mati. Ya. Musah-mudahan saja begitu. Biar kamu puas, Nia puas, Irma juga puas.”

”Kak Samsul, maafin aku, sekali lagi aku gak pernah bermaksud yang tidak-tidak”.

”Alah… sok suci kamu, pergi sana. Aku gak mau ngomong sama kamu”.

”Kak Samsul, kumohon maafkan aku”.

”Lily, Nia adalah cinta aku, dia adalah segala-galanya bagi aku, tapi kamu telah menghancurkan segala-galanya, Lily.. Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Tidak di dunia, tidak di akhirat kelak. Pergilah, aku muak melihat tampangmu”. Begitu terkejut Lily mendengar kataku, aku juga tak akan menyangka bahwa gadis yang begitu bajingan menurut aku ternyata bisa juga terpengaruh sama kata-kataku.

Dengan bibir bergetar Lily berkata.

”Jangan, ku mohon, cabutlah kata-kata itu, aku akan menebus segala salahku pada kakak”.

”Kamu munafik”. (tiba-tiba saja secara spontan aku menempiling pipi Lily)

”Plaaaak”. Kemudian seperti di sinetron-sinetron orang-orang menjadi mengelilingi kami, tanpa sadar, kami telah menjadi tontonan orang di sekitar tempat itu. Mungkin mereka mengira bahwa aku adalah pacar si Lily. Dan mereka diam saja tak berkomentar, tak berani ikut campur dengan urusan kami.

”Tampar lagi kak, tampar lagi, biar kakak puas dan bisa maafin aku, ayo tampar lagi.” Kata Lily dengan suara bergetar. Pipi kirinya merah bekas tamparanku. Aku terdiam, aku baru sadar bahwa aku telah terlalu lancang menampar anak orang. ”Ya Tuhan, rupanya tadi aku sempat tak bisa mengontrol emosiku”, gumamku dalam hati.

”Ayo tampar lagi”. Kata Lily memegang telapak tanganku dan mengangkatnya ke pipinya berkali-kali.

”Kenapa kakak diam. Kakak pengecut, pantas Irma dan Nia meninggalkan kakak, lalu kakak melempar batu sembunyi tangan kepadaku serta mencari kambing hitam buat semua yang terjadi pada kakak.”

Aku diam saja seperti tersihir, dan tiba-tiba saja aku balikkan badanku kemudian pergi berlalu meninggalkan Lily serta semua orang yang melihat kejadian itu, entah apa yang mereka pikirkan, aku juga tak berniat  bertanya kepada mereka tentang pikiran mereka itu.

”Hancur, hancur, hancur”. Kataku dalam hati. Aku melangkahkan kaki, meninggalkan luka dan masa lalu yang kelam dan hitam. Biarlah semuanya menjadi kenangan. Aku gak mau memikirkan apa-apa lagi.

Sesampai di kost aku langsung merebahkan diri, menutup kepalaku dengan Bantal, dan walaupun hari masih sore, kupaksakan saja aku tidur.

*****

 

Besoknya ketika aku terbangun aku terkejut, ternyata sudah jam tujuh, wah.. besok saja aku pergi kuliah, aku takut gimana kalau pacar si Lily datang ngamuk padaku, wah pasti memar wajah si Lily bekas tamparan aku kemarin.

”Oaaaahhh”, aku membuka mulutku lebar-lebar, kayaknya masih ngantuk banget.

”Waduh, rupanya aku belum mencuci selama seminggu ini”. Maka segera saja aku mengumpulkan baju kotor-kotorku, mengambil Daia, dan merendamnya di kamar mandi, rencananya akan aku cuci besok pagi (hal yang paling malas aku lakukan adalah mencuci, biasanya paling cepat aku merendam baju sehari, baru aku cuci, kalau lebih males lagi bahkan sampe dua hari. Tapi untunglah si Daia gak pernah bikin baju berbau kayak bangkai seperti yang lainnya), dan aku segera mengambil air untuk kumur-kumur. Kemudian membuka pintuku seperlimanya biar ada angin yang masuk. Dan aku memutuskan untuk tidur kembali. Makan ? Waduh…  nanti dah kalau ingat, kayaknya tidur lebih siipp.

Dan sore hari itupun aku terbangun dalam keadaan lemas, dan ketika aku bangun dengan sempoyongan aku beranjak ke kamar mandi, mencuci muka seperlunya, kemudian pergi membeli nasi ke warung terdekat.

Sesudah kenyang akupun pulang kembali ke kost, kemudian mandi dan menyikat gigi.

”Malam ini enaknya ke mana ya…?” Aku bertanya pada diriku sendiri. Aku gak terlalu memikirkan apa-apa yang telah terjadi minggu ini, terus terang jika aku mengingatnya serasa jantungku perih tersobek sembilu, terlalu banyak kenangan dan mimpi indah yang harus dilupakan. Terlalu banyak kebersamaan yang harus ditinggalkan, terlalu banyak, pokoknya terlalu banyak.

”Ah.. kayaknya lebih baik menghibur diri ke Internet aja, biar aku bisa melupakan kejadian-kejadian menyakitkan ini”. Ucapku dalam hati. Kemudian aku segera melangkahkan kakiku biru. Menyusuri jalan-jalan sunyi berliku. Tanpa menoleh kanan kiri duri. Tanpa menyapa teman-teman seperjuangan yang kebetulan aku temui di sepenjang jalan kenangan Roma. Dan biarlah mereka menganggapku cuek-cuek Bebek. Karena apapun yang terjadi hati. Aku tetap diriku ungu.

Aku sengaja memilih tempat yang paling pojok di warung internet itu, dengan tujuan apapun yang aku buka nanti gak bakal ada orang yang ngintip, soalnya kalo pikiran lagi buntu begini enaknya buka yang hot-hot ato apa gitu. ya… Biarlah. Hanya Tuhan yang tahu.

Kemudian dengan segera aku membuka bebrapa situs yang sudah aku kenal, menonton dan menikmati setiap titik itu dengan dada berdegup. Wah..,  sebel juga, akhirnya setelah capek ngelihat-lihat aku beralih channel ke MiRC, dan bergabung dengan channel #Mataram, siapa tahu ada yang aku kenal…. Dan ternyata benar saja, saat itu ada empat belas orang yang lagi Login di Channel #Mataram, dan salah satunya yang menarik perhatian aku di sana ada list dengan inisial  Lily_caem_sumpe. Sedangkan aku menggunakan alias An_Gagah.

”Wah kebetulan. Ini ada yang namanya Lily, kalo sampe Lily  yang bikin aku putus itu, awas…. akan aku ajak bertengkar habis-habisan lewat chatting”. Gumamku dalam hati. Dan langsung saja aku mengelik namanya dua kali. Dan langsung bertanya to the point…

”Ooooooooi, bener lu Lily temennya Nia mantan pacarnya Samsul”.

”Ya.. emangnya kamu siapa”.

”Ooooooooo… gak salah deh aku masuk channel ini, bakal ketemu sama loe, namanya aja yang caem… wah.. ternyata orangnya dekil.. ini dia orang yang nampar kamu kemarin sore…”

”Uhhh…jadi ini Samsul… ”.

”Ya..  kalo bener lo mau apa….  dosa lo itu sama aku ini lebih besar dari alam semesta, dunia akhirat gak bakalan maafin kamu. ”.

”OK… silahkan gak maafin aku, aku memang dekil, aku tahu itu, aku juga bodoh, tapi percayalah kawan, bukan aku yang bikin fitnah gak bener sehingga bikin kalian itu berantakan, bukan aku, Demi Tuhan bukan aku, dan kalo aku sudah minta maaf terserah kamu, mau maafin ya syukur, gak juga gak apa-apa.”

”Huh… dasar wanita bajingan lo.. ngerasa bersalah aja nggak…awas lo…. kalo sampe kita ketemu lagi, liat saja….. aku ini kalo sudah marah gak takut masuk penjara. Ingat itu.”

”He kak Samsul, aku sudah bilang bukan aku yang ngerusak hubungan kalian itu, terserah mau percaya ato tidak….”

”Awas lo… kalo lo ngerasa bener, tunggu sekarang aku di Atletik (lapangan Atletik) pintu gerbang timur, biar semua masalah selesai”. Jawabku untuk yang terakhir kalinya. Kemudian melangkahkan kaki ke meja operator dan segera membayar sewa internet. Dan seperti orang kesurupan aku berjalan menuju Atletik yang jaraknya kurang lebih setengah kilo meter ke arah selatan dari arah Dasan Agung.

Sesampai di Gerbang timur aku kemudian berdiri mondar mandir dengan segala macam perasaan, yang jelas  99 % perasaanku pada saat itu terisi dengan gejolak api asmara, eh salah, api emosi yang meluap-luap dalam lautan kekesalan dan kemarahan, tertumbuk lemah dalam sapa yang meronta-ronta, terbias lirih dalam kekecewaan dan kejengkelan yang tak terkendalikan, Ah……………rupanya aku telah larut dalam kata-kata tanpa makna, seperti dunia dengan bunga-bunganya… Seperti kekecewaan yang sia-sia tanpa pengobat dalam sejuta sesal mengenal dia (Nia).

”Kak Samsul”! Tiba-tiba seseorang memanggil. Itu adalah suara yang sudah aku kenal, orang yang sudah aku tunggu-tunggu.

”Akhirnya kamu datang juga”.

”Maaf kak Samsul, aku sedikit terlambat.”

”Ah.. kamu minta maaf dengan tidak juga sama, gak akan pernah aku maafkan, kumpulkanlah dosa-dosamu, hitung-hitunglah, mungkin dengan begitu kamu aka sadar bahwa kamu telah banyak menghancurkan kehidupan orang”.

”kak Samsul, beri aku kesempatan menjelaskan semuanya.”

”Kesempatan, memberimu kesempatan berarti memberimu waktu untuk menyulap kesalahan-kesalahanmu menjadi sebuah kebenaran, begitukah?”

”Kak Samsul, terserah kak Samsul,  kalau memang kak Samsul tidak memberi aku kesempatan, untuk apa aku datang ke sini, toh jika kak Samsul membunuhkan dengan diam-diam, lambat laun kak Samsul akan ketahuan, dan setelah kakak ketahuan kemudian kakak akan dipenjara.  Kemudian kakak akan mati dengan penuh dosa sama juga seperti aku, apakah itu yang kakak Samsul inginkan?”.

”Heh.. pintar juga… tahu gak kamu.. kebenaran bukanlah sesuatu yang apabila telah didengar akan menimbulkan perpecahan, pertikaian, perpisahan dan air mata. Tapi kebenaran adalah sesuatu yang apabila telah didengar akan menimbulkan kesenangan dan kebahagiaan.”

Dan tak terasa kami berdua telah terlibat dalam perang mulut yang dahsyat dan menimbulkan goncangan-goncangan yang dahsyat juga ke segenap penjuru hati…

”Terserah apa kata kak Samsul…”

”Oke, aku akan memberikan kesempatan padamu untuk menjelaskan permasalah yang sebenarnya kepadaku”.

”Kak Samsul, datanglah mendekat kepadaku, aku ingin membisikkan sesuatu padamu”.

”Alaaahhhhh, kamu jangan sok romantis deh pakai acara bisik-bisik tetangga segala. Ingat, kita ke sini dalam rangka untuk bertengkar, ngerti gak siiiiih!”(aku membentak pada si Lily)

”Kak Samsul, aku serius, mendekatlah padaku, aku ingin membisikkkan sesuatu padamu, sesuatu rahasia yang mesti dibisikkan lewat telinga kiri, sebab jika ia dibisikkan lewat telinga kanan, maka yang mendengar akan mati”.

”Hehh, jangan sok bercanda di depan aku ya, aku ini lagi marah!” Tiba-tiba saja Lily menangkap kedua tanganku, kemudian menarik aku sekuat tenaga ke dalam pelukannya dan berbisik ke teling kiriku.

”Salahkah aku, bila aku mencintaimu”. Kata Lily padaku. Aku mencoba untuk melepaskan diri, tetapi sesuatu yang keras dan dingin menyentuh punggungku. Sial, rupanya Lily lebih nekat dari yang aku bayangkan.. dan rupanya aku telah salah menilainya, tadi aku yang berpikir untuk membunuhnya sewaktu di internet lantaran kemarahanku yang meledak-ledak. Ternyata kini sebaliknya aku yang berada di bawah ancamannya.

”Sayang, cinta itu sakit dan perih,  diantaranya ada tetesan darah dan air mata. Jika kau berkeras hati, maka aku yang akan mati, tapi jika aku yang  berkeras hati, maka  engkaulah yang akan mati.” Kata Lily padaku. Terdengar suaranya bergetar diselingi isaknya, rupanya ia mulai menangis sambil terus memeluk aku seerat-eratnya. Ada rasa sedikit perih di punggungku. Rupanya Lily secara kebetulan membawa pisau dan kini pisau itulah yang menempel dipunggungku.

”Li’… tenang Li’, kamu jangan nekat”. Rayuku pada Lily. Tapi Lily semakin mempererat pelukannya. Dan terasa ujung pisau itu semakin menusuk, tepat di belakang jantungku.

”kak Samsul, aku sudah gak perduli lagi, toh gak ada yang pernah perduli sama hidupku, kamu hanya sibuk dengan cintamu sama Nia, pernahkah kau tahu bahwa ada juga yang sedang menantikanmu dalam penantiannya yang panjang, penantian tanpa akhir dan tanpa imbalan.”

”Lily, kumohon lepaskan dulu, biarlah kita bicara baik-baik”.

”Kakak yang bilang kebenaran bukanlah sesuatu yang apabila diucapkan akan menghasilkan  penderitaan dan air mata.”

”Oke”, kataku pada Lily. Dan agar supaya ujung pisau itu tidak terlalu menyakiti punggungku, maka aku kencangkan pelukanku pada Lily, untunglah di lapangan atletik itu tak ada orang satupun, seandainya ada orang yang kebetulan masuk ke dalam dan menemukan kami sedang berpelukan, entah apa yang akan terjadi.

”Kak Samsul, masih ingatkah kau pada sms pertamanya Nia”?

”Ya”. Jawabku.

”Pernahkah kak Samsul bertanya dari mana Nia mendapatkan nomor Hp kakak?”

”Aku gak pernah menanyakannya”.

”Dia mendapatkan nomor kakak dari Hpku. Sesungguhnya aku telah jatuh cinta sama kak Samsul jauh sebelum Nia mencintai kakak, tepatnya setahun sebelum kakak putus dengan Irma, tapi dulu aku tak berani mengungkapkannya karena kakak adalah milik irma. Dan ketika kakak memutuskan Irma, tak tahunya aku kedahuluan oleh Nia. kini telah 2 tahun cinta itu bersemi tanpa ada yang pernah melihatnya dan mengetahuinya, tidak juga Nia. Dan sekarang, biarlah aku akan membawanya mati, aku sudah terlalu sakit, aku selama ini gila, gila memikirkan kak Samsul yang tanpa pernah aku undang selalu datang dalam pikiranku, hayal dan ilusiku, kenapa aku harus jatuh cinta sama kak Samsul. Kak Samsul, jawablah aku, salahkah aku, bila aku mencintaimu?”

Mendengar itu aku menjadi sesak. Memang masuk akal kalau Lily lebih dahulu mencintai aku daripada Nia, karena aku mengenal Lily lebih dahulu daripada Nia, dan Lily adalah teman Irma. Mantan Pacarku. Kemudian aku berbisik lebih lembut lagi kepada Lily untuk menenangkannya.

”Lily, maafkan aku,  seandainya aku mengetahui hal itu, tentu sikapku akan lain kepadamu. Li’, kumohon, lepaskanlah….”

”Jadi kakak akan memaafkan aku?”

”Ya… aku memaafkanmu”. Dan demi berakhirnya kata-kata itu maka sedikit demi sedikit Lily melepaskan pelukannya. Dan tiba-tiba saja tanpa aku sadari Lily terhuyung-huyung, pisau yang dipegangnya jatuh ke tanah. Aku menangkap tubuhnya dalam hitam pekat bayangan malam. Rambut hitamnya yang panjang tergerai menyentuh tanah. Aku mencium lembut bau shampo yang masih hangat di rambut itu. Rupanya Lily telah pingsan. Untuk sesaat aku diam mematung. Tiba-tiba saja ada rasa kasihan mengalir dalam sendi-sendi dan uratku. Aku mencium lembut kepala yang lemas dalam pelukanku itu.

”Tuhan, apapun yang telah terjadi padaku. Sesungguhnya itulah yang terbaik bagiku”. Gumam hatiku.

 

*****

Pagi-pagi sekali hari itu, aku berangkat ke kos Lily, berjalan seorang diri. Kini hatiku lebih tenang dari yang kemarin. Peristiwa yang terjadi malam tadi membuat aku sedikit lebih ceria, ada getar-getar kegembiraan tersirat di wajahku. Aku tak lagi hanyut dalam obsesiku tentang Nia.. Walau begitu besarnya cintaku pada Nia, dan begitu besarnya cintanya kepadaku, tapi permintaanya kepadaku untuk berpacaran dengan Lily telah membuat hatiku benar-benar kecewa. Karena terasa sekali, Nia hanya mempermainkan cintaku. Dan kini aku berjanji, aku tak akan pernah kembali kepadanya, aku tak akan pernah kembali kepadanya. Meskipun cintaku padanya tak akan pernah berubah. Selamanya.  Selamanya.

Sungguh, aku terlalu mencintainya. Dan telah terlalu banyak cerita cinta yang telah kami ukir bersama, suka dan duka, manis dan pahit. Menjadi satu dalam cinta yang abadi. Aku tak tahu bilakah kelak aku akan benar-benar dapat melupakan Nia. Tapi yang jelas di manapun  dan kapanpun cerita ini dibaca oleh seseorang, maka saat itu, sesungguhnya seseorang itu sedang membaca bait-bait cintaku pada Nia, membaca surat tentang kerinduanku.   Yang tak lekang oleh waktu. Tak hilang oleh Jaman. Selamanya. Selamanya bersemi.

Hari ini aku memutuskan untuk pergi ke kos Lily. Ada beberapa hal yang begitu prinsip yang mesti aku bicarakan dengannya. Ini berkaitan dengan peristiwa yang terjadi tadi malam.  Dan aku telah memutuskan untuk mencoba menerima uluran cinta Lily. Walau sesungguhnya jauh di lubuk hatiku, masih terukir namanya (Nia).

”Tok-tok-tok”. Ketukku pada pintu kos Lily.

”Sebentar”. Kata seseorang dari dalam.  Kemudian pintu itu terbuka, dan aku melihat wajah sendu keluar menyembul dari balik pintu.

”Masuklah”. Kata Lily kepadaku. Kemudian aku masuk ke dalam kamar Kos itu. Di kos itu Lily hanya sendirian saja tanpa teman kos. Biasa kalau di Mataram rata-rata orang kos sendirian, BT juga sih kalo punya teman. Karena kita akan selalu saling bergantung sama yang lainnya.

”Inilah kos penantian itu, yang padanya terdapat kesetiaan dan penderitaan”. Kata Lily membuka percakapan kami pada pagi hari itu. Aku mencoba mengambil tempat duduk persis di dekatnya. Kejadian tadi malam telah mendekatkan kami selangkah lebih dekat dari sebelumnya. Yang pada awalnya aku begitu marah dan dendam sama Lily. Kini hatiku telah mencair. Dan biarlah aku tenggelam dalam persahabatan dengan Lily, toh jika aku mengingat si Nia, hanya menimbulkan luka dalam hatiku. Luka yang teramat pedih dan menyakitkan.

”Kak Samsul, aku tahu, sulit bagi kak Samsul untuk melupakan Nia, Nia adalah gadis tercantik di Kampus kita, Nia juga gadis yang baik, tidak seperti aku, aku adalah gadis jelek, lagipula aku juga  gadis yang jahat, miskin pula”.

”Li’, kamu tidak boleh ngomong begitu, apakah kamu sudah segar bener? Aku khawatir sama kamu.”

”Bener kak Samsul khawatir?”

”Bener kok, anyway tadi malam itu kamu pingsannya cukup lama. Untung gak ada orang yang memergoki kita, seandainya ada yang memergoki kita berdua di atletik, entah apa yang akan terjadi.”

”Apakah kak Samsul memeluki aku ketika aku pingsan?”

”Ya…  aku merebahkanmu dalam pelukanku”.

”Wah. Bahagiaaaaa banget kak Samsul memelukku”. Kata Lily dengan wajah yang berbinar-binar.

”Oya… aku punya sesuatu buat kak Samsul, sini, kakak lihat donkk…

….

”Waw… ini kamu yang lukis ya….?”

Aku bertanya pada Lily, di kamar dalam di samping tempat tidurnya ternyata terdapat sebuah lukisan dengan ukuran yang cukup besar, lukisan itu adalah lukisan aku dengan Lily menggunakan pakaian adat sasak. Cukup mirip sih. Dan aku membayangkan betapa dekatnya pelukis itu dengan lukisannya sehingga lukisan itu bisa sangat  mirip.

”Aku melukis lukisan ini sekitar satu setengah tahun yang lalu. Tepatnya ketika aku tak bisa menahan gejolak cintaku pada kak Samsul, maka untuk mengobati kerinduan hatiku aku melukis wajah kakak dan menaruh lukisan diriku sendiri”.

”Tapi kok bisa begitu mirip?”

”Karena aku melihat wajah kakak di setiap sudut pandanganku, di dinding kamarku, di lantai kamarku, di cermin lemariku, di piringku, juga di kain lukisan itu.”

”Terima kasih Lily”.  Aku tak pernah membayangkan betapa Lily begitu terobsesi padaku. Padahal setahuku dulu dia tampak biasa-biasa saja di dekatku. Tetapi mungkin karena aku memang lagi dekat dengan Irma saat itu sehingga membuat ia menjadi sungkan.

”Maaf ya kalau aku menaruh lukisan diriku mendampingi kakak. Lukisan itu hanyalah do’a dan mimpiku seandainya kelak aku bisa memiliki kakak.” (Lily menatap lekat-lekat pada mataku).

”Li’, aku ingin bertanya kepadamu. Ini berkaitan dengan kita berdua. Benarkah  kamu mencintai aku?” (sambil memegang kedua bahunya)

”Benar, aku memang mencintai kakak, dan kakak sudah menjadi buah mimpiku sejak dua tahun yang lalu, jauh sebelum Nia merebut hati kakak.”

”Lily. Aku gak tahu harus bilang apa, aku gak bisa bilang kalau aku mencintai kamu, karena aku memang masih mencintai Nia. Tapi jika kau memberikan aku kesempatan, aku berharap aku akan dapat mencintaimu kelak dengan sepenuh hatiku. Adapun masalah Nia, biarlah Nia menjadi bagian dari masa laluku. Jangan kita mempermasalahkan masa lalu itu. Karena kita semua sesungguhnya datang dari masa lalu itu sendiri.”

”Kak Samsul, akulah yang harus bilang, berikan aku kesempatan untuk menjadi bagian dari hidup kakak. Dan satu yang aku minta, jangan jadikan aku hanya sebagai pelarian cinta kakak. Kak Samsul boleh mencintai Nia, tapi suatu saat kelakaku harap kak Samsul juga akan dapat menerima cintaku seutuhnya.”

”Tentu Li’, maafkan jika aku berkata bahwa sekarang aku masih mencintai Nia, aku akan mencoba melupakan segala kenangan dengannya. Dan mulai sekarang kita akan mencoba membuka lembaran baru masa depan.”

”Jadinya bagaimana kak, apakah dengan kata lain sekarang kita sudah resmi pacaran?” Dan aku mengangguk sambil mencoba tersenyum semanis-manisnya.

”Aku sayang kakak, jangan tinggalkan aku”. Lily membenamkan wajahnya di dadaku. Dan dengan sedikit terisak-isak karena bahagianya ia mengencangkan pegangan tangannya di kedua pinggangku.

”Oya.. kalau ini foto siapa yang cantik dengan rambut pendek ini?” Tanyaku pada Lily sambil menunjuk seorang gadis dengan pakaian paskib. Bibirku tak henti-hentinya berdecak  kagum.

”Itu aku waktu SMA dulu, aku pernah terpilih sebagai anggota paskib tingkat kecamatan, bener ya kak foto yang ini cantik sekali?”

”Bener, dengan rambut pendek ini aku melihatmu lain sekali, pokoknya sangat cantik”.

”Jadi rambutnya yang bikin kakak suka”.

”Semuanya, tapi specialnya memang aku suka ngelihat gadis berambut pendek”. Lily mengangguk-anggukkan kepala.

”Kak, boleh gak besok sore kita ke pantai, aku pingiiiiiiiiiin banget jalan bareng dengan kakak.. ”

”Oya…  sambil kita refresing. Boleh aja”. Kataku pada Lily.

******

 

Besoknya sesuai dengan perjanjian kami bertemu di kosnya Lily, rencananya kami akan meminjam sepeda motor teman Lily untuk kita pakai ke Pantai.  Dan setelah meminjam sepeda motor itu kamipun segera berangkat, dengan menggunakan  pakaian yang agak santai, rambut panjang Lily berkibar-kibar tertiup angin sore.

”kak Samsul, kita mampir dulu di Salon Tony sebentar.”

”Mau ngapaian?”

”Pokoknya anterin sebentar ya.. ”

”Ya sudah”. Dan dengan sedikit agak ngebut aku mengarahkan sepeda motor ke Salon Tony, kemudian menunggu di luar.

”Kak Samsul tunggu bentar ya… Paling lama satu Jam…”

”Lo.. kok lama banget, ya sudah.. ”

Kemudian aku duduk di bangku panjang yang memang telah disediakan khusus buat orang yang nunggu.

”Lik’- Lik’, mau ngapain sih”. Kataku dalam hati sambil terus duduk melihat langit yang dihiasi mega-mega dan burung-burung gereja yang beterbangan bersama ratusan walet di atas toko-toko besar di pinggir jalan itu.

Aku ingat suatu hari aku pernah bersama Nia duduk di Tempat ini. Saat itu Nia mengajak aku untuk merapikan rambutnya ke salon ini, tapi berhubung lagi ramai, jadi kami harus antri dan menunggu yang lain selesai, dan kejadiannya juga persis sama seperti kejadian hari ini dengan Lily, yakni setelah kami selesai dari salon ini kemudian kami lanjutkan dengan jalan-jalan ke pantai Tanjung Karang di Ampenan Selatan.

Saat itu ketika kami duduk di bawah pohon kelapa sambil bersenda gurau, Nia berpesan kepadaku.

”Kakak, ini adalah tempat sakral, tempat kita memadu cinta dan sayang, pintaku, apapun yang terjadi antara kita kelak, jangan pernah membawa wanita lain ke tempat ini, karena sekali lagi aku katakan tempat ini adalah tempat yang sakral bagi cinta kita”.

”Tentu sayang”. Kataku saat itu pada Nia. Tapi apa yang terjadi, hari ini seperti menghianati janjiku sendiri aku dalam perjalanan menuju tempat sakral itu, tempat yang seharusnya aku jauhkan dari jejak-jejak lembut kaki wanita lain. Tempat yang seharusnya aku jaga kesucian dan kemurnian kenangannya. Tapi apa boleh buat. Nia telah menghianati cinta aku dengan menyuruh aku memacari  Lily di saat aku begitu hanyut dalam belenggu cintanya, di saat hatiku tertawan dengan segala kemanisan rayuannya, di saat aku terbuai dalam dekapan kasih-sayangnya. Dan aku yakin, dia akan menyesalinya, dia akan menyesalinya.

Aku mengintip Lily ke dalam salon, tapi ternyata sepertinya masih sibuk di dalam, entah apa yang sedang terjadi di sana, dan kembali aku hanyut dalam ingatan kenangan silam. Di pantai Tanjung Karang itu, aku bersama Nia duduk di pinggir pantai sambil memperhatikan wajah sendu senja hari. Kebetulan di pinggir pantai itu banyak kambing berkeliaran, dan secara kebetulan juga kambing itu ada yang lagi beranak, kemudian Nia mengambil anak kambing itu dan menggendongnya dengan mesra. Kemudian aku berkata pada Nia.

”Nia, kamu suka anak kambing ya..”

”Ya.. aku suka ngelihat sesuatu yang imut-imut, manis dan lucu”.

”Kak Samsul kan lihat kalau aku punya banyak boneka, ada boneka Poh, boneka Snopy, berbie dan yang lainnya, dan yang sedang aku inginkan sekarang adalah  boneka Dolpin.”

”Emangnya berapa sih harga boneka dolpin itu?”

”Paling sekitar sembilan puluhan ribu”.

”Ya sudah, nanti bulan baru aku belikan”. Lalu sebulan kemudian aku membelikannya dua buah boneka dolpin untuk menjadi teman tidurnya.

”Maaf Nia, aku sudah mencoba mencari yang warna pink, tapi adanya cuma yang putih sama aqua gini”.

”Kak Samsul lucu, di mana-mana yang namanya Dolpin ya warnanya putih ma aqua.” Lalu kami berdua tertawa terbahak-bahak sambil bercengkrama ria.

Begitulah, begitu banyak memory berkesan telah terlewatkan bersama Nia, tapi rupanya Nia punya pertimbangan lain. Sehingga memilih berpisah denganku. Dan aku gak akan pernah kembali  padanya. Aku berjanji.

Sejam kemudian tiba-tiba bahuku ditarik dari belakang. Wah… siapa ini yang cantik sekali. Tanyaku terpana. Di depanku aku melihat Lily begitu cantiknya setelah di make over. Terlihat rambutnya sekarang pendek persis seperti gaya rambutnya di foto waktu sedang paskib itu.

”Kak, aku sudah berusaha melakukan yang terbaik demi kakak, semuanya akan aku lakukan demi kakak”.

”Lily, terima kasih”, kita belum terlalu saling kenal mengenal, tapi engkau sudah begitu mempercayai aku, aku sangat menghargai penghargaanmu”.

”Demi kakak, apapun akan aku lakukan”.

”Ya sudah, ayo naik, sudah sore, entar keburu sunset nyebur ke kali”. Dengan agak sedikit ngebut aku melarikan motor pinjaman itu. Dan reaksinya pada Lily begitu Wah… karena Lily kemudian berpegangan sangat erat di pinggangku, bahkan hampir aku susah bernafas saking kencangnya pegangan Lily. Dan saat itu aku tahu, sedikit demi sedikit aku mulai menerima Lily, dan aku berharap besok cintaku akan bertambah satu, lusanya bertambah satu lagi dan seterusnya sehingga kemudian aku akan benar-benar bisa mencintainya seutuhnya. Dan melupakan Nia yang begitu kurang ajar kepadaku.

Di pantai kami berjalan bergandengan tangan, sambil tak henti-hentinya tertawa cekikikan, Lily sangat pintar menciptakan suasana, jika aku diam, maka dia yang ngomong atau sebaliknya, sehingga komunikasi kami begitu lancar dan harmonis.

Dan jauh dalam lubuk hatiku sebenarnya ada sedikit rasa berdosa dalam hatiku, aku telah menodai tempat sakral ini…

Dan setelah sunset, kamipun segera beranjak pulang. Tapi woooooow. Apa yang terjadi, ternyata ada tangan-tangan jahil yang telah mengempiskan ato membocorkan ban  sepeda motor pinjaman itu, maka dengan mendorong berdua sejauh satu kilometer kamipun berhasil menemukan tukang tambal ban. Dan menambal ban motor  itu di situ.

”Li’, kamu gak malu sama aku waktu dorong motor tadi?”

”Ngapain malu”. Kemudian Lily merapatkan badannya di badanku. Persis kayak suami isteri yang lagi bulan madu, tampaknya sangat mesra. Tukang tambal ban itu tak henti-hentinya melirik kami berdua.

”Aku senang kalo sama kakak, kalau sama orang lain mana aku mau.” Sebaris gigi putihnya begitu indah dan menawan, dan walaupun bibirnya agak sedikit tebal, tapi ada nilai plusnya, sebab bibir itu sangat sensual. Dan aku sangat senang melihat bibir sensual.

”Maaf Li’, jadinya kamu kecapaian sekarang. Aku heran sama orang-orang sini, padahal kita gak ngapa-ngapain, masih saja dikerjain”.

”Kan orang bukan kita, maklumlah orang, siapa yang tahu di balik hati mereka”.

”Ya juga ya…”

Dan dengan peluh yang mulai mengering kami menunggu sampai pengerjaan ban itu selesai, kemudian setelah itu, kamipun pulang.

*****

Tiga bulan telah berlalu, dan di suatu sore yang mendung, ketika beberapa ekor burung kecil terbang melewati atap kosku. Datanglah Nia padaku.  Tak jelas apa yang tergambar di matanya, yang jelas di hatiku masih aku simpan sejuta kekecewaan dan luka hati yang mendalam. Aku tak dapat memaafkannya. Aku tak dapat memaafkannya.  Dan ketika Nia sudah masuk teras kosku, tiba-tiba saja aku tak dapat menahan bulir-bulir bening di mataku. Seribu kejadian yang telah kami lalui bersama tiba-tiba muncul di mataku. Aku masuk ke dalam kamar dan berdiri menghadap tembok.  Nia datang kemudian merangkulku dari belakang.

”Kakak, apa kabarmu, aku merindukanmu”. Kata Nia. Nia mencoba membalikkan badanku. Tapi aku tetap berkeras menghadap tembok, hidungku basah dan aku tak dapat berkata-kata.

”Kakak, apakah kakak tak serindu aku, sehingga kakak tak mau membalas rangkulanku?” Tanya Nia padaku. terasa dalam getar-getar suara itu, ada air mata yang mengalir deras di pipinya.

”Untuk apa kamu datang kemari?”

”Kakak, lupakah kakak pada janji kita. Tiga bulan telah berlalu, dan lupakan semuanya, tidak ada perpisahan yang pernah pernah terjadi antara kita. Aku masih yang dulu. Dan aku adalah milikmu.” Nia bertambah erat merangkulku.

”Oya, apa maksudmu menyuruh aku berpacaran dengan Lily.” Tiba-tiba aku membentak dan berbalik, mataku merah dan kembali emosiku meledak-ledak. Nia tertegun, kemudian duduk di lantai beralaskan kasur jelekku. Nia tetap diam, air matanya terus keluar berhamburan, sama seperti aku, pasti hidungnya lagi mampet juga sehingga gak bisa ngomong sedikitpun.

”Nia, kamu kira cinta itu bisa ditunjuk-tunjuk, cinta bukanlah pemberian dan cinta bukan pula sebuah hadiah”. Nia tetap menangis sambil menunduk.

”Aku kecewa sama kamu. Kamu hanya mempermainkan cintaku, dan aku tak dapat memaafkanmu, jangan mengharap aku akan balik kembali. Sekali kamu menyuruh aku pergi. Selamanya aku tak akan kembali.”

”Jadi sekecil itu cinta yang dulu kakak katakan sebesar langit?” Tanya Lily balik bertanya.

”Jika benar kakak cinta aku, maka apapun yang terjadi kakak tak akan meninggalkan aku. Aku kecewa sama kakak”.

”Aku yang lebih kecewa. Kamu kemanakan cinta kita yang setahun, apa alasanmu menyuruh aku berpacaran dengan Lily!” Aku membentak pada Nia.

”Dengarkan aku dulu, jangan terbawa emosimu. Ketahuilah, tidak ada di dunia ini yang paling aku cintai selain kakak, demikian juga tidak ada seorangpun yang paling mencintai kakak di dunia ini selain aku. Dan akulah yang paling mengerti kakak.”

”Alah teori, praktiknya mana!”

”Kakak, sesungguhnya aku punya alasan yang kuat kenapa aku menyuruhmu berpacaran dengan Lily. Kakak mau tahu alasannya. Yang pertama aku ingin tahu apa sebenarnya motivasi Lily selalu mencampuri urusan kita. Kedua aku curiga sama Lily, kemungkinan ia cemburu sama aku”. Nia terdiam sebentar seolah seperti mengambil nafas untuk mengeluarkan tenaga dalam tingkat tinggi.

”Ketiga agar Lily tak lagi menjelek-jelekkan kakak, agar ia tahu betapa besarnya cintaku padamu. Agar ia tahu betapa besarnya cintaku padamu. Jadi dengan memberikan kesempatan kepadanya, maka iapun akan mencintai kakak sebagaimana aku mencintai kakak, dan ia kemudian sadar, bagaimana menderitanya seseorang yang sedang mencinta. ”

Dan demi mendengar alasan Nia yang begitu masuk akal akupun menjadi terkulai lemas, kata-kata itu begitu indah seperti lantunan puisi-puisi yang membuat aku tersanjung, tapi aku tetap bersikukuh dengan pendirianku, aku melemparkan tubuhku ke kasur kemudian mengambil bantal dan menutupi wajahku. Aku menangis terisak-isak seperti anak kecil. Dan Nia  merangkulku sambil berkata.

”Kakak, kumohon kembalilah padaku. Aku ini milikmu. Dan seperti perjanjian kita, Lily bukanlah apa-apa, tinggalkanlah dia, sekarang dia telah tahu betapa besarnya rasa cintaku pada kakak. Sehingga ia tak akan pernah lagi menjelek-jelekkan kakak.

Aku membuka bantal di wajahku. Kemudian aku berkata pada Nia.

”Tidak semudah itu, aku terlanjur mencintainya”.

Aku membohongi Nia walau sebenarnya dalam hatiku berkata bahwa sesungguhnya yang paling aku cintai di dunia adalah dia, sama sekali bukan Lily, walaupun memang ada sedikit rasa yang aku simpan untuk Lily, tapi tidak sebesar perasaan cintaku padanya.

Dan setelah mendengar kata itu. Nia semakin menangis, ia tak bisa berkata-kata. Kemudian tiba-tiba saja ia memeluk kedua telapak kakiku dan menciumnya.

”Aku mohon, jangan katakan itu. Katakan, engkau masih mencintai aku.”

”Tidak, aku mencintai Lily.” (air mataku berlinangan)

”Kakak, aku mengemis kepadamu, katakanlah kau masih mencintai aku”.

”Tidak, aku tak mencintaimu”, bentakku sambil menangis juga.

”Sekali lagi kakak, katakan kau tak mencintai Lily, dan kakak hanya mencintai aku, kumohon, aku mengemis kepadamu.”

”Tidak”, jawabku dengan suara bergetar, dan aku mengangkat wajahnya dari kedua telapak kakiku.

”Kakak, walau kakak tak mencintai aku, tapi sekarang kasihanilah aku, aku mengemis padamu, inginkah kakak melihat aku gila?” Aku hanya terdiam.

”Baiklah, jika kakak mencintainya, aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Ternyata menguji cinta kakak adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Dan mungkin sudah suratan takdir, kita tak mungkin bersama lagi. Selamat Tinggal kasih, selamat tinggal sayang, selamat tinggal kenangan, selamat tinggal mimpiku. Aku akan merindukanmu. Aku tahu, kakak masih mencintai aku, kakak tak bisa menyembunyikannya dari aku, Dan kakak akan menyesali ini selamanya, kakak akan menyesali ini selamanya.”

Dan Nia kemudian pulang dengan sejuta kesedihan.  Terlebih-lebih aku. Karena sesungguhnya. Jauh di lubuk hatiku. Masih terukir namanya. Jauh di dasar jiwaku. Dia masih kekasihku.

 

*****

 

Begitulah beberapa untaian cerita antara aku dengan Nia. Dan seperti janjiku dulu padamu. Akan aku ceritakan semuanya tanpa tersisa, agar cerita ini tak menjadi sampah-sampah basi yang terlupakan dalam timbunan kenangan-kenangan putih dingin dibalik Igloo yang begitu jauh dan tersembunyi.

Hendak kuceritakan dengan serangkaian puisi-puisi rancu, tapi aku takut kau tak akan menemukan peniti cerita yang sengaja aku jatuhkan pada tumpukan-tumpukan jerami masa lalu dan kenangan.

Dan sesungguhnya cerita ini aku paksakan demi cintaku yang aku katakan sebagai kebencian  yang sesungguhnya. Karena bagaimanapun eratnya cinta yang telah kita jalin, namun masih juga perpisahan menghampiri  dan inilah sebenarnya sisi yang aku katakan sebagai sebuah kebencian yang pada hakekatnya  adalah cinta kita yang sebenarnya. Dan  masalah rasa di hatiku ini ia adalah rahasia yang tetap punya satu arti walau aku menggambarkannya dengan seribu bentuk kata.

Dan sungguh, tidak kuakhiri cerita ini dengan seuntai madah yang aku lemparkan pada kawanan bangau-bangau liar bersayap kelabu.

Tidak juga kuakhiri cerita ini dengan tawa puas dan kemenangan dari salah seorang pemenang lomba dengan kereta-kereta kudanya.

Tidak juga kuakhiri cerita ini dengan menggaris bawahi bait-bait syairku yang samar dalam bayang Ba’ yang sesungguhnya adalah dirimu.

Tapi kuakhiri cerita ini dengan mengatakan aku membencimu. Aku membencimu. Tidak ada yang paling aku benci di dunia ini. Selain dirimu.

*****

Di suatu sore, dengan tergesa-gesa Mizan datang ke kosku.

”Samsul, Nia titip pesan, ini untuk yang terakhir kalinya. Besok ia akan pulang ke kampungnya. Ia menunggumu di Dermaga jam 15.00 Kapal Tilong Kabila akan membawanya bertolak jam 16.00. Pergilah, mungkin kelak, kau tak akan menjumpainya lagi.”

Dan setelah mendengar kata itu, aku menjadi lemas, mengapa secepat ini Nia akan pulang, tak biasanya Nia pulang kampung.  Dan malam itu aku meng es em es Lily, aku katakan kepadanya bahwa Nia akan pulang kampung besok, dan aku akan pergi untuk salam perpisahan dengannya ke Dermaga besok siang sekitar pukul 15.00.

Besok siangnya dengan tergesa-gesa aku meminjam sepeda motor kawanku. Dan aku segera melarikan motor itu ke arah dermaga, kurang lebih satu jam perjalanan dari mataram ke arah selatan.

Di dermaga tampak sudah banyak orang yang menunggu kapal dengan barang bawaan masing-masing. Pedagang juga sudah bersiap-siap menunggu kapal berlabuh. Aku segera mencari Nia di antara kerumunan orang-orang itu. Dan tiba-tiba ada seseorang yang merangkul aku dari belakang.

”Akhirnya kakak datang juga.”

”Nia, benar kamu akan pulang”? Aku bertanya dengan suara bergetar dan mataku tiba-tiba saja gelap. Persis di depan wajahku. Wajah sendu Nia menatapku lekat-lekat. Itulah wajah yang selalu aku kagumi, wajah yang selalu aku rindukan, wajah yang selalu aku mimpikan meski ada sedikit goresan kekecewaan di hatiku. Namun aku sendiri tak mampu menyembunyikan besarnya cintaku padanya.

”Ya.. aku akan pulang selamanya.”

”Kenapa Nia”. Aku bertanya dengan suara yang serak, sesungguhnya dalam hatiku aku selalu ingin bersamanya. Tapi dia tak perlu tahu. Betapa besarnya cintaku padanya. Betapa besarnya cintaku padanya.

”Untuk apa aku di sini, kakak toh tak mencintai aku lagi”.  (sambil menangis)

”Aku memang tak bisa mencintaimu lagi. Karena aku adalah milik Lily”. (dengan nada keraguan)

Ah.. haruskah kami berpisah begitu cepat, setelah begitu banyak cerita cinta yang kami ukir bersama. Cinta memang menyakitkan, dan itulah pilihan cinta.

”Karena itulah aku akan pergi untuk selama-lamanya. Aku akan pergi jauh darimu dan jauh dari mimpi kita.”

”Nia, cinta tak selamanya harus saling memiliki.  Tetaplah di sini, kamu tak perlu berharap bahwa cinta akan berakhir bahagia, karena cinta tak mesti berakhir”.

”Tidak, aku harus pergi, aku harus pergi. Biarlah semuanya menjadi kenangan belaka. Cinta dan cerita kita berdua”.

”Dan, sebelum aku benar-benar pergi, aku ingin meminta sesuatu kepadamu, kumohon kabulkanlah untuk yang terakhir kalinya.”

”Katakanlah, katakanlah”.

”Kak Samsul, mungkin aku tak bisa menjadi kekasihmu untuk selama-lamanya. Mungkin aku tak akan bisa untuk selalu mendampingimu, mungkin aku tak akan bisa melihatmu lagi. Karena itu,  untuk yang terakhir kalinya, kumohon berpura-puralah bahwa engkau masih milikku. Dan Sayang. Ciumlah aku. Kumohon. Dan aku akan mencoba untuk tak menangis.”

”Tidak, tidak, aku tak bisa melakukannya.”

”Kenapa, …kenapa engkau tak bisa melakukannya?”

”Karena aku membencimu. Karena aku membencimu”.

”Kenapa kak Samsul membenciku. Kenapa?”

”Aku benci kepadamu, karena aku tak bisa melupakanmu. Aku benci kenapa kau harus hadir dalam hidupku dan mengisi relung-relung jiwaku. Aku benci kenapa harus bertemu denganmu. Aku benci kenapa aku terus mencintaimu. Aku benci kenapa kau harus menyuruh aku berpacaran dengan Lily sehingga kita berpisah. Aku benci kenapa walau Lily telah datang padaku namun aku tak bisa mencintainya dan hanya mencintaimu”.

”Kakak, aku juga membencimu. Aku membencimu. teganya kakak berkata begitu sekarang. Tapi semua sudah terlambat. Lihatlah ada seseorang yang datang. Dia adalah Lily. Itu. Itu. Dia datang bersama Mizan”. (Sambil menunjuk pada seseorang yang berdiri sekitar seratus meter dari kami).

”Seperti yang aku bilang tadi, kumohon untuk yang terakhir kalinya. Berpura-puralah bahwa engkau masih milikku. Sayang. Ciumlah aku. Aku akan mencoba untuk tak menangis.” Dan dengan segala dendam cinta kemudian aku mencium Nia, mencoba meyakinkannya bahwa sebenarnya kami tak bisa berpisah, kami tak bisa berpisah selamanya. Tapi kemudian Nia melepaskan pelukan dan ciumanku. Dia mencoba tersenyum, tapi kemudian ia menangis, matanya penuh dengan air mata.

”Selamat tinggal sayang, selamat tinggal mimpiku. Mungkin sudah takdir, kita tak mungkin bersama lagi. Kita harus berpisah. Dan untuk besok, biarlah aku menjadi bagian dari hari kemarin. Hari ketika engkau masih menjadi milikku.

” I hate you.”. Katanya.

”I hate you too. Kataku.

”Lihatlah ke sana, ada seseorang yang menantimu. Pergilah padanya, dan yakinkan dia. Yang tadi itu kau hanya berpura-pura, kau hanya berpura”, tangisnya  semakin berat.

”Dan ini ada kenang-kenangan terakhir untukmu. Terimalah”. Kata Nia memberikan  sebuah bungkusan. Dan aku menerima bungkusan itu dengan berat hati.

Seiring dengan itu, kapal Tilong Kabila merapat di bibir dermaga kemudian Nia menghilang di balik pintu kapal itu. Entah kapan kami akan bersua kembali. Aku tak pernah tahu, tidak juga burung-burung camar yang beterbangan di langit biru dermaga itu. Tidak juga para pedagang-pedagang yang menjajakan jualannya di dermaga itu. Ataupun ombak yang datang silih berganti di dermaga itu. Hanya satu yang aku tahu saat itu. Itulah perjumpaanku yang terakhir dengannya. Selama-lamanya. Selama-lamanya.

Dan setelah kapal itu melaju diawali dengan lengkingan panjang peluit nahkoda. Aku membuka bungkusan yang diberikan oleh Nia. Di dalamnya aku  mendapatkan sebuah jaket lembut berwarna ungu. Dan selembar surat berwarna pink yang ditulis dengan goresan goresan panjang dengan warna hijau.

”Kasih, aku tak tahu harus bilang apa, pastinya sampai kapanpun aku selalu mencintaimu. Tapi aku harus pergi untuk selamanya. Karena di sini tak ada lagi tempat untuk ku bersandar.  Oya.. ini ada sebuah jaket, kuharap jaket ini akan selalu bersamamu setiap saat, menggantikan aku di sisimu. Menghangatkanmu ketika angin dingin menerpa. Melindungimu ketika panas membakar, sebagai penggantiku saat aku tak bisa lagi menghangatkan dan melindungimu. Hanya satu yang aku minta. Jangan pernah pakai jaket ini untuk pergi bersama Lily. Aku tak ingin jaket ini menangis sedih.

Sayang. Selamat tinggal. Aku akan selalu mencintaimu. Selamanya. Selamanya.

Kekasihmu. Nia.”

 

Kemudian aku menatap jauh kapal yang telah pergi itu. Tiba-tiba saja aku terduduk, aku baru tahu, bahwa aku telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku. Yakni aku membiarkan orang yang menyayangiku pergi untuk selama-lamanya demi orang yang mencintai aku. Dan aku terlalu mencintai serta menyayangi gadis itu. Tapi kini dia telah pergi untuk selama-lamanya. Hanya penyesalan yang tersisa. Dan sungguh sayang, menyesal kemudian sungguh tak berguna.

”Nia…. Kembalilah sayang… kembalilah sayang”. Kataku melambai jauh……

Dan kemudian Kapal itu menghilang ditelan angin, membawa semua mimpi dan cerita yang telah kami ukir bersama-. I hate you… I hate you….

(Sudirman)

 

Bersambung ke Jilid II

 

2 thoughts on “BENCI

  1. Ping-balik: Samar Bayangan | Blog Muhammad Saroji

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s