FASI (Festival Anak Sholeh Indonesia ) akan Digelar


Lombok Timur- LPPTKA ( Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Taman Kanak- Kanak Alqur’an ) Kabupaten Lombok Timur dalam waktu dekat, tepatnya tanggal 13-14 Nopember 2010 akan mengadakan FASI ( Festival Anak Soleh) VIII tingkat  kabupaten yang akan dilaksanakan di Masjid Raya Al-Mujahidin Selong. Nurhuda Muslih, ketua panitia penyelenggara yang dikunjungi KMD pada rapat persiapan kemarin memberikan penjelasan bahwa FASI tahun ini akan lebih semarak dibandingkan dengan FASI sebelumnya disebabkan karena disamping para peserta mendapatkan Piagam Penghargaan dan Piala, para peserta yang diikuti oleh anak-anak mulai dari tingkat SD- SMP ini akan diberikan uang sebagi hadiah utama.

Panitia FASI VIII

Dan semua dewan juri kita datangkan dari provinsi imbuhnya. Adapun mata lomba yang akan diperlombakan antara lain; Nasyid tingkat TKA-TPA, Lomba Menggambar, Pidato Tiga Bahasa ( Arab, Inggris, Indonesia ), Tahfiz Juz Amma, Iqrar Santri, Terjemah Lafdziah, Cerdas Cermat Aquran, Tartil dll. Pada Lomba ini dibagi menjadi 3 tingkatan yaitu, Taman Kanak-Kanak Alqur’an, Taman Pendidikan Alqur’an dan Ta’limul Qur’an Lilaulad. FASI VIII ini menurut Saifuddin Zuhri, S.Pd selaku koordinator acara pada acara FASI tersebut memberikan penjelasan bahwa event akbar ini juga akan menjadi ajang silaturrahmi bagi semua Taman Pendidikan Alqur’an yang ada di Lombok Timur, karena selama ini TPA-TPA yang ada di Lotim belum ada naungan – naungan khusus yang dibentuk pemerintah untuk mengumpulkan santri-santri TKA-TPA. Semoga anak-anak kita menjadi anak yang soleh(SZ)

2 thoughts on “FASI (Festival Anak Sholeh Indonesia ) akan Digelar

  1. Kemuliaan Menulis: Ayo Muliakan Diri Kalian!

    Kata “Kemuliaan Menulis” atau Nobility of Writing sebenarnya sudah cukup lama ada dalam kepala saya. Kata ini tidak tiba-tiba saja muncul. Kata “Kemuliaan Menulis” itu saya kenal ketika dalam perjalanan panjang menuju cita-cita menjadi seorang penulis. Walaupun akhirnya, saya kemudian tidak menjadi penulis. Begitupun sebagai seorang pengajar (pendidik) saya acap kali bersentuhan dengan dunia kepenulisan.

    “Kemuliaan Menulis” sejak awal saya yakini merupakan sesuatu yang harus disebar bak virus. Sesuatu yang harus bisa menjadi inspirasi para penulis muda untuk berjuang menuju kesuksesan. “Kemuliaan Menulis” harus menjadi awalan dari kecanggihan seorang penulis. Tanpa “Kemuliaan Menulis” saya meyakini, tak akan ada karya-karya tulis fenomenal yang menggugah dan membangkitkan emosi pembaca.

    Apa itu “Kemuliaan Menulis”? Pertanyaan itulah yang kemudian muncul dari banyak kawan-kawan mahasiswa atau penulis-penulis muda. Saya seringkali membiarkan para mahasiswa saya untuk lebih dulu berpikir dan memberikan definisinya masing-masing terhadap sesuatu. Begitu pula dengan “Kemuliaan Menulis”. Saya biasanya hanya menuliskan kata itu dan meminta para mahasiswa untuk memberikan pendapatnya.

    Ada banyak kata yang keluar dari para mahasiswa ketika mereka memikirkan soal kata “Kemuliaan Menulis”. Ada yang bilang, menulis itu terhormat; ada juga yang bilang, menulis itu tinggi; atau ada juga yang bilang, menulis itu narsis. Semua definisi spontan yang hadir dalam kepala para mahasiswa dan dilontarkan dihadapan saya menjadi sesuatu yang sangat penting. Pada tahap awal saya hanya ingin meminta para mahasiswa untuk mengartikan kata “Kemuliaan Menulis”. Ya, hanya arti kata itu saja dan bukan pemahaman mereka terhadap “Kemuliaan Menulis”. Dari banyak lontaran pendapat itu, saya kemudian mengajak kawan-kawan mahasiswa untuk bisa pelan-pelan memahami apa itu arti menulis.

    Menulis, sebenarnya bukanlah untuk diri sendiri. Ada banyak orang yang menganggap bahwa menulis merupakan pekerjaan paling “egois” yang bisa dilakukan. Maksudnya, pekerjaan menulis dianggap bisa dikerjakan sendiri, dibaca sendiri, dikomentari sendiri dan kemudian disimpan sendiri. Ada banyak alasan mengapa cara menulis seperti ini ditempuh. Banyak penulis muda yang enggan menulis karena takut tak bisa menulis. Takut tulisannya jelek dan diejek oleh pembacanya (walaupun kadang yang membaca pun hanya dia seorang). Kalaupun kemudian muncul sedikit keberanian, maka setelah menulis ya hanya dibaca sendiri. Diejek sendiri, dikomentari sendiri dan kemudian disimpan untuk tidak penah perlu diketahui orang lain selain dirinya. Tapi ada juga yang sudah berani menulis dan menunjukkan hasil tulisannya pada orang lain, namun tiba-tiba harus terserang “demam” karena tak tahan dikrtitik bahwa tulisannya dianggap sama sekali tak punya mutu. Semangatnya untuk menulis kemudian menjadi lumer bak ice cream dihantam panas. Cair dan kemudian berserak tak bisa utuh lagi.

    Gambaran soal menulis yang saya sampaikan diatas menjadi fenomena yang umum dan dirasakan oleh para penulis muda. Bibit-bibit penulis inilah yang kemudian terbonsai gara-gara tak memahami “Kemuliaan Menulis”. Mereka hilang, musnah dan kemudian mengambil jalan menempuh profesi lainnya: menjadi tukang parkir, pemulung, pencopet, dan lain sebagainya.

    “Kemuliaan Menulis” sejatinya harus dimulai dari kesadaran bahwa menulis bukan pekerjaan “egois “, bahwa menulis bukan sekedar mendapatkan honor atau menyalurkan hobi. Jika tingkatan menulis masih pada tingkat mendapatkan honor atau menyalurkan hobi, saya yakin bahwa tidak akan ada tulisan bermutu dari seorang penulis macam ini. Tidak akan ada tulisan yang bisa menginspirasi banyak orang dan membuat orang tergugah karenanya.

    Menulis itu akan menjadi sebuah kemuliaan jika para penulis muda menyadari bahwa mereka sesungguhnya bukan menulis untuk diri mereka sendiri. Saya selalu percaya, bahwa jika ketika seseorang menulis dan dia hanya beranggapan tulisannya hanya untuk dirinya, maka bisa dipastikan tulisan itu akan sangat dangkal. Sadarlah, bahwa menulis itu sebenarnya untuk orang lain. Menulis bukan sekedar mencurahkan ide di papan ketik, mencurahkan unek-unek atau menulis caci maki. Menulis adalah sebuah “ibadah” yang akan membawa seorang penulis pada kemuliaan karena menginspirasi banyak orang. Maka itu, sekarang, ayo menulis dan muliakan diri kalian.

    Aulia Andri, Motivator Menulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s