TANGISAN ANAK PERANTAU


Krens Lotim. Hujan batu di negeri sendiri lebih baik dari pada hujan emas di negeri orang . adalah sebuah pribahasa yang sering kita dengar tatkala menimba ilmu dibangku sekolah .

Arransini adalah seorang perantau yang beberapa kali menembus negeri jiran Malaysia untuk mencari nafkah hidup. Berangkat pertama kali tahun 1995 bersama beberapa kawan yang juga mempunyai tujuan yang sama meninggalkan kampung halamannya yaitu mencari sesuap nasi.
Berbekal pengalaman dan pendidikan yang relatif cukup untuk sekedar bekal dalam dunia rantauan yaitu tamat di Ma’had Darul Qur’an Wal Hadits Al-Majidiyah Asysyafi’iyah NW Pancor pada tahun 1993 dan setelah itu langsung di angkat sebagai tenaga sukarela di MA NW Rensing-Rajak, Namun karena keterbatasan biaya hidup akhirnya pada tahun 1995 dia mohon izin kepada kepala sekolahnya yang waktu itu dijabat oleh Nurdji alias TGH. Tajuddin Ahmad (alm). Dengan niat dan tekad yang kuat sehingga kalimat bismillahi tawakkal alallah keluar dari mulutnya dan berangkat. Tangan demi tangan dijabatnya melepas diri dari keluarga dan sahabat karibnya waktu itu. Tidak ketinggalan sang pujaan hati yang harus merelakan kepergiannya selama beberpa waktu.
Dengan menumpangi mobil engkel melaju meninggalkan dusun tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Diliriknya kiri kanan jalan. Bangunan, tetumbuhan dan segala yang harus ia tinggalkan, termasuk lambaian tangan sang pelita hati.
Sesampai di kota Mataram sekitar jam 14.00 wita lalu dipindahkan ke bis malam Bali Cepat untuk sampai ke kota Pahlawan Surabaya dengan jarak tempuh satu hari satu malam.
Pemeriksaan pasport untuk masing – masing penumpang oleh pihak migrasi Surabaya dimulai sekitar jam 15.00 WIB saat itu dan alhamdulillah lulus lalu naik ke kapal besar bernama KM IRA 2 yang konon pemilik kapal itu adalah orang nomor dua negeri ini yaitu pak Yusuf Kala saat itu.
Di dalam kapal besar itu berbaur ribuan orang dari berbagai penjuru di Indonesia yang mempunyai tujuan yang sama ke negeri jiran Malaysia. Empat hari empat malam akhirnya sampailah ke negara tujuan, Namur sebelumnya diperiksan visa terlebih dahulu oleh pihak migrasi Malaysia dan dinyakan boleh masuk dengan ijin tingal selama 1 ( satu ) bulan karena visa yang digunakan adalah visa pelancong.
Kapal besar nyandar di pesisir pantai Johor Malaysia tepat tanggal, 13 Juli 1995 dan dengan hati yang lega Arransini bersama teman-temannya masuk negara tujuan.
Menginap dua malam di sebuah tempat di Mersing ( bagian dari wilayah Johor Malaysia ) kemudian melanjutkan perjalanan menuju Kuala Lumpur Ibu kota Negara Malaysia. Sebagai langkah awal untuk memulai pekerjaan dan untuk menyesuaikan diri dengan teman – teman yang sudah lama bekerja di Malaysia, Arransini pun mulai bekerja pada sector bagngunan dengan meilih pekerjaan pengecoran bangunan ( ngongkrek bahasa Malaysia ) dengan gaji harian RM. 25,00 ( Dua Puluh Lima Ringgit Malaysia ). Tidak lama pekerjaan itu ditekuninya, lalu pindah dari Wangsa Maju ke daerah Kelang Selangor dengan mengambil pekerjaan yang sama dan dengan gaji yang sama pula. Jata visa yang diberikan pihak imigrasi sudahpun berakhir, namur keinginannya untuk mendapatkan ringgit tidak pernah hilang. Akhirnya dengan nekad diapun tinggal dengan mengantongi permit palsu. Dua bulan bekerja di Kelang akhirnya pindah lagi Kuala Lumpur City Center ( KLCC ), menara kembar sebagai menara kebanggaan negara Malaysia dengan gaji RM 40,00 ( Empat Puluh Ringgit Malaysia ). Dan itupun ditekuninya hanya tiga bulan saja karena takut dengan Polis Dirija Malaysia yang setiap hari lalu lalang di depan tempat ia bekerja. Begitu seterusnya dengan tidak ada penghasilan yang kelihatan disebabkan karena tidak punya kelengkapan dan akhirmya pulang pada bulan Desember 1996 melalui jalan gelap alias nyelundup dari pelabuhan Kelang menuju ke Pulau Batu Sumatera dengan menumpang perahu kecil dengan muatan yang tidak sebanding.
Pengalaman itu cukup membuatnya berfikir seribu kali untuk kembali ke negeri rantau seperti semula yang walaupun sering diajak teman – temannya dengan janji – janji muluk bahwa ada gaji besar dan lain sebagainya.
Namur entah apa yang terjadi sehingga pada bulan Desember tahun 2000 kembali ia melangkahkan kakinya ke negeri jiran tersebut melalui jalan gelap. Naik di Lembar dengan menaiki Bis Malam Safari Drama Raya menuju kota Gede Jogja dan dari Jogja menuju ke Bagan Siapi – api Riau lalu ke Malaysia dengan menumpangi kapal barang.
Sedíh memang dalam perjalanan karena untuk sampai ke tujuan harus melalui beberapa rintangan. Kami diatur sepertinya petugas kapal atau ABK yang sebelumnya dibuatkan KTP sementara oleh tekong. Sesampai di Malaysia kamipun mulai bekerja layaknya seperti teman – teman yang sudah lama disitu. Tidak jauh berbeda dengan perjalan tahun sebelumnya, pindah dari satu proyek ke proyek lain dan akhirnya nasib naas menimpa bahwa Arransini bersama teman – temannya masuk dalam perangkap operasi malam ( pengerasan bahasa Malaysia ) dan dibawa ke penjara Semenyeh estela melalui beberapa proses di rumah Polis Malaysia.
Selama satu bulan lima hari tingla dalam penjara dengan perlakuan yang tidak manusiawi oleh petugas setempat lalu dipulangkan secara sukarela dengan kerjasama pemerintah Republik Indonesia dari Pelabuhan Kelang Malaysia ke Medan Sumatera, lalu disambut oleh para calo dengan menawarkan jasa akan mengantar pulang sampai ke tujuan, namun mencekik, tapi kamipun menyanggupinya yang penting kami sampai ke tujuan di Lombok. Akhirnya pulang dengan menaiki bis lintas Sumatera ke Surabaya dan dari Surabaya ke Mataram menempuh perjalanan selama satu minggu di atas bis.
Sampai di rumah tidak membawa apa – apa hanya jenggot yang panjang karena tidak dicukur selama dalam penjara dan badan yang kurus karena tidak diberikan makanan yang cukup dipenara Semenyeh. Bertemu dengan semua keluarga termasuk anak dan isteri tercinta.
Demikian cerita Arransini setelah  mengalami pahit manisnya menjadi TKI ilegal ke negeri jiran MALAYSIA.
( MA )

One thought on “TANGISAN ANAK PERANTAU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s