NOAK dan TOAK


Lotim– Matahari baru sepenggalah panjangnya di ufuk Timur. Gunung-gunung sudah terlihat kebiru-biruan. Awan sudah mulai berjalan menghiasi cantiknya langit. Angin juga tidak terlalu bernafsu mengejar awan, hanya sesekali ia menyenggol pantat putihnya yang lentur. Gubuk mungil di tengah pematang sawah terlihat gagah, kokoh menancap sebagai penghias gundukan-gundukan bukit nan indah. Warna hijau daun padi terasa menyejukkan mata. Pagi itu dari bilik kamar terdengar suara tangisan bayi. Seorang bayi telah lahir ke alam dunia dengan berat badan sekitar 6 kilogram. ” Masya Allah anakku begitu besar” Kata sang ibu. ” aok ka kuparanin ie Noak uah “. Dari balik pintu Amak Bikan muncul, ” uah sugul ke ?. Inak Bikan menjawab “Aok, bruk lalok ne sugul”. ” Sang blek kanak ine, tumbenku dedait” kata Amak Bikan. ” Aok,ie ampukku paran ie Noak, agen ne jari kanak si’ pantes”, Inak Bikan menyahut. ” Ado sang ne arak si’ lainan ” kata Amak Bikan. ” Ie uak ke, abot aku mikir ” Inak Bikan menjawab dengan agak malas. Hari-hari terus berjalan menapaki suasana dengan nyaman, tidak terasa Noak sudah berumur 7 tahun, saat yang tepat untuk memasukkannya ke sekolah dasar. Sementara Inak Bikan masih terasa belum lengkap tanpa kehadiran sang anak kembali untuk menemani anaknya Noak. Suatu ketika di saat pagi-pagi buta Inak Bikan menyapa lirih kepada suaminya……bersambung ( Saif Zuhri )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s