UMAR BIN KHATTAB


(581 M-26 Zulhijah 23/3 Nov 644).

Sahabat Nabi SAW terdekat dan khalifah kedua al-Khulafa’ ar-Rasyidun. Ayahnya bernama Khattab bin Nufail al-Mahzumi al-Qurajsyi dari suku Adi. Ibunya bernama Hantamah binti Hasyim. Suku Adi terpandang mulia dan mempunyai martabat tinggi di kalangan Arab. Suku ini masih termasuk rumpun Kuraisy.

Umar mempunyai postur tubuh yang tegap dan kuat, wataknya keras, berani, dan berdisiplin tinggi. Pada masa remajanya, dia dikenal sebagai pegulat perkasa dan sering menampilkan kemampuannya itu dalam pesta tahunari pasar Ukaz di Mekah. la memiliki kecerdasan yang luar biasa, mampu memprakirakan hal-hal yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Tutur bahasanya halus dan bicaranya fasih. Kelebihan-kelebihan yang dimilikinya itu mengantarkannya terpilih menjadi wakil kabilahnya. la selalu diberi kepercayaan sebagai utusan mewakili kabilah Kuraisy dalam melakukan perundingan-perundingan dengan suku-suku lain. Keunggulannya berdiplomasi membuatnya populer di kalangan berbagai suku Arab.

Nabi SAW mengakui keunggulan-keunggulan yang dimiliki Umar, pemuda yang gagah berani, tidak mengenai takut dan gentar, dan mempunyai ketabahan dan kemauan keras. Oleh karena itu, untuk kepentingan perjuangan Islam, Nabi SAW pernah berkata, “Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah seorang dari Amr bin Hisyam atau Umar bin Khattab.” Doa Nabi SAW diperkenankan Allah SWT dengan Islamnya Umar sekitar tahun 616.

Sebelumnya, Umar dikenal sebagai salah se­orang tokoh Arab Kuraisy yang paling gigih menentang seruan Nabi SAW. Ketika disampaikan kepadanya bahwa adiknya, Fatimah, beserta suaminya telah memeluk Islam, ia mendadak menjadi geram dan sangat murka. Tanpa menunggu lebih lama ia segera pergi ke rumah adiknya. Sesampainya di sana, ia mendapati adik, ipar, dan beberapa orang muslim sedang mempelajari Al-Qur’an. Begitu melihat Umar, mereka semua lalu terdiam membisu dan tidak berani bergerak sedikit pun. Dengan emosi yang meluap-luap Umar menampar adiknya. Suaminya pun tak terelakkan dari pukulan Umar. Di puncak kemarahannya, mata Umar menangkap sebuah lembaran yang bertuliskan ayat-ayat Al-Qur’an. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang dan hatinya menjadi ciut. Dengan tangan bergetar dipungutnya lembaran itu, lalu dibacanya ayat-ayat Al-Qur’an yang tertera di situ. Menurut sebagian riwayat, yang tertera dalam lem­baran itu adalah beberapa ayat dari permulaan su­rah Taha. Setelah membaca ayat-ayat itu, perasaannya menjadi tenang, dan rasa damai menyelinap di hatinya. Timbul keinginan kuat untuk segera menemui Rasul SAW. la pun segera meninggalkan rumah adiknya menuju rumah al-Arqam di mana Nabi SAW sedang menyampaikan dakwah secara sembunyi-sembunyi.

Sesampainya di rumah al-Arqam, Umar segera mengetuk pintu. Mengetahui yang datang adalah Umar, sahabat-sahabat yang sedang bersama Nabi SAW menjadi gentar dan ketakutan, kecuali Hamzah bin Abdul Muttalib, paman Nabi SAW yang dikenal sebagai seorang yang gagah berani. Nabi SAW menyuruh membuka pintu dan mempersilakan Umar masuk. Melihat sikap Nabi SAW yang sangat lembut dan bijaksana, Umar merasa kecil di hadapannya. Sambil menggenggam leher baju Umar, Nabi SAW berkata dengan suara keras, “Islamlah engkau, wahai Ibnu Khattab!” Umar pun lalu mengucapkan dua kalimat syahadat, sebagai tanda ia telah masuk Islam.

Masuk Islamnya Umar segera diikuti oleh putra sulungnya, Abdullah, dan isterinya, Zainab binti Maz’un. Selain itu, keislaman Umar membuka jalan bagi tokoh-tokoh Arab lainnya masuk Islam. Sejak saat itu, berbondong-bondonglah orang masuk Islam sehingga dalam waktu singkat pengikut Islam bertambah dengan pesatnya.

Umar telah membawa cahaya terang dalam per­mulaan perjuangan Islam. Dakwah Islam, yang semula dijalankan secara rahasia dan sembunyi-sem­bunyi, kini disiarkan secara terang-terangan. Umar menjadi pembela dan pelindung umat Islam dari segala gangguan. Ibnu Asir mengungkapkan bahwa Abdullah bin Mas’ud berkata, “Islamnya Umar adalah suatu kemenangan, hijrahnya adalah suatu pertolongan, dan pemerintahannya adalah rahmat. Semula, umat Islam tidak berani mengerjakan salat dengan terang-terangan, takut dianiaya oleh kafir Kuraisy, tetapi setelah itu mereka dapat beribadah dengan leluasa tanpa merasa tertekan.” Umar telah menunjukkan kesetiaan dan pengabdiannya tanpa pamrih demi kejayaan Islam, seolah-olah ia hendak menebus segala kesalahan dan dosa yang diperbuatnya pada masa jahiliah.

Setelah Islam, Umar menjadi salah seorang sahabat Nabi SAW terdekat. Begitu dekatnya, sampai Nabi SAW pernah berkata, “Andaikata masih ada nabi sesudahku, Umarlah orangnya.” la juga digelari oleh Nabi SAW dengan al-Faruq, artinya pembeda/pemisah. Maksudnya, Allah telah memisahkan dalam dirinya antara yang hak dan yang batil. Hanya Umar yang begitu berani mengemukakan pikiran-pikiran dan pendapatnya di hadapan Nabi SAW, bahkan ia juga tidak segan menyam­paikan kritik untuk kebaikan dan kemaslahatan umat Islam. Diriwayatkan, pada suatu ketika ia ber­sama Nabi SAW berada di dekat Ka’bah, Nabi SAW lalu menunjukkan kepadanya makam Ibra­him. Seketika Umar bertanya apakah di situ boleh dilakukan salat? Nabi SAW menjawab bahwa hal itu belum diperintahkan. Lalu hari itu juga turun wahyu yang membolehkan salat di makam Ibrahim itu. Pada saat lain Umar mengusulkan kepada Nabi SAW agar memerintahkan isteri-isterinya menggunakan hijab (tirai), maksudnya agar berbicara de­ngan tamu-tamunya dari belakang hijdb sebab menurut Umar, yang berbicara dengan mereka bukan semuanya orang baik-baik melainkan ada juga orang jahat. Tidak lama kemudian turunlah ayat tentang hijab yang membenarkan pendapat Umar itu.

Umar juga banyak menengahi perselisihan yang terjadi di kalangan isteri-isteri Nabi SAW. Pandangan yang jauh ke depan, keluwesan, dan keadilannya membuat orang senang menerima pendapatnya. Hal ini juga terlihat ketika Rasulullah SAW wafat dan timbul perselisihan antara kaum Ansar dan Muhajirin di Saqifah mengenai pengganti Rasulullah SAW. Umar dengan tangkasnya melerai perselisihan.

Ketegasan dan keberanian Umar merupakan kekuatan besar dalam upaya mengembangkan Islam selanjutnya sehingga bukan hanya Nabi SAW yang menaruh simpati dan kepercayaan yang besar kepadanya, melainkan juga para sahabat, khususnya Abu Bakar. Pada masa pemerintahannya, Umar selalu diangkat sebagai penasihat sekaligus hakim dalam menangani permasalahan-permasalahan hukum yang timbul ketika itu. Kemampuan Umar dalam memecahkan berbagai problema hu­kum yang dihadapkan kepadanya meyakinkan Abu Bakar untuk mengangkatnya sebagai khalifah kelak.

Umar adalah orang pertama yang mencetuskan ide tentang perlunya dilakukan pengumpulan ayat-ayat Al-Qur’an. Ketika itu ayat-ayat Al-Qur’an tersebar di berbagai lempengan batu, pelepah kurma, tulang-belulang, dan sebagainya. Tempatnya pun berserakan di tangan para sahabat, tidak terkumpul dalam satu tempat. Pada masa Nabi SAW cukup banyak sahabat yang menghafal Al-Qur’an seluruhnya sehingga mengumpulkan tulisan-tulisan Al-Qur’an belum dirasa perlu. Akan tetapi, pada masa Khalifah Abu Bakar terjadi banyak peperangan yang di dalamnya gugur banyak sahabat penghafal Al-Qur’an. Dalam Perang Yamamah saja 70 orang penghafal Al-Qur’an yang gugur. Oleh karena itu, Umar khawatir para penghafal Al-Qur’an akan habis. Dengan alasan itu, ia mengusulkan kepada Abu Bakar agar segera dikumpulkan semua tulisan ayat-ayat Al-Qur’an. Pada mulanya Abu Bakar keberatan menerima usul Umar karena Nabi SAW tidak pernah melakukan hal serupa, namun atas desakan Umar usul itu pun disetujuinya. Abu Bakar lalu mempercayakan tugas pengumpulan itu kepada Zaid bin Sabit, penulis wahyu pada masa Rasulullah SAW.

Sebelum wafat, Abu Bakar memanggil beberapa orang sahabat besar untuk dimintai pendapatnya tentang rencana penunjukan khalifah yang akan menggantikannya. Umar merupakan calon tunggal Abu Bakar dan para sahabat dapat menyetujui pilihan Abu Bakar. Demikianlah tercatat dalam sejarah, pada tahun 13 H/634 M Umar dibaiat menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar. Dialah khalifah pertama dan satu-satunya yang mendapat gelar Amirulmukminin (Panglima Orang-Orang Beriman).

Sebagai khalifah, Umar dikenal sangat adil da­lam menjalankan pemerintahannya. la tidak membedakan antara tuan dan budak, kaya dan miskin, dan penguasa dan rakyat jelata. Semua mendapat perlakuan yang sama. Yang salah dihukum dan yang benar dibelanya. Banyak didapati riwayat yang disampaikan Anas bin Malik, bahwa suatu ketika ia sedang duduk bersama Umar. Lalu datang seorang penduduk Mesir mengadukan perihal kezaliman Amr bin As, gubernur Mesir. Dengan serta merta Umar mengirim surat kepada Amr bin As agar segera menghadap Umar di Madinah. Setelah Amr datang, ia pun diadili dan ternyata bersalah. Umar lalu menyuruh penduduk yang teraniaya itu membalas sesuai dengan perlakuan yang diterimanya.

Meskipun telah menjadi khalifah, Umar tetap dekat dengan rakyatnya. Diceritakan bahwa setiap malam ia pergi berkeliling mengamati keadaan rakyatnya. Ia khawatir kalau-kalau ada di antara mereka yang mengalami kesulitan seperti sakit atau kelaparan. Bila ditemukan, ia tidak segan memberikan bantuan langsung, bahkan sering dijumpai Umar mengangkat sendiri bahan makanan untuk orang-orang yang memerlukannya.

Umar juga sangat takut mengambil harta kaum muslimin tanpa alasan yang kuat. la berpakaian sangat sederhana, bahkan tidak pantas untuk dipakai oleh seorang pembesar seperti dia. Umar meneladani perilaku Rasulullah SAW dalam seluruh aspek kehidupannya. Prinsip hidup sederhana juga diterapkan Umar di lingkungan keluarganya. Istri dan anak-anaknya dilarang menerima pemberian dalam bentuk apa pun dari para pembesar maupun dari rakyatnya.

Di bidang pemerintahan, langkah pertama yang dilakukan Umar sebagai khalifah adalah meneruskan kebijaksanaan yang telah ditempuh Abu Bakar dalam perluasan wilayah Islam ke luar Semenanjung Arabia. Pada masanya terjadi ekspansi kekuasaan Islam secara besar-besaran sehingga periode ini lebih dikenal dengan nama periode Futuhat al-Islamiyyah (perluasan wilayah Islam). Berturut-turut pasukan Islam berhasil menduduki Suriah, Irak, Mesir, Palestina, dan Persia.

Di bidang administrasi pemerintahan, Umar berjasa membentuk Majelis Permusyawaratan, Anggota Dewan, dan memisahkan lembaga pengadilan. la juga membagi wilayah Islam ke dalam 8 propinsi yang membawahi beberapa distrik dan subdistrik. Kedelapan propinsi itu adalah Mekah, Madinah, Suriah, Jazirah, Kufah, Basra, Mesir, dan Palestina. Untuk masing-masing distrik itu, diangkat pegawai khusus selaku gubernur. Gaji mereka ditertibkan. Selain itu, administrasi perpajakan juga dibenahi.

Untuk kepentingan pertahanan, keamanan, dan ketertiban dalam masyarakt, didirikanlah lembaga kepolisian, korps militer dengan tentara terdaftar. Mereka digaji yang besarnya berbeda-beda sesuai dengan tugasnya. Dia juga mendirikan pos-pos militer di tempat-tempat strategis.

Umar melakukan pembenahan peradilan Islam. Dialah yang mula-mula meletakkan prinsip-prinsip peradilan dengan menyusun sebuah risalah yang kemudian dikirimkan kepada Abu Musa al-Asy’ari. Risalah itu disebut Dustur ‘Umar atau Risalah al-Qada’.

Dalam upaya meningkatkan mekanisme pemerintahan di daerah, Umar melengkapi gubernurnya dengan beberapa staf yang terdiri dari katib (sekretaris kepala), katib ad-Diwan (sekretaris pada sekretariat militer), sahib al-kharaj (pejabat per­pajakan), sahib al-ahdas (pejabat kepolisian), .sahib bait al-mal (pejabat keuangan), dan qadi (hakim dan pejabat jawatan keagamaan). Selain itu, ada staf yang langsung dikirim dari pusat.

Kebijaksanaan lain yang dilakukan Umar adalah mendaftar seluruh kekayaan pejabat yang akan dilantik. Ini ditempuh untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan wewenang dan tindakan korupsi.

Di kalangan fukaha (ahli fikih) ia dikenal sebagai sahabat yang berani melakukan ijtihad. Meskipun demikian, ia tetap menjunjung tinggi prinsip-prinsip musyawarah. Ijtihadnya mencakup berbagai masalah kehidupan, baik dalam bidang ibadah maupun bidang-bidang kemasyarakatan lainnya. Dalam bidang peribadatan, antara lain pendapatnya mengenai empat takbir dalam salat jenazah, penyelenggaraan salat tarawih berjemaah, penambahan kalimat as-salat khaiun  mim an-naum (salat lebih baik dari tidur) dalam azan subuh. Da­lam bidang kesejahteraan umat, di antara gagasannya adalah pemberian gaji bagi para imam dan muazin (tukang azan), pengadaan lampu penerangan dalam masjid-masjid, pengorganisasian khotbah-khotbah, pendirian baitulmal, penghapusan pembagian tanah rampasan perang (fay‘), pembangunan terusan dan kota-kota seperti Basra, Kufah, Fustat, dan Mosul, dan pembangunan sekolah-sekolah.

Dalam bidang hukum ijtihadnya adalah menge­nai pembagian harta warisan, perumusan prinsip kias, talak tiga, pendirian pengadilan-pengadilan, pengangkatan para hakim, pemakaian cambuk da­lam melaksanakan hukum badan, penetapan hukuman 80 kali dera bagi pemabuk, pemungutan zakat atas kuda yang diperdagangkan, dan larangan penyebutan nama-nama wanita dalam lirik syair. Penentuan kalender hijriah juga merupakan hasil ijtihad Umar yang diabadikan sampai sekarang.

Umar adalah profil seorang pemimpin yang sukses, mujtahid (ahli ijtihad) yang ulung, dan sahabat Rasulullah SAW yang sejati. Kesuksesannya dalam mengibarkan panji-panji Islam mengundang rasa iri dan dengki di hati musuh-musuhnya. Salah se­orang musuhnya, Abu Lu’lu’ah, telah mengakhiri hidupnya dengan cara yang amat tragis. la menikam Umar tatkala sedang bersiap-siap memulai salat subuh. Peristiwa ini mengakibatkan kematiannya. la wafat dalam usia 63 tahun setelah kurang lebih 10 tahun menggenggam amanat sebagai khaIifah.

About these ads

One thought on “UMAR BIN KHATTAB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s