Khutbah Jum’at Oleh : Dahyatun Hasanah, S.Ag.

الحمد لله نحمد ه ونستعينه ونستغفره. ونعوذبالله من شرور انفسنا ومن سيئات اعمالنا من يهد الله فلا مضل له. ومن يضلل فلا هادىله. اشهد ان لااله الا الله وحده لاشريك له واشهد ان محمدا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى اله واصحابه ومن تبعهم باحسان الى يوم القيامة. ( اما بعد ) فاوصيكم عبادالله ونفسى بتقوىالله. فقد فازمن اتقى وخاب من طغى.

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah Secara fitrawi dan kodrati setiap manusia adalah pemimpin yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya atas apa yang telah diperbuat, minimal pemimpin bagi diri sendiri atau rumah tangganya. Kullukum raa’in wa kullukum mas’uulun ‘an ra;iyyatihi. Tapi yang menjadi persoalan adalah ketika kepemimpinan diusung pada ranah sosial. Dimana kepemimpinan tidak serta merta bisa menjadi hak prerogatif setiap orang yang menimbulkan fanatisme buta yang berazaskan demi kepentingan pribadi, keluarga, kelompok, partai atau negara belaka yang cenderung berani menggunakan segala cara dan jalan. Dalam surah An-Nisa’ ayat 144 Allah SWT mengingatkan kita : 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali[368] dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ?” Kaum muslimin rahimakumullah, Dalam kesempatan ini, tidaklah salah bila kita renungkan kembali beberapa nasihat Imam Ali kepada salah seorang gubernurnya di Mesir yaitu Malik Al-Asytar. Diantara nasehat beliau adalah : “Ketahuilah hai Malik…, perbendaharaan yang harus engkau kumpulkan adalah amal sholeh. Karena itu kendalikan nafsumu dan tahanlah hatimu dari berbuat sesuatu yang tidak boleh kamu lakukan. Biasakanlah hatimu menyayangi rakyatmu. Janganlah berdiri di atas mereka seperti binatang rakus yang ingin menerkam mereka. Berbuatlah adil karena Allah terhadap rakyatmu, walaupun itu bertentangan dengan kepentingan orang-orang yang dekat denganmu. Jangan menempatkan dirimu melawan Allah karena engkau tidak memiliki kekuasaan di atas kekuasaan-Nya. Takutlah kepada Allah dalam mengurus orang kecil, fakir miskin, gelandangan dan orang-orang yang tidak mampu. Usahakanlah dana negara diperuntukkan untuk mengangkat nasib mereka. Janganlah kemewahan menyebabkanmu membuat jarak dengan mereka. Kamu tidak akan dimaafkan bila melalaikan hal-hal kecil dan derita orang-orang kecil, dan janganlah kamu palingkan wajahmu dari mereka karena kesombongan. …” “Tunjuklah pejabat yang takwa dan rendah hati untuk membantumu mengurus mereka. Bersabarlah dalam mengurus mereka dan bertaqwalah kepada Allah. Tetapkanlah waktu untuk menerima pengaduan mereka dan berikanlah mereka kebebasan untuk menyampaikan keluhannya. Duduklah bersama mereka dan bersikap rendah hatilah demi mencapai ridla Allah yang menciptakanmu……” Kaum muslimin rahimakumullah, Semangat ini sangat relevan untuk dihidupkan kembali pada era pemerintahan sekarang ini, mengingat banyaknya kita melihat berbagai praktik, kebijakan dan perilaku, etika dan akhlaq para pemimpin, pejabat, petinggi negeri sudah berada pada titk nadir. Etika, moral dan tanggung jawab mereka sudah berada pada posisi yang sangat mengkhawatirkan kondisi keberlangsungan dinamika kenegaraan politik, ekonomi dan sosial budaya bangsa kita sekarang ini. Jika etika dan moralitas para petinggi bangsa terus mengalami dekadensi maka sudah akan dipastikan bahwa tidak lama lagi bangsa ini akan mengalami kehancurannya. Dalam Hadits Rasulullah SAW ditegaskan : “Rakyat tidak akan mengalami kehancuran sekalipun mereka sesat dan jelek, apabila keadaan pemimpin/pemerintahnya suka menunjukkan ke jalan yang benar atau ditunjukkan ke jalan yang benar. Akan tetapi rakyat akan hancur sekalipun mereka suka menunjukkan ke jalan yang benar dan suka diberi petunjuk, apabila keadaan pemerintahnya sesat dan jelek”. (HR. Abu Nu’aim) Kaum muslimin rahimakumullah Kehancuran yang ditimpakan oleh Allah kepada suatu bangsa akibat kezoliman ada dua bentuk. Pertama, kehancuran yang disebabkan karena kezoliman itu sendiri. Adakalanya kezoliman yang dilakukan oleh perseorangan dengan membuat kerusakan, memperturutkan hawa nafsu, bermewah-mewah, menjalankan riba, merusak akhlaq dan sebagainya. Dan adakalanya keziliman itu dilakukan oleh penguasa (pemimpin) yang mengakibatkan hancurnya umat dan bangsa yang dipimpinnya secara menyeluruh. Kedua, kehancuran yang disebabkan karena azab yang ditimpakan oleh Allah terhadap suatu bangsa karena mengabaikan perintah-perintah Allah dan mengingkari utusan-utusan Allah. Azab ini sebagai balasan atas kezaliman yang mereka lakukan. Na’udzu Billahi Min Dzalik ! Dalam hadits yang lain beliau juga mengungkapkan “Keadilan pemimpin selama satu jam lebih afdhal daripada ibadah selama enam puluh tahun. Dan kezhaliman pemimpin selama satu jam lebih berat akibatnya di sisi Allah daripada maksiat selama enam puluh tahun. Oleh karena itu, mumpung belum terlambat marilah kita bersatu, senantiasa saling mengingatkan dan menasehati tanpa merasa diri rendah karena adanya koreksi orang lain. Namun semua itu semata untuk menghindari kehancuran dan kebinasaan menuju kejayaan bangsa yang aman sentausa di bawah naungan dan ridla Allah SWT. Pada akhirnya, marilah kita tinggalkan perbuatan-perbuatan zalim, perkara-perkara bathil dan kejahatan-kejahatan yang bersarang dalam diri sendiri maupun yang merajalela dalam masyarakat, supaya Indonesia tercinta ini terhindar dari segala malapetaka. Dan untuk membentengi negara kita dari kehancuran itu, marilah kita hiasi negara kita dengan sinar keimanan dan amal sholeh dari semua warga negara. Sehingga dengan bekal iman dan amal shaleh tersebut kita bisa menjadi pemimpin di negeri sendiri yang tidak mudah diombang ambingkan bangsa lain.

Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik. Itulah janji Allah kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, yaitu mereka diberi kekuasaan (khalifah), keteguhan agama, keamanan perasaan dan ketenteraman hidup dalam masyarakat. Kaum muslimin rahimakumullah, Demikianlah pandangan Islam dalam mempertahankan negara dari kehancuran dan kebinasaan. Semoga dengan bekal iman dan amal shaleh yang kita praktekkan dalam kehidupan masyarakat, dapat menjadi dasar bagi keberlangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia. Amin. جعلنا الله واياكم من العائدين والفائزين الامنين. وادخلنا واياكم فى عباده الصالحين. وقل رب اغفر وارحم وانت ارحم الراحمين.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s