Ikatan Islam Bakal Terurai Simpul Demi Simpul

 

Krens Lotim. Mengapa kekacauan di dunia dewasa ini begitu merebak? Coba perhatikan berbagai berita di media. Hampir semua mengabarkan kekacauan, perselisihan dan kezaliman. Sedemikian merebaknya kekacauan sampai-sampai di kalangan insan media di dunia barat berkembang suatu motto yaitu Bad News Is Good News (berita buruk adalah berita baik). Artinya berita yang mengandung kekacauan diyakini bakal mendatangkan profit bisnis. Bila suatu berita mengandung kebaikan, maka ia dianggap ”tidak menjual” Astaghfirullah..!!

Namun pertanyaan di atas belum terjawab… Mengapa hal ini terjadi di masa kita sekarang? Saudaraku, tidak perlu kita susah-susah mencari jawabnya. Silahkan simak pesan Nabi Muhammad saw berikut:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ

تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلَاةُ

(AHMAD – 21139) : Dari Abu Umamah Al Bahili dari Rasulullah Shallallahu’alaihiWasallam bersabda: “Sungguh ikatan Islam akan terurai simpul demi simpul. Setiap satu simpul terurai maka manusia akan bergantunganpada simpul berikutnya. Yang pertama kali terurai adalah masalah hukum dan yang paling akhir adalah sholat.”

Sebagaimana ditulis oleh Ahmad Thomson dalam bukunya Sistem Dajjal bahwa semenjak hampir satu abad yang lalu dunia memasuki suatu keadaan dimana nilai-nilai Rabbani dan Nabawy ditinggalkan dan nilai-nilai kekafiran alias Sistem Dajjal ditegakkan. Penulis muslim berkebangsaan Inggris ini dengan tegas berpandangan bahwa peradaban modern yang disetir oleh Dunia Barat Yahudi-Nasrani telah menyebabkan seluruh masyarakat dunia terjebak ke dalam suatu kehidupan yang mengingkari eksistensi Allah dan meyakini bahwa hidup ini hanyalah di dunia belaka. Sebagaimana Allah gambarkan mengenai kaum sekularis (orang-orang yang dunia-minded) di dalam Al-Qur’an:

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا

إِلا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلا يَظُنُّونَ

Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS Al-Jatsiyah ayat 24)

Dari sejarah, kita dapati bahwa sebenarnya selama hampir empat-belas abad dunia berada dalam kebaikan karena dipimpin oleh orang-orang beriman yang senantiasa mengembalikan segenap urusan –baik pribadi maupun publik– kepada hukum Allah dan RasulNya. Para pemimpin tersebut berusaha keras untuk memimbing masyarakat menuju keridhaan Allah dan mengikuti sunnah NabiNya. Memang harus diakui bahwa selama masa itu terkadang ada saja khalifah-khalifah pemimpin ummat yang memiliki karakter bermasalah (baca:fajir), tapi secara formal otoritas kemasyarkatan pada masa itu masih menjunjung tinggi sumber utama rujukan ummat Islam, yaitu Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah An-Nabawiyyah. Sehingga secara garis besar ummat masih merasakan rahmat dan nikmatnya hidup di bawah naungan hukum Allah. Sehingga selama rentang waktu yang begitu panjang ummat masih menyerahkan ketaatan dan loyalitasnya kepada Ulil Amriminkum (pemegang urusan dari kalangan orang-orang beriman) sebagaimana diperintahkan Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ

وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ

وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ

ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An-Nisa ayat 59)

Namun semenjak dunia menyaksikan berdirinya berbagai negara berdasarkan konsep kebangsaan dan bukan lagi berlandaskan aqidah tauhid dan ibadah kepada Allah semata, maka mulailah dalam bidang hukum masing-masing nation-states tersebut meninggalkan hukum Allah dan RasulNya lalu berkreatifitas menyusun sendiri hukumnya masing-masing. Ada yang kurang kreatif sehingga begitu saja mengadopsi sistem hukum mantan penjajahnya, seperti Indonesia mengambil perangkat hukum Belanda sebagai hukum nasionalnya. Namun ada juga yang sedikit lebih kreatif dengan mengkombinasikan hukum mantan penjajahnya dengan hukum adat-setempat plus campuran hukum dari Al-Qur’an. Tetapi tidak ada yang secara murni dan konsekuen menjadikan hanya Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah An-Nabawiyyah sebagai rujukan tunggal hukum nasionalnya, apalagi dalam tataran aplikasinya.

Inilah salah satu tanda akhir zaman yang di-nubuwwah-kan (diprediksi) oleh Rasulullah saw di dalam hadits riwayat Imam Ahmad di atas. “Sungguh ikatan Islam akan terurai simpul demi simpul. Setiap satu simpul terurai maka manusia akan bergantungan pada simpul berikutnya. Yang pertama kali terurai adalah masalah hukum dan yang paling akhir adalah sholat.”

Jelas sekali Nabi saw mengisyaratkan bahwa dekadensi penerapan ajaran Islam diawali dengan lepasnya simpul dalam masalah hukum. Dewasa ini kita menyaksikan bahwa tidak ada lagi tatanan masyarakat yang masih menerapkan hukum Islam secara murni dan konsekuen. Semua berlomba meninggalkan hukum Allah dan membanggakan hukum produk kelompok manusia masing-masing bangsa. Tanpa kecuali hal ini juga terjadi di negara-negara berpenduduk mayoritas muslim. Jika masyarakat diajak untuk kembali kepada penerapan syariat Islam atau kembali kepada hukum Allah dan RasulNya, maka kebanyakan orang menolaknya. Padahal sikap penolakan seperti yang mereka tunjukkan hanya pantas dilakukan oleh kaum munafik sebagaimana Allah jelaskan berikut:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ

رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا

“Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (QS An-Nisa ayat 61)

Hukum Allah wajib ditegakkan karena hanya dengan menerapkan hukum Al-Qur’an sajalah kebenaran dan keadilan dapat diwujudkan. Banyak orang mengaku membela kebenaran dan keadilan, namun jika ditanya apa yang dia maksud dengan kebenaran dan keadilan, maka ia pasti akan menjawab selain Al-Qur-an. Padahal kebenaran dan keadilan hanya dapat wujud jika kita menegakkan hukum berlandaskan Kitab Allah, yakni Al-Qur’an.

وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلا

لا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

”Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-An’aam ayat 115)

Wajarlah bila hukum Al-Qur’an merupakan hukum satu-satunya yang benar dan adil, sebab seluruhnya bersumber dari Allah Yang Maha Benar lagi Maha Adil. Sedangkan hukum manusia merupakan hukum yang pati mengandung cacat dan ketidak-sempurnaan, sebab Allah sendiri menggambarkan manusia sebagai makhluk yang amat zalim lagi amat bodoh. Bagaimana mungkin manusia dengan karakter seperti itu akan sanggup memproduk hukum yang benar apalagi adil? Tidak mengherankan kalau di zaman ini kita temukan bahwa berbagai kezaliman dan perilaku bodoh merebak di tengah kehidupan masyarakat modern.

إِنَّا عَرَضْنَا الأمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَالْجِبَالِ

فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الإنْسَانُ

إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولا

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS Al-Ahzab ayat 72)

Saudaraku, dari terurainya simpul Islam yang paling pertama ini, maka kitapun menyaksikan terurainya berbagai simpul Islam lainnya. Sehingga dewasa ini tidak lagi mengagetkan bila kita mendapati seorang yang mengaku muslim dengan ringannya meninggalkan kewajiban paling asasi, yaitu sholat. Dan jika ini benar, berarti dewasa ini kita sedang menyaksikan realisasi hadits Nabi saw di atas di mana dari ikatan Islam paling awal –yaitu masalah hukum– hingga ikatan Islam paling akhir –yaitu sholat– semua telah terurai.

Saudaraku, marilah kita menjadikan ini sebagai ibrah agar kita memainkan peranan seoptimal mungkin untuk merajut kembali ikatan Islam simpul demi simpul. Dimulai dengan kita menghidupkan sholat wajib berjamaah dan di masjid hingga mengadvokasi wajibnya ummat kembali hanya tunduk kepada hukum Allah dan RasulNya dan meninggalkan hukum zalim lagi tidak cerdas bikinan manusia yang hanya menimbulkan kekacauan, melestarikan kemungkaran dan berfihak kepada kezaliman. Insya Allah. ( Kutipan dari Era Muslim ) SaifZuhri.

Iklan

Jika Bukan Ahlinya Yang Mengurus, Tunggulah Kehancuran..!

Krens.Lotim

إِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ

قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ

قَالَ إِذَا أُسْنِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ

فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (BUKHARI – 6015)

Sungguh benarlah ucapan Rasulullah sholallahu’alaihi wa sallam di atas. “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Amanah yang paling pertama dan utama bagi manusia ialah amanah ketaatan kepada Allah, Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan Penguasa alam semesta dengan segenap isinya. Manusia hadir ke muka bumi ini telah diserahkan amanah untuk berperan sebagai khalifah yang diwajibkan membangun dan memelihara kehidupan di dunia berdasarkan aturan dan hukum Yang Memberi Amanah, yaitu Allah subhaanahu wa ta’aala.

إِنَّا عَرَضْنَا الأمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ

وَالأرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا

وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الإنْسَانُ

إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولا

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”(QS Al-Ahzab 72)

Amanat ketaatan ini sedemikian beratnya sehingga makhluk-makhluk besar seperti langit, bumi dan gunung saja enggan memikulnya karena khawatir akan mengkhianatinya. Kemudian ketika ditawarkan kepada manusia, amanat itu diterima. Sehingga dengan pedas Allah ta’aala berfirman: “Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” Sungguh benarlah Allah ta’aala…! Manusia pada umumnya amat zalim dan amat bodoh. Sebab tidak sedikit manusia yang dengan terang-terangan mengkhianati amanat ketaatan tersebut. Tidak sedikit manusia yang mengaku beriman tetapi tatkala memiliki wewenang kepemimpinan mengabaikan aturan dan hukum Allah ta’aala. Mereka lebih yakin akan hukum buatan manusia –yang amat zalim dan amat bodoh itu- daripada hukum Allah ta’aala. Oleh karenanya Allah hanya menawarkan dua pilihan dalam masalah hukum. Taat kepada hukum Allah atau hukum jahiliah? Tidak ada pilihan ketiga. Misalnya kombinasi antara hukum Allah dengan hukum jahiliah.

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ

وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ

حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al-Maidah 50)

Dewasa ini kita sungguh prihatin menyaksikan bagaimana musibah beruntun terjadi di negeri kita yang berpenduduk muslim terbanyak di dunia. Belum selesai mengurus dua kecelakaan kereta api sekaligus, tiba-tiba muncul banjir bandang di Wasior, Irian. Kemudian gempa berkekuatan 7,2 skala richter di kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Lalu tiba-tiba kita dikejutkan dengan erupsi gunung Merapi di Jawa Tengah. Belum lagi ibukota Jakarta dilanda banjir massif yang mengakibatkan kemacetan dahsyat di setiap sudut kota, bahkan sampai ke Tangerang dan Bekasi. Siapa sangka banjir di Jakarta bisa terjadi di bulan Oktober, padahal jadwal rutinnya biasanya di bulan Januari atau Februari..?

Lalu bagaimana hubungan antara berbagai musibah dengan pengabaian hukum Allah? Simaklah firman Allah ta’aala berikut:

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا

يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ

وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ

“Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” (QS Al-Maidah 49)

Berdasarkan ayat di atas, jelas bahwa Allah mengancam bakal terjadinya musibah bila suatu kaum berpaling dari hukum Allah. Dan tampaknya sudah terlalu banyak dosa yang dilakukan ummat yang mengaku beriman di negeri ini sehingga musibah yang terjadi harus berlangsung beruntun. Dan dari sekian banyak dosa ialah tentunya dosa berkhianat dari amanah ketaatan kepada Allah ta’aala. Tidak saja sembarang muslim di negeri ini yang mengabaikan aturan dan hukum Allah, tetapi bahkan mereka yang dikenal sebagai Ulama, Ustadz, aktifis da’wah dan para muballigh-pun turut membiarkan berlakunya hukum selain hukum Allah. Hanya sedikit dari kalangan ini yang memperingatkan ummat akan bahaya mengabaikan hukum Allah. ( Kutipan dari Era Muslim ) SaifZuhri.

Peresmian dan Serah Terima RKB SMAN 1 Sakra

Hari ini kamis, 14 Oktober 2010 jam 11.di SMAN 1 Sakra berlangsung acara tasyakkuran atas selesainya pembangunan dua buah RKB  yang dibangun dengan dana partisifasi (Dana Gotong Royong) dari semua wali siswa, yang diserahkan kepada dinas pendidikan Lombok Timur dirangkaikan dengan pelepasan 5 dewan guru yang dimutasikan. Dalam sambutannya Ketua Komite SMAN 1 Sakra H. Anwar AR.  Dan Kepala Sekolah Drs.Lalu Zihnan Munir, S.Pd.I, M.Pd. Sangat bersyukur dan berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu  baik muril dan materil sehingga pembangunan ini bisa rampung. Dalam kesempatan ini Kepala Dikpora Lotim yang diwakili oleh Kabid. dikmen menyambut gembira karena pihak sekolah bisa berbuat untuk mengantisifasi kekurang-kekurangan yang ada. Ini sebagai bukti kalau semua program dikomunikasikan ke semua elemen sekolah sehingga seia sekata dan bisa menjadi kenyataan. Kabiddikmen juga menyampaikan kalau SMAN 1 Sakra mempunyai nilai lebih dibanding dengan sekolah-sekolah yang lain dan beliau berpesan untuk  memelihara dengan baik, karena umumnya orang lebih cepat dan gemar membangun tapi tidak memelihara.

Bukran

GURU HONORER SEKOLAH SWASTA MEMPRIHATINKAN

 

Salah Seorang Guru Honorer

Lombok Timur- Nasib guru yang melaksanakan pengabdian di madrasah-madrasah begitu memprihatinkan. Dengan semangat yang membara setiap hari ia melangkahkan kaki menuju medan perjuangan, menghela nafas, menyeka keringat dalam perjalanan panjang. Meski kelihatan tegar, akan tetapi ia memendam setumpuk kesusahan yang begitu berat. Apa yang ia hasilkan dari madrasah tidaklah cukup untuk membiayai anak istri mereka sehari-hari. Satu jam pelajaran diberikan honor berkisar 10.000 sampai dengan 15.000 rupiah. Andaikan seorang guru mengisi jam pelajaran 4 jam perminggu, maka ia akan mendapatkan 60.000 rupiah perbulan, itupun ia harus hadir juga membimbing anak-anak setiap hari. Dan yang paling membingungkan saat ini juga ada edaran surat dari pimpinan provinsi untuk tidak membolehkan pihak sekolah untuk meminta uang pembinaan dari siswa, jalur sertifikasi yang terkadang tidak tepat sasaran. Lalu bagaimana pihak sekolah akan menentukan kebijakan. Akankah menunggu mimpi untuk realisasi BSM ( Bea Siswa Miskin ) tepat waktu?. Kita tidak mampu menjawabnya. Yang jelas sekolah-sekolah negeri berbeda jauh dari sekolah-sekolah swasta. Padahal dihitung dari prosentase waktu mengajar, sama tidak berbeda

Begitu kerasnya persaingan hidup untuk mencari rizki, tidak cukup dengan mengisi waktu hanya di madrasah saja, akan tetapi ia butuh penambahan pencarain di luar waktu sekolah. Namun banyak guru kita yang hanya bermula dari kemauan hingga ia sampai menuntaskan sekolah. Sawah yang membentang hanya ada dalam hayalan, peningkatan ekonomi dari lapangan pekerjaan lain hanya isapan jempol belaka. Akan tetapi ditengah pengabdian kepada masyarakat ia dihadapkan pada persoalan yang begitu berat. Kita berharap kebijakan pemerintah akan bisa menentramkan panasnya persaingan hidup, setidak melegakan dikala haus. ( SaifZuhri )

MA BIRRUL WALIDAIN TERIMA PPL STKIP HAMZANWADI SELONG

Lombok Timur- Hari ini tanggal 11 Oktober 2010 MA Birrul Walidain NW Rensing menerima mahasiswa PPL STKIP Hamzanwadi tahun akademik 2010-2011. Jumlah mahasiswa yang dilepas oleh DPL sebanyak 12 orang, masing-masing dari program studi, IPS ( ekonomi, sosiologi, sejarah, geografi ) PBS, dan MIPA. Kedua belas mahasiswa tersebut diterima di ruang kepala sekolah oleh Muhammad Amin, S.Pd. selaku Wakamad Kurikulum. Pada kesempatan itu Pak Amin memberikan pencerahan kepada semua mahasiswa agar pandai-pandai membawa diri agar menjadi panutan bagi siswa. Pendidik yang baik, pendidik yang mampu menjadi contoh bagi anak didiknya.Tidak saja di dalam ruang kelas, akan tetapi juga di luar kelas atau lingkungan masyarakat. Lebih jauh Pak Efol juga menambahkan bahwa setiap orang yang mengenyam pendidikan insya Allah pandai mengajar, tetapi yang kita inginkan seorang pengajar juga menjadi pendidik, pandai mengajar belum tentu pandai mendidik. Anak-anak sekarang hanya cerdas otak tetapi tidak cerdas hati, otak banyak mengendalikan hati, akan tetapi hati tidak mampu mengendalikan otak. Yang terbaik adalah hati nurani anak dibina agar kecerdasan dalam bidang IT ( ilmu dan teknologi ) dan IT ( iman takwa ) berpadu.(SaifZuhri)

BIRRUL WALIDAIN DALAM PERKEMBANGAN DAKWAH

Lombok Timur- Pondok Pesantren Birrul Walidain NW Rensing makin hari makin mengalami perkembangan, hal ini terlihat dengan banyak santri yang ikut menimba ilmu di Pondok Pesantren yang baru berumur 10 tahun ini.

TgH. M.Yusuf Ma'mun dan Lale Alyqutunnafis pada acara Haul Pontren BW NW ke 9

Tidak tanggung-tanggung jumlah santrinya mencapai 1500an lebih.

Jama'ah Pontren Birrul Walidain dalam sebuah acara pengajian

Ketua Pondok Pesantren, Ust. H. Muh. Dzulfadli, S.Pd.I yang ditemui oleh personil Krens Lombok Timur menceritakan bahwa tahun ini, disamping penyelesaian Panti Asuhan, juga akan diusahakan pembangunan koperasi pondok pesantren sebagai usaha untuk memakmurkan kesejahteraan para guru dan karyawan. Dalam hal prestasi santri, santri Pondok Pesantren Birrul Walidain baik dari Madrasah Aliyah, SMA dan lembaga-lembaga yang lain seringkali mendapatkan perhargaan baik tingkat kecamatan maupun kabupaten. Pondok Pesantren ini diberikan nama oleh Pimpinan Pondok Pesantren Assyafi’iyah Pulo Air Jakarta yaitu KH.Abdurrasyid Abdulah Syafi’I ( Mertua dari Gubernur NTB, KH.M.Zainul Madjdi, MA ).

Camat Sakra Barat ( duduk paling kanan ) bersama beberapa pengurus Pontren

Beberapa lembaga yang ada di Pondok Pesantren Birrul Walidain :

  1. Madrasah Diniyah Awwaliyah
  2. Madrasah Diniyah Wustho
  3. Madrasah Diniyah Ulya
  4. TPQ Birrul Walidain
  5. RA Hamzanwadi
  6. TK Hamzanwadi
  7. RA NW Rensing Bat
  8. MI BW NW 01 Rensing
  9. MI BW NW 02 Rensing
  10. MTs. BIrrul Walidain NW
  11. MTs. NW No.2 Rensing
  12. MA Birrul Walidain NW Rensing
  13. SMA Birrul Walidain NW Rensing
  14. Fakultas Tarbiyah IAIH NW
  15. Panti Asuhan
  16. Majlis Ta’lim Birrul Walidain
  17. Karang Lansia ( SZ )