BIRRUL WALIDAIN DALAM PERKEMBANGAN DAKWAH


Lombok Timur- Pondok Pesantren Birrul Walidain NW Rensing makin hari makin mengalami perkembangan, hal ini terlihat dengan banyak santri yang ikut menimba ilmu di Pondok Pesantren yang baru berumur 10 tahun ini.

TgH. M.Yusuf Ma'mun dan Lale Alyqutunnafis pada acara Haul Pontren BW NW ke 9

Tidak tanggung-tanggung jumlah santrinya mencapai 1500an lebih.

Jama'ah Pontren Birrul Walidain dalam sebuah acara pengajian

Ketua Pondok Pesantren, Ust. H. Muh. Dzulfadli, S.Pd.I yang ditemui oleh personil Krens Lombok Timur menceritakan bahwa tahun ini, disamping penyelesaian Panti Asuhan, juga akan diusahakan pembangunan koperasi pondok pesantren sebagai usaha untuk memakmurkan kesejahteraan para guru dan karyawan. Dalam hal prestasi santri, santri Pondok Pesantren Birrul Walidain baik dari Madrasah Aliyah, SMA dan lembaga-lembaga yang lain seringkali mendapatkan perhargaan baik tingkat kecamatan maupun kabupaten. Pondok Pesantren ini diberikan nama oleh Pimpinan Pondok Pesantren Assyafi’iyah Pulo Air Jakarta yaitu KH.Abdurrasyid Abdulah Syafi’I ( Mertua dari Gubernur NTB, KH.M.Zainul Madjdi, MA ).

Camat Sakra Barat ( duduk paling kanan ) bersama beberapa pengurus Pontren

Beberapa lembaga yang ada di Pondok Pesantren Birrul Walidain :

  1. Madrasah Diniyah Awwaliyah
  2. Madrasah Diniyah Wustho
  3. Madrasah Diniyah Ulya
  4. TPQ Birrul Walidain
  5. RA Hamzanwadi
  6. TK Hamzanwadi
  7. RA NW Rensing Bat
  8. MI BW NW 01 Rensing
  9. MI BW NW 02 Rensing
  10. MTs. BIrrul Walidain NW
  11. MTs. NW No.2 Rensing
  12. MA Birrul Walidain NW Rensing
  13. SMA Birrul Walidain NW Rensing
  14. Fakultas Tarbiyah IAIH NW
  15. Panti Asuhan
  16. Majlis Ta’lim Birrul Walidain
  17. Karang Lansia ( SZ )

One thought on “BIRRUL WALIDAIN DALAM PERKEMBANGAN DAKWAH

  1. APA SESUNGGUHNYA YANG INGIN ANDA TULIS? (3): Berlatih Menulis di Tingkat “Advance”
    Oleh Hernowo

    “Mendapatkan ide bagaikan mendengar bisikan Tuhan.”
    –HANK ZELLER

    Ketika membahas kegiatan berlatih menulis di tingkat dasar dan
    menengah, saya sempat melontarkan beberapa pertanyaan penting. Saya
    berharap beberapa pertanyaan penting tersebut akan terjawab di tulisan
    ini dan kemudian jawaban tersebut dapat membantu siapa saja yang ingin
    memiliki kemampuan menulis lewat latihan-latihan menulis yang cocok
    dengan dirinya.

    Pertanyaan pertama adalah, “Apa sesungguhnya yang ingin kita tulis?”
    Apakah pada saat kita memiliki kemauan-kuat menulis, kita benar-benar
    tahu tentang apa yang ingin kita tulis? Pertanyaan kedua terkait dengan
    pernyataan saya bahwa menulis adalah mengeluarkan “diri”. Sebenarnya
    “diri” yang ingin kita keluarkan lewat bantuan kata-kata itu diri yang
    seperti apa?

    Pertanyaan pertama akan saya jawab setelah saya membahas pertanyaan
    kedua. Sebelum yang lain-lain, perlu saya ingatkan di sini bahwa saya
    membuat tiga tingkatan kegiatan menulis ini—dasar, menengah, dan
    tinggi—adalah untuk keperluan menyusun kurikulum pelatihan menulis yang
    dapat dijalankan oleh siapa saja yang ingin mencicipi dunia ini. Siapa
    saja yang ingin berlatih menulis saya harapkan dapat memposisikan
    dirinya berada di tingkat mana.

    Selain itu, saya juga ingin agar yang saya susun ini dapat membantu
    siapa saja—baik yang sudah sangat berpengalaman menulis atau yang baru
    mau mencicipi kegiatan menulis—dalam memecahkan problem-problem menulis
    yang tiba-tiba muncul dan menekan mereka. Saya berharap, dengan
    memahami tiga tingkatan menulis ini, seseorang kemudian dapat menemukan
    ”jalan”-menulisnya sendiri yang cocok dengan dirinya. Jika itu yang
    terjadi, saya jamin kegiatan menulisnya pun akan nyaman dan
    memberdayakan.

    Nah, terkait dengan pertanyaan kedua, saya ingin fokus ke soal ”diri”.
    ”Diri” yang saya maksud di sini—yang ingin dikeluarkan lewat kegiatan
    menulis—adalah diri yang menyimpan tiga hal: (1) pengalaman, (2)
    pengetahuan, dan (3) gagasan. Apakah ada “diri” yang menyimpan hal-hal
    di luar pengalaman, pengetahuan, dan gagasan? Tentu ada, tetapi tidak
    akan saya bahas.

    Ketiga hal yang disimpan sang ”diri” tersebut juga sifatnya
    bertingkat-tingkat sebagaimana jenjang kegiatan berlatih menulis yang
    saya coba rancang. Penjelasan saya selanjutnya semoga dapat menunjukkan
    bagaimana materi-materi—jika itu dapat disebut materi yang ingin
    dituliskan—yang ada di dalam ketiga hal itu memang berbeda dan cocok
    untuk setiap tingkatan kegiatan menulis yang saya rancang.

    Pertama, Ihwal “Diri” yang Menyimpan Pengalaman
    Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), pengalaman adalah ”sesuatu yang pernah dialami (dijalani, dirasai,
    ditanggung, dsb.).” Merujuk ke definisi secara bahasa, semoga kita
    sepakat bahwa setiap orang tentu memiliki materi-materi yang terkait
    dengan pengalaman. Jadi, menurut saya, siapa saja tentu dapat
    mengeluarkan materi-materi tersebut secara tertulis.

    Setiap pengalaman itu unik. Semua orang bisa jadi punya pengalaman yang
    sama terkait dengan, misalnya, memakan nasi goreng atau menyanyikan
    sebuah lagu. Namun, pengalaman memakan nasi goreng dan menyanyikan
    sebuah lagu itu tidak sama dalam detailnya jika setiap orang
    berkesempatan mengisahkannya secara tertulis. Nah, ketika seseorang
    berlatih menulis di tingkat dasar, sebaiknya dia berusaha mencari dan
    berusaha menemukan pengalamannya yang original.

    Menuliskan pengalaman atau menulis di tingkat dasar ini dapat dikatakan
    sebagai sebuah kegiatan menulis yang sangat personal. Yang dilibatkan
    adalah hanya diri yang menulis. Dan seseorang yang berniat berlatih di
    sini perlu benar-benar memedulikan dirinya. Bahkan, secara ekstrem, dia
    harus mengabaikan semuanya kecuali dirinya sendiri. Tujuan menulis di
    tingkat dasar memang, sebagaimana pernah saya katakan, adalah mencari
    dan menemukan dirinya yang original.

    Kedua, Ihwal “Diri” yang Menyimpan Pengetahuan
    “Diri” yang akan kita bahas di sini adalah diri yang mulai berkembang
    dan naik ke kegiatan menulis di tingkat menengah. Sebagaimana telah
    kita tahu, diri yang menulis di sini dan ingin dikeluarkan secara
    tertulis adalah diri yang telah membaca (bersentuhan dengan) pikiran
    banyak orang.

    Nah, dikarenakan “diri” yang ada di tingkat menengah ini merupakan diri
    yang membaca—membaca banyak buku referensi yang kaya, kuat, dan
    bervariasi—maka diri di sini dapat disebut sebagai diri yang menyimpan
    pengetahuan. Mohon dibedakan antara “pengalaman” dan “pengetahuan”.
    Sehingga ketika seseorang berlatih di tingkat ini—setelah melewati
    tingkat dasar—dia tak lagi menuliskan (mengeluarkan) hanya
    pengalamannya, tetapi juga pengetahuannya.

    Apakah ada pengetahuan yang original? Jelas, tidak ada.
    Meskipun ada kemungkinan sebuah pengetahuan baru dan berbeda muncul
    dari seorang saintis atau intelektual, tetap saja pengetahuan baru dan
    berbeda itu lahir dari sebuah sinergi dari banyak hal, termasuk sinergi
    dengan pengetahuan lama. Inilah menariknya kegiatan menulis ditinjau
    dari tingkat menengah.

    Ketiga, Ihwal”Diri” yang Menyimpan Gagasan
    Puncak dari kegiatan diri dalam memproduksi (menuliskan) sesuatu adalah di tingkat tinggi (advance).
    Setelah sang diri berlatih selama jangka waktu tertentu dalam
    memproduksi pengalaman dan pengetahuan, sampailah dia ke tingkat
    memproduksi gagasan. Saya tidak ingin membahas apa itu gagasan. Saya
    ingin Anda membayangkan tentang efek yang ditimbulkan jika seseorang
    berhasil memproduksi (menuliskan) gagasan.

    Saya pernah mengatakan bahwa membuat karya tulis ilmiah adalah kegiatan
    menulis di tingkat yang paling tinggi. Saya katakan begitu karena
    memproduksi pengalaman dan pengetahuan lebih mudah ketimbang
    memproduksi gagasan (karya tulis ilmiah). Mungkinkah seseorang dapat
    memproduksi karya tulis ilmiah (gagasan) dengan baik tanpa melewati
    kegiatan menuliskan pengalaman dan pengetahuan dengan baik?

    Yang jelas, saya ingin membayangkan saat ini bahwa membuat karya tulis
    ilmiah sesungguhnya adalah sebuah kegiatan memproduksi gagasan yang
    dahsyat! Bagi saya, karya tulis ilmiah adalah tulisan yang dapat
    membuka cakrawala dan harapan baru bagi sebuah kehidupan. Seorang
    penulis karya tulis ilmiah selayaknya bangga dan merasa bahagia karena
    dia dapat meniti karier kepenulisannya hingga tingkat yang ideal.

    Bagaimana sebenarnya memproduksi gagasan lewat tulisan?[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s