GURU HONORER SEKOLAH SWASTA MEMPRIHATINKAN


 

Salah Seorang Guru Honorer

Lombok Timur- Nasib guru yang melaksanakan pengabdian di madrasah-madrasah begitu memprihatinkan. Dengan semangat yang membara setiap hari ia melangkahkan kaki menuju medan perjuangan, menghela nafas, menyeka keringat dalam perjalanan panjang. Meski kelihatan tegar, akan tetapi ia memendam setumpuk kesusahan yang begitu berat. Apa yang ia hasilkan dari madrasah tidaklah cukup untuk membiayai anak istri mereka sehari-hari. Satu jam pelajaran diberikan honor berkisar 10.000 sampai dengan 15.000 rupiah. Andaikan seorang guru mengisi jam pelajaran 4 jam perminggu, maka ia akan mendapatkan 60.000 rupiah perbulan, itupun ia harus hadir juga membimbing anak-anak setiap hari. Dan yang paling membingungkan saat ini juga ada edaran surat dari pimpinan provinsi untuk tidak membolehkan pihak sekolah untuk meminta uang pembinaan dari siswa, jalur sertifikasi yang terkadang tidak tepat sasaran. Lalu bagaimana pihak sekolah akan menentukan kebijakan. Akankah menunggu mimpi untuk realisasi BSM ( Bea Siswa Miskin ) tepat waktu?. Kita tidak mampu menjawabnya. Yang jelas sekolah-sekolah negeri berbeda jauh dari sekolah-sekolah swasta. Padahal dihitung dari prosentase waktu mengajar, sama tidak berbeda

Begitu kerasnya persaingan hidup untuk mencari rizki, tidak cukup dengan mengisi waktu hanya di madrasah saja, akan tetapi ia butuh penambahan pencarain di luar waktu sekolah. Namun banyak guru kita yang hanya bermula dari kemauan hingga ia sampai menuntaskan sekolah. Sawah yang membentang hanya ada dalam hayalan, peningkatan ekonomi dari lapangan pekerjaan lain hanya isapan jempol belaka. Akan tetapi ditengah pengabdian kepada masyarakat ia dihadapkan pada persoalan yang begitu berat. Kita berharap kebijakan pemerintah akan bisa menentramkan panasnya persaingan hidup, setidak melegakan dikala haus. ( SaifZuhri )

2 thoughts on “GURU HONORER SEKOLAH SWASTA MEMPRIHATINKAN

  1. 5 Tips Mudah Menulis Artikel
    Posted on 10.03 comments (21)
    Labels: Menulis, Tips
    writing tipsSebelum saya mengulas tentang 5 Tips Mudah Menulis Artikel di posting saya kali ini, saya ingin bertanya kepada Anda dengan pertanyaan saya kemarin di artikel “Saran Saya: Berhentilah Ngeblog!” Apakah Anda benar-benar serius ingin berhenti ngeblog? Apakah bad mood itu benar-benar menghinggapi Anda hingga saat ini? Jika jawabannya “Ya” mungkin Anda perlu membaca tulisan saya yang ini.

    Tips ini mungkin tak murni seratus persen baru. Tapi saya yakin secara tanpa sadar Anda pasti sudah pernah melakukannya dalam kegiatan Anda sehari-hari namun mungkin Anda belum menyadarinya. Apa saja ke-5 Tips Mudah Menulis Artikel tersebut? Mari kita bahas bersama-sama:

    1. Membaca Cermat. Banyak orang yang bilang tanpa banyak membaca orang akan susah untuk menulis. Sebaliknya, kalau orang suka membaca maka lebih mudah untuk menulis. Betul? Jawabnya, tergantung dulu bagaimana cara Anda membaca. Kalau cara Anda membaca cenderung tergesa-gesa atau speed reading ya percuma. Tetap susah untuk menghasilkan sebuah letikkan ide yang bisa membuat Anda mudah untuk menulis. Belajarlah jadi pembaca yang cermat. Cermat disamping mengamati isi dari tulisan yang Anda baca, juga yang tak kalah penting adalah cermat mengamati gaya atau style dan detil-detil kata per kata, kalimat per kalimat, paragraf per paragraf yang ditulis oleh penulisnya dari sudut pandang Anda sesama penulis. Dari sini nanti mudah-mudahan, Insya Alloh Anda jadi lebih mudah untuk menulis.
    2. Teknik Menulis dengan Mind Map. Apakah Anda pernah membaca buku-buku “Mind Map” dari Tony Buzan? Jika belum saya menyarankan kepada Anda untuk membaca buku tersebut. Di buku tersebut banyak diajarkan bagaimana cara-cara membangkitkan dan mengembangkan sebuah ide, membuat Anda akan menjadi tercengang betapa banyak bergelimangan ide di sekitar Anda siap dijadikan sebuah bahan tulisan. Saya tak perlu bicara panjang lebar lagi untuk membahas buku tersebut, nanti dikira saya lagi jualan buku Tony Buzan lagi. Lol. Silahkan Anda beli dan buktikan sendiri.
    3. Lupakan Teori Menulis. Banyak buku sudah mengajarkan teknik-teknik cara menulis yang baik, sekolah-sekolah yang mengajarkan bagaimana teknik mudah untuk menulis. Bukannya saya tak suka apalagi tak percaya dengan buku dan sekolah-sekolah tersebut. Tidak. Tetapi terlalu banyak teknik atau teori justru semakin membuat Anda semakin minder dan susah untuk menulis. Itu faktanya. Percayalah teori itu bisa dipelajari pelan-pelan sambil Anda praktek menulis. Keahlian menulis sebenarnya hanya masalah jam terbang saja. Semakin sering Anda menulis insting dan skill menulis Anda akan semakin terasa tajam. Percayalah!
    4. Menulis Artikel Tutorial. Menulis tutorial lebih mudah dari menulis sebuah opini, esai atau sebuah cerita seperti cerpen dan novel, yang murni berbasiskan keahlian Anda untuk mengolah kata, meramu masalah, mengolah argumen, mengelola plot seperti dalam cerita dan lain sebaginya untuk menjadi sebuah tulisan yang menarik, yang tentu saja ini sangat menuntut full skill kreativitas menulis yang baik agar tulisan Anda tampak menarik untuk dibaca. Ini berbeda dengan menulis tutorial. Menulis tutorial lebih menekankan ke arah teknis, bukan skill menulis itu sendiri, teknis tentang bahasan dari tutorial topik yang sedang Anda usung. Jadi jika Anda masih kesulitan menulis, mulailah menulis tutorial atau tips-tips yang menjadi bidang keahlian atau hobi Anda. Contoh, menulis tutorial tentang blogging dengan segala macam pernak-perniknya. Jangan melakukan hal sebaliknya, menulis hal yang kurang Anda kuasai dan sukai. Contoh yang lain, meski tulisan ini bukan berupa tutorial tapi anggap saja ini juga tulisan berupa tutorial yang berisi tips-tips untuk menulis. He…He….
    5. Menulis dari Catatan Harian. Anda pernah membaca buku fenomenal Karya A. Fuadi “Negeri 5 Menara” yang menjadi best seller itu? Anda perlu tahu si penulisnya pernah bilang di Goodread kalau Novel itu ditulis karena dinspirasi kehidupan pribadi penulisnya sendiri. Dan itu benar-benar mengambil dari kumpulan catatan harian dari penulisnya sendiri yang pernah dibuatnya di masa lalu. Nah, belajar dari cerita penulis Novel Negeri 5 Menara, bukankah Catatan Harian atau diary bisa menjadi sumber ide tulisan yang bisa dituangkan dalam artikel? Tapi tentunya dengan sedikit modifikasi sehingga menjadi lebih menarik. Dan Anda tahu banyak penulis besar melakukan cara-cara ini. Mengapa cara ini tidak Anda lakukan juga agar Anda bisa mudah untuk menulis?

    Demikian kelima tips dari saya kali ini yang bisa saya sharing kepada Anda. Next akan saya sambung tulisan ini dengan tips-tips menulis lain yang lebih menarik lagi. Semoga artikel ini bermanfaat. Happy blogging!

    Catatan:
    Jika ada yang bertanya kepada saya apakah saya penulis profesional dengan menulis tips ini, sebagaimana umumnya artikel semacam ini biasanya ditulis oleh penulis profesional, saya bisa jawab “Bukan”, saya hanya blogger biasa yang kebetulan memang suka tulis menulis. Artikel ini saya tulis murni dari pengalaman saya sendiri dan sudah saya praktekkan pada blog ini.

  2. Kemuliaan Menulis: Ayo Muliakan Diri Kalian!

    Kata “Kemuliaan Menulis” atau Nobility of Writing sebenarnya sudah cukup lama ada dalam kepala saya. Kata ini tidak tiba-tiba saja muncul. Kata “Kemuliaan Menulis” itu saya kenal ketika dalam perjalanan panjang menuju cita-cita menjadi seorang penulis. Walaupun akhirnya, saya kemudian tidak menjadi penulis. Begitupun sebagai seorang pengajar (pendidik) saya acap kali bersentuhan dengan dunia kepenulisan.

    “Kemuliaan Menulis” sejak awal saya yakini merupakan sesuatu yang harus disebar bak virus. Sesuatu yang harus bisa menjadi inspirasi para penulis muda untuk berjuang menuju kesuksesan. “Kemuliaan Menulis” harus menjadi awalan dari kecanggihan seorang penulis. Tanpa “Kemuliaan Menulis” saya meyakini, tak akan ada karya-karya tulis fenomenal yang menggugah dan membangkitkan emosi pembaca.

    Apa itu “Kemuliaan Menulis”? Pertanyaan itulah yang kemudian muncul dari banyak kawan-kawan mahasiswa atau penulis-penulis muda. Saya seringkali membiarkan para mahasiswa saya untuk lebih dulu berpikir dan memberikan definisinya masing-masing terhadap sesuatu. Begitu pula dengan “Kemuliaan Menulis”. Saya biasanya hanya menuliskan kata itu dan meminta para mahasiswa untuk memberikan pendapatnya.

    Ada banyak kata yang keluar dari para mahasiswa ketika mereka memikirkan soal kata “Kemuliaan Menulis”. Ada yang bilang, menulis itu terhormat; ada juga yang bilang, menulis itu tinggi; atau ada juga yang bilang, menulis itu narsis. Semua definisi spontan yang hadir dalam kepala para mahasiswa dan dilontarkan dihadapan saya menjadi sesuatu yang sangat penting. Pada tahap awal saya hanya ingin meminta para mahasiswa untuk mengartikan kata “Kemuliaan Menulis”. Ya, hanya arti kata itu saja dan bukan pemahaman mereka terhadap “Kemuliaan Menulis”. Dari banyak lontaran pendapat itu, saya kemudian mengajak kawan-kawan mahasiswa untuk bisa pelan-pelan memahami apa itu arti menulis.

    Menulis, sebenarnya bukanlah untuk diri sendiri. Ada banyak orang yang menganggap bahwa menulis merupakan pekerjaan paling “egois” yang bisa dilakukan. Maksudnya, pekerjaan menulis dianggap bisa dikerjakan sendiri, dibaca sendiri, dikomentari sendiri dan kemudian disimpan sendiri. Ada banyak alasan mengapa cara menulis seperti ini ditempuh. Banyak penulis muda yang enggan menulis karena takut tak bisa menulis. Takut tulisannya jelek dan diejek oleh pembacanya (walaupun kadang yang membaca pun hanya dia seorang). Kalaupun kemudian muncul sedikit keberanian, maka setelah menulis ya hanya dibaca sendiri. Diejek sendiri, dikomentari sendiri dan kemudian disimpan untuk tidak penah perlu diketahui orang lain selain dirinya. Tapi ada juga yang sudah berani menulis dan menunjukkan hasil tulisannya pada orang lain, namun tiba-tiba harus terserang “demam” karena tak tahan dikrtitik bahwa tulisannya dianggap sama sekali tak punya mutu. Semangatnya untuk menulis kemudian menjadi lumer bak ice cream dihantam panas. Cair dan kemudian berserak tak bisa utuh lagi.

    Gambaran soal menulis yang saya sampaikan diatas menjadi fenomena yang umum dan dirasakan oleh para penulis muda. Bibit-bibit penulis inilah yang kemudian terbonsai gara-gara tak memahami “Kemuliaan Menulis”. Mereka hilang, musnah dan kemudian mengambil jalan menempuh profesi lainnya: menjadi tukang parkir, pemulung, pencopet, dan lain sebagainya.

    “Kemuliaan Menulis” sejatinya harus dimulai dari kesadaran bahwa menulis bukan pekerjaan “egois “, bahwa menulis bukan sekedar mendapatkan honor atau menyalurkan hobi. Jika tingkatan menulis masih pada tingkat mendapatkan honor atau menyalurkan hobi, saya yakin bahwa tidak akan ada tulisan bermutu dari seorang penulis macam ini. Tidak akan ada tulisan yang bisa menginspirasi banyak orang dan membuat orang tergugah karenanya.

    Menulis itu akan menjadi sebuah kemuliaan jika para penulis muda menyadari bahwa mereka sesungguhnya bukan menulis untuk diri mereka sendiri. Saya selalu percaya, bahwa jika ketika seseorang menulis dan dia hanya beranggapan tulisannya hanya untuk dirinya, maka bisa dipastikan tulisan itu akan sangat dangkal. Sadarlah, bahwa menulis itu sebenarnya untuk orang lain. Menulis bukan sekedar mencurahkan ide di papan ketik, mencurahkan unek-unek atau menulis caci maki. Menulis adalah sebuah “ibadah” yang akan membawa seorang penulis pada kemuliaan karena menginspirasi banyak orang. Maka itu, sekarang, ayo menulis dan muliakan diri kalian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s